Skip to content

Tauhid Asma’Wa Sifat

September 2, 2009

A. Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat

Yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam menurut apa yang pantas bagi Allah Subhannahu wa Ta’ala, tanpa ta’wil dan ta’thil, tanpa takyif, dan tamtsil, berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala :

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Allah menafikan jika ada sesuatu yang menyerupai-Nya, dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diriNya dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh Rasul- Nya. Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada sesudah Allah orang yang lebih mengetahui Allah daripada Rasul- Nya.

Maka barangsiapa yang mengingkari nama-nama Allah dan sifatsifat- Nya atau menamakan Allah dan menyifati-Nya dengan namanama dan sifat-sifat makhluk-Nya, atau men-ta’wil-kan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)

B. Manhaj salaf (para sahabat, tabi’in dan ulama pada kurun waktu yang diutamakan) dalam hal asma’ dan sifat allah.

Yaitu mengimani dan menetapkannya sebagaimana ia datang tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan/meniadakan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil/tasybih (menyerupakan), dan hal itu termasuk pengertian beriman kepada Allah Ta’ala.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata:

“Kemudian ucapan yang menyeluruh dalam semua bab ini adalah hendaknya Allah itu disifati dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya, dan dengan apa yang disifatkan oleh As-Sabiqun Al-Awwalun (para generasi pertama), serta tidak melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits .

Imam Ahmad Rahimahullah berkata :

“Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati olehNya untuk Diri-Nya atau apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya, serta tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Madzhab salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk Diri-Nya dan dengan apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya, tanpa tahrif dan ta’thil, takyif dan tamtsil. Kita mengetahui bahwa apa yang Allah sifatkan untuk Diri- Nya adalah haq (benar), tidak mengandung teka-teki dan tidak untuk ditebak.

Maknanya sudah dimengerti, sebagaimana maksud orang yang berbicara juga dimengerti dari pembicaraannya. Apalagi jika yang berbicara itu adalah Rasulullah, manusia yang paling mengerti dengan apa yang dia katakan, yang paling fasih dalam menjelaskan ilmu, dan yang paling baik serta mengerti dalam menjelaskan atau memberi petunjuk. Dan sekali pun demikian tidaklah ada sesuatu pun yang menyerupai Allah. Tidak dalam Diri (Dzat)Nya Yang Mahasuci yang disebut dalam asma’ dan sifat- Nya, juga tidak dalam perbuatan- Nya.

Sebagaimana yang kita yakini bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala mempunyai Dzat, juga af’al (perbuatan), maka begitu pula Dia benar-benar mempunyai sifatsifat, tetapi tidak ada satu pun yang menyamaiNya, juga tidak dalam perbuatanNya. Setiap yang mengharuskan adanya kekurangan dan huduts (hal-hal negative/ kejelekan yang menjadi sifat makhluk ) maka Allah Subhannahu wa Ta’ala benarbenar bebas dan Maha Suci dari hal tersebut.

Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah yang memiliki kesempurnaan yang paripurna, tidak ada batas di atas-Nya. Dan mustahil baginya mengalami huduts, karena mustahil bagi-Nya sifat ‘adam (tidak ada); sebab huduts mengharuskan adanya sifat ‘adam sebelumnya, dan karena sesuatu yang baru pasti memerlukan muhdits (yang mengadakan), juga karena Allah bersifat wajibul wujud binafsihi (wajib ada dengan sendiriNya).

Madzhab salaf adalah antara ta’thil dan tamtsil. Mereka tidak menyamakan atau menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya. Sebagaimana mereka tidak menyerupakan DzatNya dengan dzat pada makhlukNya. Mereka tidak menafikan apa yang Allah sifatkan untuk diriNya, atau apa yang disi fatkan oleh RasulNya. Seandainya mereka menafikan, berarti mereka telah menghilangkan asma’ husna dan sifat-sifatNya yang ‘ulya (luhur), dan berarti mengubah kalam dari tempat yang sebenarnya, dan berarti pula mengingkari asma’ Allah dan ayat-ayatNya.

C. Pembagian Tauhid

Sebagaimana telah dijelaskan dari dua edisi yang lalu sampai edisi ini bahwa tauhid terbagi menjadi 3. Tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma’ Wa Sifat.

Mungkin ada pertanyaan, dari mana pembagian tersebut mengingat dalam Al-Quran dan hadits tidak disebutkan? Hal itu juga tidak didapati pada zaman Rasulullah SAW, ataupun sahabat. Tidakkah pernyataan tersebut termasuk suatu perkara baru (muhdats) dan tidak ada dalilnya?

Berikut jawaban Syaikh Al Albani r.a, “Sesungguhnya pembagian tauhid menjadi tiga ini terkandung dalam banyak surat Al-Quran. Yang paling tampak dan paling jelas adalah dalam dua surat, yaitu Al Fatihah dan An Naas, dimana keduanya adalah pembuka dan penutup Al-Quran.”

Oleh karena itu firman-Nya ‘Alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin’ mengandung pengukuhan ke-rububiyah-an Allah Ta’ala terhadap seluruh makhluk-Nya. Dan firman-Nya ‘Arrahmaanirrahiim-Maaliki yaumiddiin’ mengandung pengukuhan terhadap sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi dan nama-nama- Nya Yang Mahamulia. sedangkan firman-Nya ‘Iyyaaka na’budu wa iyaaka nasta’iin’ mengandung pengukuhan ke-ubudiyah-an seluruh makhluk kepada-Nya dan ke-uluhiyah-an Allah l atas mereka.

Walaupun terbagi menjadi 3 bagian, tauhid merupakan satu kesatuan dan punya hubungan yang sangat kuat satu sama lain. Sebab, tauhid uluhiyah mengandung tauhid rububiyah dan tauhid rububiyah mengharuskan adanya tauhid uluhiyah. Demikian pula tauhid asma dan sifat mengandung tauhid rububiyah, karena sifat Allah Taala itu ada yang berupa sifat dzat (diri) dan ada yang berupa sifat perbuatan. ( Wallahu A’lam bisshowab )

Kitab Tauhid 1 oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penjelasan Kitab Tiga Landasan Utama. Cet. Ke-3, Darul Haq, Jakarta, 2000.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: