Skip to content

AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH (2)

July 30, 2009

2. DEFINISI JAMA’AH

a. Secara Bahasa

Kata jama’ah secara bahasa berarti kelompok, bersatu, lawan dari kata berpecah belah. Dalam hadits banyak sekali disebutkan perintah untuk berjama’ah dan larangan untuk berpecah belah. Di antara hadits-hadits itu antara lain :

“Siapa ingin tengah-tengahnya syurga hendaknya ia selalu berjama’ah karena setan itu bersama orang yang sendirian dan menjauh dari dua orang.” [Ahmad I/18, Tirmidzi no. 2165, Al Hakim I/114, dishahihkan Albani].

“Barangsiapa melihat dari amirnya {kepala negara Islam}hal yang tidak ia senangi hendaknya ia bersabar karena siapa saja yang keluar dari jama’ah lalu mati maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.” [Bukhari 7054 dan 7143, Muslim 1849].

Dalam hadits-hadits yang menerangkan perpecahan umat Islam menjadi tujuh puluh tiga golongan disebutkan bahwa golongan yang selamat hanya satu yaitu jama’ah, dalam riwayat lain Maa ana ‘alaihi wa ash-habi {apa yang saya dan para sahabatku berada di atasnya= jalan para sahabat}. [Misalnya, lihat Ahmad IV/102, Abu Daud 4597,Al Hakim I/128, Ad Darimi 2521, dishahihkan Albani dalam Shahihah 204].

b. Secara Syar’i

Dari sekian banyaknya perintah untuk berjama’ah yang disebutkan dalam hadits, bisa dipahami bahwa ahlul jama’ah berarti orang yang mengikuti jama’ah. Sekarang timbul pertanyaan, apa makna jama’ah yang dimaksudkan oleh hadits-hadits ini?

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Secara global pendapat mereka bisa dikelompokkan menjadi lima pendapat, yaitu Fathul Bari XIII/37, Umdatul Qari XXIV/195, I’thisam II/260-2653 :

  1. Yang dimaksud dengan jama’ah adalah generasi sahabat. Dalam hadits-hadits tentang jama’ah disebutkan bahwa yang selamat adalah “ Maa ana ‘alaihi wa ashhabi = apa yang saya dan para sahabatku berada di atasnya.” Ini merupakan pendapat khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dengan artian ini setiap orang yang beramal berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah sesuai pemahaman generasi sahabat bisa disebut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
  2. Yang dimaksud dengan jama’ah dalam hadits-hadits di atas adalah para Ulama Mujtahidin dari kalangan Ulama Hadits, Ulama Fikih, dan ulama-ulama lain. Artinya Ulama Mujtahidun menjadi panutan masyarakat. Bila masyarakat tidak mengikuti mereka akan tersesat. Yang berpendapat demikian adalah Imam Abdullah bin Mubarak, Ishaq bin Rahawih, Imam Tirmidzi, para Ulama Ushul Fikih dan sekelompok Ulama Salaf. Di antara para ulama belakangan yang berpendapat demikian ini adalah Imam Muhammad Syamsul Haqq Adzim Abady, ulama yang mensyarah/menjelaskan Sunan Abu Daud dalam bukunya yang terkenal Aunul Ma’bud XII/342]. Perlu kita jelaskan disini bahwa ulama di sini bukan sembarang ulama. Ulama di sini adalah ulama yang benarbenar mengikuti Al Qur’an, As Sunnah dan petunjuk para sahabat. Itulah sebabnya para ulama semisal Yazid bin Harun, Ibnu Mubarak, Imam Ahmad, Ahmad bin Sinan, Ali Al Madini [guru imam Bukhari] dan Imam Bukhari menyebut mereka sebagai Ahlul Atsar wal Hadits/Ulama Hadits. Maksud para ulama bukanlah membatasi bahwa yang namanya Ahlus Sunnah wa Jama’ah itu hanyalah Ulama Hadits saja. Bukan, maksud mereka bukan demikian. Mereka hanya memberi contoh, bahwa Ulama Hadits termasuk pembesar/teladan dari kalangan Ahlus Sunnah, merekalah yang paling berhak disebut Ahlus Sunnah karena pada masa itu dan juga masa sekarang, Ulama Hadits lah yang paling mengetahui dan memahami Sunnah Rasulullah dan para sahabat. Pada kenyataannya, ada juga Ulama Hadits yang melenceng dari Sunnah Rasulullah, mereka ini tidak disebut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dengan demikian, patokannya bukanlah pakar dalam ilmu hadits-nya, namun mengikuti Sunnah Rasulullah atau tidaknya.
  3. Ijma’. Yaitu kesepakatan umat Islam dalam suatu masalah tertentu. Bila seluruh umat Islam telah mengadakan ijma’ maka wajib bagi mereka untuk mengikutinya. Orang yang menyelisihinya tidak termasuk sebagai Ahlus Sunnah. Misalnya umat Islam telah sepakat tentang wajibnya Shalat lima waktu. Orang yang berpendapat bahwa Shalat lima waktu itu tidak wajib, maka ia tidak termasuk Ahlus Sunnah. Banyak para ulama yang mengembalikan pendapat ketiga ini kepada pendapat kedua karena pada dasarnya yang berijma’ itu bukan umat Islam namun para Ulama Mujtahidun.
  4. Kelompok mayoritas umat Islam (as sawadhul a’dzam). Artinya jika suatu hal telah diyakini dan dijalankan oleh umat Islam maka yang menyelisihinya terhitung orang yang sesat dan bukan termasuk Ahlus Sunnah. Dengan catatan bahwa apa yang diyakini umat Islam ini benar-benar berlandaskan pada Al Qur’an dan As Sunnah. Pendapat ini pada dasarnya juga tidak berbeda dengan pendapat sebelumnya. Pendapat ini merupakan pendapat Abu Mas’ud al Anshari, Uqbah bin Amir bin Tsa’labah al Anshari dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhum. Pendapat ini dijelaskan oleh asy Syathibi, ”Dengan makna ini, maka yang termasuk dalam anggota jama’ah adalah para mujtahidin dan ulama serta orang-orang yang beramal dan berjuang berdasarkan syariat. Masyarakat umum juga termasuk karena mereka mengikuti para mujtahidin. Adapun kelompok selain mereka termasuk ahlul bid’ah dan tidak termasuk Ahlus Sunnah.”
  5. Makna jama’ah adalah pemerintahan negara Islam/khilafah Islamiyah dengan seorang imam/khalifah. Siapa taat pada imam berarti mengikuti jama’ah dan siapa yang membangkang/memberontak berarti bukan Ahlus Sunnah/jama’ah. Orang yang mati dalam keadaan membangkang pada imam yang shah, maka ia mati seperti orang yang mati dalam keadaan jahiliyah. Yang berpendapat demikian adalah Ath Thabari, Ibnu Arabi, dan Al Mubarakfuri.

Dari kelima pendapat di atas, para ulama (Jama’atul Muslimin Mafhuumiha wa kaifiyatu luzuumiha, hal. 21, Wujubu Luzumi Jamaah wa Tarki At Tafaruq, hal. 96-97 ) menyimpulkan bahwa makna jama’ah pada dasarnya berkisar pada dua makna pokok :

1. Aspek Ilmiah

Yaitu bersepakat atas satu aqidah, satu manhaj yang benar yaitu Al Qur’an dan As Sunnah serta memahaminya sebagaimana pemahaman generasi sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan ulama mujtahidin sesudahnya yang terpercaya terhadap kedua sumber Islam ini. Pendapat ini merangkum pendapat no. 1,2,3 dan 4. Dalam hal ini, jama’ah artinya mengikuti kebenaran meskipun kita sendirian, dan meninggalkan kebatilan meski kebatilan itu dianut oleh mayoritas manusia di muka bumi ini.

Ibnu Mas’ud berkata, ”Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran meski engkau sendirian.” (Manhajul Istidlal ‘ala masail I’tiqad ‘inda Ahlis Sunnah wal Jamaah, hal. 38- 39.)

Al Lalikai juga berkata, ”Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah meski engkau sendirian.”(Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaah I/108. )

Abu Syamah juga menegaskan: ”Kapan ada perintah untuk selalu menetapi jama’ah maka maknanya adalah selalu mengikuti kebenaran meskipun yang berpegang teguh dengan kebenaran itu sedikit jumlahnya dan yang menyelisihi kebenaran itu banyak. Kebenaran adalah apa yang dibawa oleh jama’ah pertama yaitu Rasululah dan generasi sahabat. Kebenaran sama sekali tidak diukur dari banyaknya pengikut kebatilan setelah masa sahabat.”

Ibnu Abil Izz al Hanafi berkata: ”Jama’ah adalah jama’ah muslimin yaitu para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat nanti.” Imam al Barbahari (Syarhus Sunnah : 21) mengatakan: ”Pedoman yang kami terangkan adalah bahwa jama’ah adalah para sahabat Rasulullah. Mereka itulah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Dr Abdul Karim Aql berkata, ”Jama’ah berarti salafnya [leluhur, nenek moyang] umat ini yaitu sahabat, tab’in, dan orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat nanti. Mereka berkumpul di atas Al Kitab, As Sunnah, dan atas imam-imam mereka, serta orang-orang yang berjalan di atas jalan Rasulullah, sahabat, dan pengikut mereka dengan baik.” (Syarhus Sunnah : 13)

Asy Syathibi (Al I’tisham I/449) berkata: ”Sudah jelas bahwa jama’ah dengan makna ini tidak mensyaratkan banyak sedikitnya pengikut, tapi yang disyaratkan adalah sesuai tidaknya dengan kebenaran sekalipun diselisihi oleh mayoritas umat manusia. Karena itu ketika Abdullah ditanya tentang jama’ah yang harus diikuti, beliau menjawab,” Abu Bakar dan Umar.” Beliau tetap menyebutkan beberapa nama sampai menyebut nama Muhammad bin Tsabit dan Husain bin Waqid. Orang yang bertanya berkata: ”Mereka semua telah mati, siapa yang masih hidup?” Beliau menjawab: ”Abu Hamzah As-Syukri.”

Nu’aim bin Hamad berkata , ” Jika jama’ah/masyarakat telah rusak maka ikutilah apa yang jama’ah pertama [sahabat] berada di atasnya, karena jama’ah itu adalah apa yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.” (Al I’tisham. I/453)

Abu Ya’kub Ishaq bin Rahawaih ditanya: ”Siapa kelompok mayoritas [As- sawadu al a’dzam] itu ?” Beliau menjawab: ”Muhammad bin Aslam dan para pengikutnya.” Kalau kau bertanya pada orangorang bodoh tentang kelompok mayoritas tentulah mereka menjawab:”Jama’atun Nas [mayoritas masyarakat]. Mereka itu tidak tahu bahwa yang dimaksud dengan jama’ah adalah ulama yang berpegang teguh kepada atsar Nabi dan jalan beliau. Siapa saja yang mengikuti ulama ini, itulah yang disebut al jama’ah.”

Dr. Al Aql menyebutkan: ”Tidak berarti Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu mayoritas manusia (kecuali pada masa sahabat dan tabi’in karena pada masa itu mayoritas manusia berada di atas kebenaran karena mereka selalu dibina oleh Rasul dan mereka dekat dengan masa nubuwwah. Adapun sesudah masa mereka, ukuran banyak tidaknya pengikut tidak menjadi patokan bagi benar tidaknya manusia, karena keumuman dalil-dalil yang menunjukkan banyaknya keburukan, perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga golongan, Islam akan kembali asing dll) selama mereka tidak berada di atas kebenaran.”

Dr. Al Hindawi berkata: ”Jama’ah dengan makna ini baru diketahui para pengikutnya dengan sikap mereka yang berpegang teguh dengan ushulud dien [pokok-pokok ajaran dien] yang diwariskan oleh salafnya umat ini [sahabat] yang mengikuti Nabi dan para sahabat.”

2. Aspek politik

Berjama’ah artinya berkumpul dan hidup di bawah sebuah negara Islam, di bawah kepemimpinan seorang imam/khalifah yang sah secara syar’i. Ini merupakan pendapat kelima dalam makna jama’ah seperti yang kita terangkan di atas. Selain para Ulama Salaf yang telah kita sebutkan di atas, para Ulama Mua’shirin juga menyebutkan hal ini. Dr Ridha Na’san al Mu’thi dalam tahqiq dan dirasahnya atas kitab al Ibanah ‘an Syari’ati al Firqah an Najiyah karangan Ibnu Bathah mengatakan: ”Bab ini menguatkan bahwa berjama’ah itu wajib dan keluar dari jama’ah itu tidak boleh, baik jama’ah dalam artian berkumpulnya umat Islam di bawah kepemimpinan seorang imam maupun berkumpulnya umat Islam di atas satu aqidah.”

(Maktabah Nida’ul jihad)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: