Skip to content

Para Sahabat Nabi Muhammad SAW Keutamaan, Derajat dan Kedudukannya (4)

November 26, 2009

XIV. Berhati-hati Terhadap Rafidhah dan Nashibah

Ahlus Sunnah berlepas diri dari dua kelompok ini. Rafidhah adalah kelompok yang bersikap berlebih-lebihan pada Ali bin Abu Thalib dan ahlu bait. Mereka disebut Rafidhah karena mereka rafadhu (menolak) pendapat Ali bin al- Husain bin Ali bin Abu Thalib ketika mereka bertanya kepadanya tentang Abu Bakar ash Shidiq dan Umar bin Khattab, maka Ali bin al-Husain memuji keduanya dan berkata, “Mereka berdua adalah pendukung kakekku.”

Adapun Nashibah maka mereka adalah orang-orang nashabu (menegakkan) permusuhan kepada ahlu bait, menghina dan mencaci maki. Mereka ini adalah lawan Rafidhah.

Rafidhah menyerang sahabat dengan hati dan lisan. Hati mereka membenci dan memusuhi sahabat kecuali orang-orang yang menjadi perantara mereka untuk meraih ambisi mereka dan mereka pun bersikap berlebih-lebihan pada orang-orang tersebut ( para Ahlul Bait )

Lisan mereka melaknat dan mencaci sahabat. mereka berkata : Para sahabat adalah orang-orang zhalim. Mereka berkata : Mereka murtad setelah Nabi kecuali sedikit dari mereka, dan masih banyak lagi kata-kata buruk mereka terhadap para sahabat.

Adapun Nawashib maka mereka menghadapi bid’ah dengan bid’ah, ketika mereka melihat Rafidhah bersikap berlebih-lebihan terhadap ahli bait maka mereka berkata, “Kalau begitu kita memusuhi dan mencela ahli bait.” Hal itu sebagai reaksi terhadap Rafidhah yang berlebih-lebihan dalam mencintai dan memuji ahli bait. Sikap pertengahan selalu menjadi yang terbaik, merespon bid’ah dengan bid’ah hanya menguatkan bid’ah itu sendiri, yang benar adalah menghadapi bid’ah dengan sunnah.

XV. AhlusSunnahdan Perselisihan di antara Sahabat

Setelah Usman terbunuh terjadi di antara para sahabat fitnah besar sampai terjadi peperangan. Fitnah itu benar-benar terjadi – tanpa ragu – karena takwil dan ijtihad, masing-masing pihak mengira benar.

Namun keyakinan mereka bahwa mereka benar tidak berarti bahwa mereka memang benar. Akan tetapi kalau mereka salah, kita mengetahui bahwa mereka tidak melakukan hal ini kecuali berdasarkan kepada ijtihad dari ilmu mereka, yang mana ilmu mereka sudah sampai kepada derajat Mujtahid. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Jika seorang hakim menetapkan hokum lalu dia berijtihad dan benar maka dia memperoleh dua pahala. Jika dia menetapkan hukum lalu berijtihad dan salah maka dia memperoleh satu pahala.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Adapun sikap Ahlus Sunnah kepada pelaku maka mereka menahan diri dari apa yang diperselisihkan oleh para sahabat. Ada beberapa riwayat tentang keburukan sahabat-sahabat yang terlibat dalam fitnah, namun banyak antaranya yang merupakan dusta murni.

Ini banyak sekali ditemukan dalam riwayat Nawashib tentang ahli bait dan riwayat Rafidhah tentang selain ahli bait. Ada kemungkinan riwayat tersebut memiliki asal usul hanya saja ia telah ditambah atau dikurangi atau dibelokkan dari aslinya. Kedua bagian ini wajib ditolak.

Ada riwayat shahih, namun mereka harus dimaklumi pada yang shahih darinya karena bisa jadi mereka adalah orang-orang yang berijtihad lalu benar atau orang-orang yang berijtihad lalu salah.

Para sahabat sama dengan manusia yang lain hanya saja mereka memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain yaitu kebaikankebaikan dan keutamaan-keutamaan yang tidak bisa ditandingi oleh seorang pun sesudahnya, mereka menolong Nabi, berjihad dengan harta dan jiwa, mengorbankan leher mereka untuk menjunjung kalimat Allah, ini menyebabkan ampunan untuk apa yang mereka lakukan meskipun ia termasuk dosa besar selama tidak sampai pada tingkat kekufuran.

Salah satunya adalah kisah Hathib bin Abu Balta’ah ketika Rasulullah SAW mengutusnya untuk memberi kabar tentang keberangkatan Rasulullah SAW ke Makkah, tetapi dia belum menyampaikannya sampai Allah memberitahu Rasulullah SAW, tentang itu, maka Umar meminta izin kepada Rasulullah SAW, untuk memancungnya, Rasulullah SAW, bersabda, “Dia berperan serta dalam perang Badar. Seperti yang kita ketahui Allah Ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi tentang Ahli Badar ‘Lakukanlah apa yang kalian suka karena Aku telah menganpuni kalian’.” diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim

Ibnu Taimiyah berkata, “Kalaupun salah seorang dari mereka melakukan dosa maka yang bersangkutan telah bertaubat darinya, atau mereka melakukan kebaikan-kebaikan maka kebaikan itu menghapus dosanya, atau dosa tersebut diampuni oleh Allah berkat kebaikan-kebaikan masa lalu, atau mereka mendapatkan syafaat Rasulullah SAW di mana mereka adalah orangorang yang paling berhak atasnya, atau dosa tersebut terhapus karena ujian dunia yang menimpa mereka.”

Ibnu Taimiyah juga berkata, “Kadar yang diingkari dari perbuatan para sahabat sangatlah sedikit dibandingkan dengan kebaikan dan keutamaan mereka.”

Apabila kamu melihat dengan bashirah serta sikap obyektif pada kebaikan mereka dan keutamaan yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka niscaya kamu meyakini bahwa mereka adalah orang-orang terbaik setelah Rasulullah SAW, mereka lebih baik daripada Hawariyin sahabat Nabi Isa, mereka lebih baik daripada orang-orang terpilih dari sahabat Nabi Musa dan lebih baik daripada orang-orang yang beriman kepada Nabi Nuh, Hud Nabi dan lainlain.

Tidak ada seorang pun dari pengikut para Nabi yang lebih baik daripada sahabat. Perkara ini adalah perkara yang maklum lagi jelas berdasarkan firman Allah Ta’ala “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (Ali Imran: 110).

Orang-orang terbaik dari kita adalah sahabat, karena orang terbaik adalah Rasulullah SAW, maka sahabatnya adalah sahabat terbaik.

Ini menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, lain urusannya menurut Rafidhah, kalau menurut mereka para sahabat adalah orang-orang terburuk kecuali beberapa orang yang mereka kecualikan. dari Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah, Syaikh Ibnu Utsaimin.

KESIMPULAN :

Ahlus Sunnah ridha dengan seluruh sahabat dan wajib mengikuti jejak mereka, mereka itu semuanya ‘uduul’ ( jama’ dari Adil lawan dari Dhalim ) dan tidak berkomentar tentang mereka selain yang baik-baik.

Mencintai mereka itu hukumnya wajib dan membenci mereka itu merupakan kemunafikan.

Ahlus Sunnah juga menahan diri terhadap apa-apa yang mereka pertikaikan di antara mereka, yang dalam hal itu mereka melakukan ijtihad dan mereka adalah sebaik-baik generasi. Allah ta’ala berfirman:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisâ : 115).

“Orang-orang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orangorang muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka jannahjannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah : 100).

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: