Skip to content

INTI DAKWAH PARA RASUL

August 21, 2009

Sebenarnya dakwah yang diserukan oleh Nabi kita Muhammad SAW itu intinya adalah sama seperti apa yang diserukan oleh para nabi dan rosul terdahulu, namun bukan berarti bahwa semua agama sekarang itu sama benarnya dan sama baiknya, sehingga kita boleh bebas memilih agama yang kita suka sebagaimana apa yang dipahami oleh komunitas islam liberal atau yang lainnya.

Bahwa kesamaan disini adalah kesamaan pokok ajaran aqidah, bukan kesamaan praktek dan tata cara di dalam beribadah yang disebut dengan syareat. Karena islam telah datang untuk menyempurnakan dan menghapus syareat para rosul terdahulu. Jadi apa yang dibenarkan di dalam islam maka ditetapkan oleh rosululloh seperti sholat dan puasa dan apa yang bertentangan dihapus oleh Alloh dan Rosul-Nya seperti taubat yang dilakukan dengan bunuh diri pada kaum Musa.

Kesamaanya itu adalah terletak pada Pokok ajaran aqidah yaitu ajakan dan seruan untuk hanya beribadah kepada Alloh dan meniadakan peribadatan kepada selain Allah. Adapun inti ibadah kepada Allah Ta’ala itu adalah :

  1. Bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah dan tidak ada tugas bagi kita selain beribadah kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzâriyât [51]: 56)

Ibadah yang harus diperuntukkan hanya kepada Allah itu adalah mencakup segala hal yang diperintahkan Allah baik berupa perbuatan maupun ucapan, baik yang lahir maupun yang batin.

Tidaklah cukup seseorang hanya meyakini saja didalam hati, tetapi keyakinan ini haruslah keluar dari ucapan dan perbuatan kita.

Perkataan seseorang, ”Saya beriman kepada Allah dan saya bukan musyrik” tidaklah bermanfaat bila ternyata realita syirik ada padanya, Hasan Al Bashri rh berkata : Iman itu bukan angan-angan dan bukan dengan hiasan, akan tetapi ia adalah apa yang terpatri didalam hati dan dibenarkan dengan amalan.

  1. Memurnikan seluruh bentuk peribadatan hanya kepada Allah Ta’ala.

Allah ta’ala berfirman:

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (QS. Al-An’âm [6]: 162- 163)

Dalam Islam, kesaksian ini merupakan amalan yang dilakukan pertama kali, terakhir kali dan sepanjang hidup baik secara lahir maupun batin. Hal ini juga merupakan pokok aqidah yang diserukan oleh semua Rasul.

Dalam beribadah ini haruslah mengikuti apa diperintahkan Allah Ta’ala lewat Rasul-Nya. Karena beribadah walau dengan niatan untuk Allah Ta’ala tetapi dilaksanakan dengan tata cara yang tidak mengikuti apa yang dituntunkan oleh Rasulullah maka ibadahnya menjadi sia-sia.

  1. Menjauhi dan membenci para Thagut dan para pengikutnya.

Allah ta’ala berfirman:

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus (para) Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thoghut’.” (QS. An-Nahl [16]: 36)

Barang siapa mengucapkannya dan menetapi syarat-syaratnya, serta melaksanakan haknya maka dia adalah seorang muslim. Barangsiapa tidak melaksanakan syarat-syaratnya, atau melakukan salah satu dari pembatalpembatalnya tanpa udzur yang telah disepakati oleh para ulama ahlus sunnah wal jama’ah, maka dia kafir meskipun dia mengaku sebagai seorang Muslim.

Allah ta’ala berfirman:

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Atas dasar itu maka seorang mukmin haruslah menjauhi, membenci, memusuhi dan memerangi thaghut (segala sesuatu yang diibadahi selain Allah dan dia rela untuk diibadahi/ pembahasan Thagut ada pada buletin Risalah Tauhid edisi 5 ), juga segala bentuk peribadahan kepada selain Allah.

  1. Menentang para pelakunya dan antara orang mukmin dengan mereka ada permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai mereka hanya beribadah kepada Allah saja.

Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadahi selain Allah, kami tentang kalian, dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata’.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)

Walaupun demikian, kita tidak dilarang berbuat baik dan adil kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi Islam. Allah ta’ala berfirman: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orangorang yang berlaku adil.” (QS. Al- Mumtahanah [60]: 8).

Redaksi

4 Comments leave one →
  1. sardy permalink
    August 26, 2009 1:25 pm

    mudah2an kita selalu di beri kekuatan untuk mengemban risalah ini….amin

  2. sardy permalink
    August 26, 2009 1:27 pm

    mudahan kita di beri kekuatan mengemban risalah ini amin…

  3. February 12, 2010 2:18 pm

    amin

  4. nur fajrianti permalink
    February 23, 2010 8:16 am

    puja dan puji hanya milik Allah…
    Maha suci Allah dari sifat – sifat mahklukNya….

    Semoga Allah jadikan kita menjadi hamba-hamba yg selalu berada dlm kasih syng Allah….dan mendapatkan syafaat Rosulullah….

    aaamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: