Skip to content

UTSULUTS TSALATSAH ( MENGENAL ALLAH ‘AZZA WA JALLA )

October 7, 2009

Apabila anda ditanya: Siapakah Tuhanmu? Maka katakanlah: Tuhanku adalah Allah, yang memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni’mat yang dikurniakan-Nya. Dan dialah sembahanku, tiada sesembahan yang haq selain Dia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Artinya: “Segala puji hanya milik Allah Tuhan Pemelihara semesta alam. “ (Al-Faatihah: 1)

Semua yang ada selain Allah disebut Alam, dan aku (penulis) adalah salah satu dari semesta alam ini. Selanjutnya jika anda ditanya: Melalui apa anda mengenal Tuhan? Maka hendaklah anda jawab: Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah: malam, siang, matahari dan bulan. Sedang di antara ciptaan-Nya ialah: tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala mahluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya.

Firman Allah Ta’ala : Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah (pula kamu bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu benarbenar hanya kepada-Nya beribadah.” (Fushshilat: 37)

Dan firman-Nya: Artinya: “Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, sentiasa mengikutinya dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta intang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam. “ (Al-A’raaf: 54)


Tuhan inilah yang haq disembah. Dalilnya, firman Allah Ta’ala : Artinya: “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orangorang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, (Tuhan) yang telah menjadikan untukmu bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, serta menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 22)

Ibnu Katsir[4] Rahimahullah Ta’ala, mengatakan: “Hanya Pencipta segala sesuatu yang ada inilah yang berhak disembah dengan segala macam ibadah.” [Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, (Cairo, Maktabah Dar At-Turats, 1400H) jilid. 1 hal. 57.]

Dan macam-macam ibadah yang diperintah Allah itu, antara lain: Islam (Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji), Iman, Ihsan, Do’a, Khauf (takut), Raja’ (pengharapan), Tawakkal, Raghbah (penuh harap), Rahbah (cemas), Khusyu’ (tunduk), Khasyyah (takut), Inabah (kembali kepada Allah), Isti’anah (memohon pertolongan), Isti’adzah (meminta perlindungan), Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), Dzabh (penyembelihan) Nadzar dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : Artinya: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Al-Jinn: 18)

Karena itu barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka dia adalah musyrik dan kafir. Firman Allah Ta’ala: Artinya : “Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu, maka benar-benar balasannya ada pada tuhannya. Sungguh tiada beruntung orang-orang kafir itu.” (Al-Mu’minuun: 117)

Dalil-dalil macam Ibadah:

1. Dalil Do’a

“Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina-dina.” (Ghaafir: 60) “Do’a itu adalah intisari ibadah.” ( Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami’ Ash- Shahiih, kitab Ad-Da’waat, bab 1. “Maksud hadits ini adalah bahwa segala macam ibadah, baik yang umum maupun yang khusus, yang dilakukan seorang mu’min, seperti mencari nafkah yang halal untuk keluarga, menyantuni anak yatim dll, semestinya diiringi dengan permohonan redha Allah dan pengharapan balasan ukhrawi. Oleh karena itu Do’a (permohonan dan pengharapan tersebut) disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sari atau otak ibadah, karena sentiasa harus mengiringi gerak ibadah.”)

2. Dalil Khauf (takut)

“Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali ‘Imran: 175)

3. Dalil Raja’ (pengharapan)

“Untuk itu barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhanya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)

4. Dalil Tawakkal (berserah diri)

“Dan hanya kepada Allah-lah supaya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Al-Maa’idah: 23) “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang akan mencukupinya.” (Ath-Thalaaq: 3)

5. Dalil Raghbah (penuh minat), Rahbah (cemas) dan Khusyu’ (tunduk)

“Sesungguhnya mereka itu sentiasa berlomba-lomba dalam (mengerjakan) kebaikankebaikan serta mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh minat (kepada rahmat Kami) dan cemas (akan siksa Kami), sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami.” (Al- Anbiyaa: 90)

6. Dalil Khasy-yah (takut)

“Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” ( Al- Baqarah: 150)

7. Dalil Inabah (kembali kepada Allah)

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu serta berserah dirilah kepada-Nya (dengan mentaati perintah-Nya), sebelum datang adzab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat tertolong (lagi).” (Az-Zumar: 54)

8. Dalil Isti’anah (memohon pertolongan)

“Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.” (Al-Faatihah: 4) “Apabila kamu memohon pertolongan, maka memohonlah pertolongan kepada Allah.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami’ ‘Ash-Shahiih, kitab Shifaat Al-Qiyaamah wa Ar-Raqa’iq wa Al-Wara: bab 59 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad. Beirut Al-maktab Al-Islami 1403H jilid 1 hal. 293, 303, 307)

9. Dalil Isti’adzah (meminta perlindungan)

“Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan yang Menguasai subuh.” (Al-Falaq: 1) “Katakanlah Aku berlindung kepada Tuhan manusia.Penguasa manusia” (An-Naas:1-2)

10. Dalil Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan)

“(Ingatlah) tatkala kamu meminta pertolongan kepada Tuhanmu untuk dimenangkan (atas kaum musyrikin), lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (Al-Anfaal: 9)

11. Dalil Dzabh (penyembelihan)

“Katakanlah. Sesungguhnya shalatkku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sesuatu-pun sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri (kepada- Nya).” (Al-An’am: 162-163) “Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) bukan karena Allah.” (Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al-Adhaahi, bab 8 dan riwayat Imam Ahmad dalam Al- Musnad, jilid 1, hal. 108, 118 dan 152)

12. Dalil Nadzar

“Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksanya merata di mana-mana.” (Al-Insaan: 7)

Penulis :

Syaikh Muhammad bin’Abdul Wahab

Syaikh Muhammad At Tamimi

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: