Skip to content

Para Sahabat Nabi Muhammad SAW Keutamaan, Derajat dan Kedudukannya(2)

October 26, 2009

VI. Antara Muhajirin dan Anshar

Ahlus Sunnah wal Jamaah mendahulukan Muhajirin di atas Anshar karena yang pertama menggabungkan antara hijrah dan nusroh (mendukung) sementara yang kedua hanya nusroh saja.

Muhajirin meninggalkan keluarga dan harta mereka serta tanah kelahiran mereka, mereka pindah ke bumi yang asing, semua itu adalah hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya demi menolong Allah dan Rasul-Nya.

Anshar, Nabi saw mendatangi mereka di negeri mereka, mereka menolong Nabi SAW, tanpa ragu mereka melindungi Nabi SAW seperti mereka melindungi istri dan anak-anak mereka.

Dalil didahulukannya Muhajirin adalah firman Allah, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” (At-Taubah: 100). Ayat ini menyebut Muhajirin sebelum Anshar.

Firman Allah, “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar.” (At-Taubah: 117). Ayat ini mendahulukan Muhajirin.

VII.Derajat Ahli Badar

Derajat ahli Badar adalah derajat sahabat tertinggi. Badar adalah tempat yang dikenal terjadi padanya perang yang masyhur yang terjadi di Ramadhan tahun dua hijriyah, harinya diberi nama oleh Allah dengan Yaumul Furqan.

Penyebabnya adalah Nabi mendengar Abu Sufyan kembali dari Syam ke Makkah dengan rombongan dagangnya maka Nabi mengajak sahabat-sahabat untuk menghadang kafilah dagang tersebut. Ajakan Nabi ini disambut oleh tiga ratus ditambah belasan orang dengan tujuh puluh ekor unta dan dua ekor kuda. Mereka berangkat dari Madinah dengan maksud menghadang kafilah dagang akan tetapi Allah mempertemukan mereka dengan musuh mereka dengan hikmah-Nya.

Ketika hal itu didengar oleh Abu Sufyan, bahwa Nabi berangkat untuk menghadang kafilah dagangnya, maka Abu Sufyan mengambil jalan menyusuri pantai dan mengirimkan utusan kepada penduduk Makkah memohon bantuan, maka penduduk Makkah bresiap-siap, tidak ketinggalan para pembesar, pemimpin dan orang-orang terhormat, mereka berangkat dalam keadaan seperti yang dijelaskan oleh Allah, “Dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah.” (Al-Anfal: 47).

Di tengah perjalanan mereka mendapatkan berita baru dari Abu Sufyan bahwa kafilah dagangnya telah selamat maka mereka pun berniat untuk kembali ke Makkah hanya saja Abu Jahal berkata, “Demi Allah kita tidak pulang sebelum tiba di Badar, di sana kita singgah, menyembelih unta, minum khamr, mendengar suara penyanyi. Lalu orang-orang Arab mendengar apa yang kita lakukan dan mereka akan selalu merasa takut kepada kita.”

Ucapan yang menunjukkan keangkuhan, kesombongan dan kepercayaan diri yang tinggi, akan tetapi – alhamdulillah – perkaranya terjadi sebaliknya dari apa yang dikatakannya, orang- orang Arab mendengar kekalahan mereka yang sangat menyakitkan. Akibatnya harga mereka merosot tajam di mata orang-orang Arab.

Terjadilah perang antara dua kubu, -alhamdulillah- kekalahan berpihak kepada orang-orang musyrik dan kemenangan berpihak kepada orang-orang Mukmin. Mereka membunuh tujuh puluh orang musyrik dan menawan tujuh puluh dari mereka, di antara yang terbunuh tersebut ada dua puluh empat orang dari pembesar dan tokoh Makkah. Mereka diseret dan dilemparkan ke sumur busuk lagi buruk di Badar.

Sahabat-sahabat yang hadir dan ikut dalam perang ini  memiliki kedudukan khusus di sisi Allah setelah kemenangan tersebut, Allah melihat mereka dan berfirman (dalam hadist qudsi ) “Lakukan apa yang kalian mau lakukan karena Aku telah mengampuni kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dosa apapun yang terjadi dari mereka diampuni untuk mereka karena kebaikan besar yang Allah berikan melalui tangan mereka. Hadits ini menunjukkan bahwa dosa apapun yang terjadi dari mereka diampuni. Ia mengandung berita gembira bahwa mereka tidak mati di atas kekufuran karena mereka diampuni, ini menuntut satu dari dua perkara: Bahwa mereka tidak mungkin kafir setelah itu atau kalaupun salah satu dari mereka ditakdirkan kafir maka dia akan diberi taufik untuk taubat dan kembali kepada Islam. Apapun, ini adalah berita gembira besar bagi mereka dan kita tidak mengetahui seorang pun yang kafir setelah itu.

VIII. Keutamaan Baiat Ridhwan

Allah Taala berfirman tentang sahabat yang membaiat dalam Baiat Ridhwan, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Fath: 18-19).

Allah mensifati mereka dengan iman, ini adalah rekomendasi dari Allah bahwa sahabat yang membaiat di bawah pohon adalah Mukmin yang diridhai dan Nabi sendiri telah bersabda, “Tidak masuk Neraka seseorang yang membaiat di bawah pohon.” Diriwayatkan oleh Bukhari.

Keridhaan ditetapkan oleh al-Qur’an dan keselamatan dari Neraka ditetapkan oleh Sunnah. Inilah keutamaan para sahabat yang hadir di Baiat Ridwan tersebut. Penyebab baiat ini adalah Nabi pergi ke Makkah hendak umrah, Beliau membawa hadyu dan diiringi sahabat-sahabatnya yang berjumlah seribu empat ratus orang, mereka hanya ingin umrah. Ketika mereka tiba di Hudaibiyah sebuah tempat dekat Makkah, ( sekarang daerah itu berada di jalan menuju Jeddah, sebagian daerahnya masuk ke dalam daerah Haram) orang-orang Makkah menghalang-halangi Rasulullah dan sahabatsahabatnya karena mereka merasa sebagai tuan rumah dan pelindung Ka’bah, Terjadilah antara mereka dengan Nabi negosiasi.

Allah Ta’ala berfirman, “Kenapa Allah tidak mengadzab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram, dan mereka bukanlah orangorang yang berhak menguasainya? Orangorang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Anfal: 34).

Di peristiwa ini Allah menunjukkan kepada Nabi-Nya sebagian tanda-tanda kekuasaan-Nya yang menjadi hikmah bahwa akan lebih baik jika Rasulullah dan para sahabat mengalah karena ia mengandung kebaikan dan kemaslahatan, tanda tersebut adalah berhentinya unta Rasulullah, ia menolak untuk berjalan sampai mereka berkata, “Qaswa’ (nama unta yang dinaiki oleh Rasulullah ) menolak untuk berjalan.” Nabi membelanya, “Demi Allah, Qaswa’ tidak menolak berjalan, itu bukan tabiatnya akan tetapi ia dihentikan oleh yang menghentikan gajah.” Kemudian Nabi bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka tidak memintaku suatu syarat di mana dengannya mereka mengagungkan batasanbatasan Allah, niscaya aku akan berikan kepada mereka.” Diriwayatkan oleh Bukhari.

Terjadilah proses negosiasi, Rasulullah mengirim Usman bin Affan untuk bernegosiasi, karena dia memiliki kerabat di Makkah yang melindunginya. Nabi mengutusnya ke Makkah untuk mengajak mereka masuk Islam dan menyampaikan bahwa Nabi hanya datang untuk umrah dan mengunjungi Ka’bah dan mengagungkan Allah Ta’ala. kemudian muncul isu bahwa Usman dibunuh. Hal itu membuat kaum muslimin bersedih, maka Rasulullah mengundang para sahabat untuk berbaiat. Rasulullah membaiat mereka untuk siap berperang melawan penduduk Makkah yang telah membunuh utusan Rasulullah (karena memang utusan itu tidak boleh dibunuh), maka sahabat membaiat Rasulullah untuk berperang dan tidak berlari dari kematian.

IX. Kesaksian Surga Bagi Para Sahabat

Kepastian Surga ada dua macam : Berkait dengan sifat dan berkait dengan pribadi.

Pertama adalah kesaksian kepada setiap Mukmin bahwa dia di Surga, setiap orang yang bertakwa di Surga tanpa menentukan pribadi tertentu. Ini adalah kesaksian umum yang wajib kita lakukan karena Allah telah menyatakan demikian, firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, bagi mereka Surga-Surga yang penuh kenikmatan, kekal mereka di dalamnya; sebagai janji Allah yang benar.” (Luqman: 8-9).

Kedua kesaksian yang berkait dengan pribadi tertentu. Seperti kita bersaksi bahwa fulan di Surga atau jumlah tertentu di Surga maka ini adalah kesaksian khusus, kita bersaksi bagi siapa pun di mana Rasulullah bersaksi untuknya baik itu untuk satu orang atau untuk orang-orang tertentu.

Contohnya adalah sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk Surga, mereka dijuluki demikian karena Nabi menyebutkan nama-nama mereka dalam satu hadits. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Said bin Zaid, Saad bin Abu Waqqash, Abdur Rahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidullah, az-Zubair bin al-Awwam, Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah.

Mereka itulah orang-orang yang diberi berita gembira oleh Rasulullah dalam satu hadits, Beliau bersabda, “Abu Bakar di Surga, Umar di Surga …” Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at- Tirmidzi dan Ahmad. Oleh karena itu mereka dikenal dengan sepuluh orang yang dijamin Surga, kita wajib bersaksi bahwa mereka di Surga berdasarkan kesaksian Nabi.

Di antara sahabat yang dijamin surga adalah Tsabit bin Qais adalah khatib ( Sekretaris ) Nabi, dia bersuara lantang, ketika ayat ini turun, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2). Tsabit bin Qais sangat gelisah dan ketakutan.Kemudian dia menghindar dan bersembunyi, sampai Rasulullah mengutus sahabat untuk mencari tahu tentang alasannya bersembunyi. Tsabit berkata, “Allah telah menurunkan ayat, -Dia membaca ayat di atas- Aku adalah orang yang mengangkat suara di atas suara Nabi, amalku terhapus, aku termasuk penghuni Neraka.” Laki-laki tersebut kembali kepada Nabi dan menyampaikan apa yang dikatakan Tsabit. Maka Nabi bersabda, “Kembalilah kepadanya, katakan kepadanya, ‘Kamu bukan termasuk penghuni Neraka akan tetapi kamu di Surga.” Diriwayatkan oleh Bukhari. Termasuk sahabat yang dijamin surga adalah Ummahatul Mukminin karena mereka dalam derajat Rasulullah, di antara mereka adalah Bilal, Abdullah bin Salam, Ukasyah bin Mihshan dan Saad bin Muadz.

* dari Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah, Syaikh Ibnu Utsaimin *

About these ads
One Comment leave one →
  1. November 13, 2009 4:44 pm

    Salam pengenalan dari saya di Malaysia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: