Skip to content

HARUSKAH BELAJAR ILMU SYAR’I ?

September 9, 2009

Tujuan Penciptaaan makhluk/ Inti dakwah Rasul

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwasanya Allah menciptakan alam semesta ini bukanlah karena sia-sia atau sekedar main-main, akan tetapi Allah menciptakan alam semesta ini dengan tujuan yang pasti yakni untuk menguji siapa diantara hamba-Nya yang pantas untuk memasuki surga yang penuh kenikmatan dan siapa diantara hamba-Nya yang pantas untuk disiksa di neraka. Allah berfirman

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mu’minun:115)

Allah Azza wa Jalla juga berfirman

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.” (Al-Anbiyaa:16)

Kemudian Allah menjelaskan tujuan penciptaan kehidupan ini

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al-Mulk:1-2)

Fudhail bin ‘Iyad r.a menjelaskan bahwa yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah Ta’ala melalui Rasul-Nya, Muhammad SAW )

Perhatikanlah wahai saudaraku, Allah Azza wa Jalla tidak mengatakan yang paling banyak amalnya! akan tetapi yang paling baik amalnya, sehingga dalam beramal perlu ilmu karena amalan tanpa didasari dengan ilmu itu tidak diterima, selain itu beramal perlu keikhlasan, hanya karena Allah saja. Allah juga menjelaskan bahwa tujuan penciptaan adalah untuk beribadah kepada-Nya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.(Adz-Dzariaat: 56)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah r.a berkata “Makna ibadah adalah taat kepada Allah Azza wa Jalla dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan-Nya melalui lisan-lisan para rasul”

Beliau menjelaskan lagi bahwa “Ibadah adalah hal yang mencakup segala perkataan dan perbuatan, baik yang lahir maupun yang bathin yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla. Azza wa Jalla

Allah mengirim utusan yang harus ditaati

Allah tidak membiarkan begitu saja makhluk yang telah diciptakan-Nya, bahkan membimbing mereka dengan diutusnya para rasul yang bertugas untuk menunjukkan jalan kebaikan dan memperingatkan dari jalanjalan keburukan.

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (Faathir: 24)

Taat kepada Rasul berarti juga taat kepada Allah Azza wa Jalla

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Ali-Imran: 31)

Rasulullah shalallahu wa’alaihi wa sallam bersabda

“Semua umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan”. Para Sahabat bertanya “Ya Rasulullah, siapa yang enggan tersebut?” Beliau menjawab “Barangsiapa yang taat kepadaku, niscaya akan masuk surga dan barang siapayang mendurhakaiku maka dialah yang telah enggan masuk surga” (HR. Bukhari)

Adakah jalan selain dengan mempelajari Al-Quran dan Hadits, kita dapat memahami apa-apa yang diperintahkan dan dilarang?

Paham tidaknya seseorang tentang Islam merupakan salah satu tanda keselamatan seseorang, dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu wa’alaihi wa sallam bersabda

Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya pandai dalam agamanya (HR. Bukhari dan Muslim)

Apakah kebaikan di dunia itu? Kebaikan di dunia adalah ilmu dan amal shalih. Adapun kebaikan di akhirat adalah surga.

Rasulullah shalallahu wa’alaihi wa sallam menegaskan bahwa amalan yang tidak dicontohkan tidak akan diterima sebagaimana sabdanya

“Barangsiapa yang beramal tanpa ada perintahnya, maka amalan tersebut tidak diterima” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, menuntut ilmu syar’i menjadi kewajiban setiap muslim, yakni ilmu yang apabila seseorang tersebut tidak mengetahuinya dapat terjatuh dalam pelanggaran aturan Allah, apakah berupa melakukan keharaman yang seharusnya dia tinggalkan atau berupa meninggalkan kewajiban yang seharusnya dia laksanakan, yakni ilmu tentang tauhid, aqidah, shalat, wudhu, puasa dan lain sebagainya.

Referensi

1. Syarh Tsalatsatil Ushul, Syaikh Utsaimin

2. Kitabul Ilmi, Syaikh Utsaimin

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: