Skip to content

IKHLAS(4)

January 5, 2010
tags:

F. RIYA DAN JENIS-JENISNYA ( Kitab Al Ikhlas Hal. 63-67 )

Di antara jenis riya’ ialah sebagi berikut.

1. Riya Yang Berkaitan Dengan Badan Misalnya dengan menampakkan kekurusan dan wajah pucat, agar penampakan ini, orang-orang yang melihatnya menilainya memiliki kesungguhan dan dominannya rasa takut terhadap akhirat. Dan yang mendekati penampilan seperti ini ialah dengan merendahkan suara, menjadikan dua matanya menjadi cekung, menampakkan keloyoan badan, untuk menampakkan bahwa ia rajin berpuasa.

2. Riya Dari Sisi Pakaian Misalnya, sengaja membuat bekas sujud pada wajah, mengenakan pakaian jenis tertentu yang biasa dikenakan oleh sekelompok orang yang masyarakat menilai mereka sebagai ulama, maka dia mengenakan pakaian itu agar dikatakan sebagai orang alim.

3. Riya Dengan Perkataan Umumnya, riya’ seperti ini dilakukan oleh orang-orang yang menjalankan agama. Yaitu dengan memberi nasihat, memberi peringatan, menghafalkan hadits-hadits dan riwayat-riwayat, dengan tujuan untuk berdiskusi dan melakukan perdebatan, menampakkan kelebihan ilmu, berdzikir dengan menggerakkan dua bibir di hadapan orang banyak, menampakkan kemarahan terhadap kemungkaran di hadapan manusia, membaca Al-Qur’an dengan merendahkan dan melembutkan suara. Semua itu untuk menunjukkan rasa takut, sedih, dan khusyu’ (kepada Allah, pent).

4. Riya’ Dengan Perbuatan Seperti riya’nya seseorang yang shalat dengan berdiri sedemikian lama, memanjangkan ruku, sujud dan menampakkan kekhusyu’an, riya’ dengan memperlihatkan puasa, perang (jihad), haji, shadaqah dan semacamnya.

5. Riya’ Dengan Kawan-Kawan Dan Tamu-Tamu. Seperti orang yang memberatkan dirinya meminta kunjungan seorang alim (ahli ilmu) atau ‘abid (ahli ibadah ), agar dikatakan “sesungguhnya si Fulan telah mengunjungi si Fulan”. Atau juga  mengundang orang banyak untuk mengunjunginya, agar dikatakan “sesungguhnya orang-orang baragama sering mendatanginya”.

G. BEBERAPA PERKARA YANG TIDAK TERMASUK RIYA’

Ada beberapa perkara yang disangka oleh sebagian orang sebagai perbuatan riya’, namun sesungguhnya bukanlah demikian. Perkara tersebut diantaranya :

1. Pujian manusia atas seorang hamba atas amal baik yang ia lakukan tetapi bukan tujuannya untuk dipuji. Apabila seseorang mengamalkan suatu perbuatan dengan ikhlas dan sampai selesai amal itu pun dilakukan dengan ikhlas, kemudian ada yang mengetahui amal itu lalu memujinya, namun ia tidak menghendaki yang demikian itu, maka hal itu tidak termasuk riya’. Seperti dalam hadits Abu Dzar -Rodliallohu anhu- . Dari Abu Dzar ia berkata,” Ya Rosululloh, bagaimana pendapat engkau tentang seseorang yang mengerjakan satu amal kebaikan, lalu orang memujinya? Beliau menjawab,’ itu merupakan kabar gembira bagi orang mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia.”(H.R. Muslim 2642, Ibnu Majah dan Ahmad). Namun ia tidak berlaku ujub dan tidak pula sengaja agar orang tahu kebaikannya.

2. Giatnya seorang hamba dalam berbuat kebaikan ketika ada orang yang melihatnya dan ketika menemani orang-orang yang ikhlas dan orang shalih. (Ibnu Qodamah menjelaskan dalam kitabnya Mukhtashor Minhajul Qoshidin hal 288,) Adakalnya seseorang berada di tengah orang-orang yang tekun beibadah. Ia melakukan sholat hampir sebagian besar malam karena kebiasaan mereka adalah bangun malam. Dia pun mengikuti mereka melaksanakan sholat dan puasa. Andai kata mereka tidak melaksanakan sholat malam, maka ia pun tidak tergugah untuk melakukan kegiatan itu. Mungkin orang ada yang menganggap bahwa kegiatan orang itu termasuk riya’, padahal tidak demikian sebenarnya, bahkan hal itu perlu dirinci. Setiap orang mukmin tentunya ingin banyak beribadah kepada Allah, namun terkadang ada satu dua hal yang menghambat atau yang melalaikannya. Maka boleh jadi dengan melihat orang lain yang aktif dalam melakukan kegiatan ibadah membuatnya mampu menyingkirkan hambatan dan kelalaian itu. Bila seseorang berada dirumahnya, lebih mudah baginya untuk tidur diatas kasur yang empuk. tetapi bila ia berada di tempat yang jauh, ia tidak disibukkan dengan hal-hal itu. Kemudian ada beberapa factor pendorong yang membangkitkannya untuk berbuat kebaikan diantaranya keberadaannya di tengah orang lain yang beribadah atau disaksikan oleh mereka. Boleh jadi seseorang merasa berat untuk berpuasa di rumah, karena didalamnya banyak makanan. Dalam keadaan seperti ini syetan terus menggodanya untuk menghalanginya dari ketaatan sambil berkata,” Jika engkau berbuat di luar kebiasannmu, berarti engkau adalah orang yang berbuat riya’.” maka dia tidak boleh memperdulikan bisikan syaithon ini. Dia harus melihat pada tujuan batinnya dan jangan sekali-kali ia menuruti bisikan syetan.

3. Membaguskan dan Memperindah pakaian, sandal dan semacamnya Di dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi”. Seorang laki-laki bertanya : “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan ?”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan dan kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” (H.R. Muslim no. 2749 )

4. Tidak menceritakan dosa-dosanya dan menyembunyikan Ini merupakan kewajiban menurut syari’at atas setiap muslim, tidak boleh menceritakan kemaksiatankemaksiatan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Semua umatku akan diampuni (atau : tidak boleh dighibah) kecuali orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan, yaitu seseorang yang melakukan perbuatan (kemaksiatan) pada waktu malam dan Allah telah menutupinya (yakni, tidak ada orang yang mengetahuinya, Pent), lalu ketika pagi dia mengatakan : “Hai Fulan, kemarin aku melakukan ini dan itu”, padahal pada waktu malam Allah telah menutupinya, namun ketika masuk waktu pagi dia membuka tirai Allah terhadapnya” (H.R. Al-Bukhari, no. 6069, Muslim no. 2990 ) Menceritakan dosa-dosa memiliki banyak kerusakan, di antaranya, mendorong seseorang untuk berbuat maksiat di tengah-tengah hamba dan menyepelekan perintah-perintah Allah Ta’ala. Barangsiapa menyangka bahwa menyembunyikan dosa-dosa merupakan riya’ dan menceritakan dosa-dosa merupakan keikhlasan, maka orang itu telah dirancukan oleh setan. Kita berlindung kepada Allah darinya.

5. Menampakkan Syi’ar-syi’ar agama Islam. Didalam Islam ada beberapa ibadah yang tidak mungkin disembunyikan dalam pelaksanaanya, seperti haji, umroh, sholat jumat, sholat jama’ah yang lima waktu dan lainnya. Seorang muslim tidak dikatakan berbuat riya’ bila ia menampakkan amal-amal ini. Karena termasuk hal amal-amal yang wajib yaitu ditampakkan dan dimasyurkan serta melakukannya adalah termasuk syiar-syiar agama Islam. Orang yang meninggalkannya akan terkena celaan dan kutukan. Jika amal sunnah hendaknya disembunyikan karena tidak tercela bagi seseorang untuk meninggalkannya. namun jika ia menampakkan amal itu dengan tujuan supaya orang lain mengikuti sunnah tersebut, maka hal ini adalah baik. Sesungguhnya riya’ itu apabila tujuannya menampakkan amal tersebut supaya dilihat, dipuji dan disanjung manusia.

6. Seorang Hamba Yang Meraih Ketenaran Dengan Tanpa Mencarinya Al-Maqdisi berkata : “ Yang tercela, ialah seseorang mencari ketenaran. Adapun adanya ketenaran dari sisi Allah Ta’ala tanpa usaha menusia untuk mencarinya, maka demikian itu tidak tercela. Namun adanya ketenaran itu merupakan cobaan bagi orang-orang yang lemah (imannya). ( Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal : 218)

Download Buletin disini

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: