Skip to content

AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH (1)

July 23, 2009

I. PENGERTIAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

1. DEFINISI SUNNAH

a. Secara Bahasa

Kata As Sunnah yang mempunyai bentuk jamak / plural, sunnah secara bahasa berarti sejarah [perjalanan hidup] dan jalan [metode] yang ditempuh.

Ibnu Mandhur berkata,”  Sunnah makna awalnya adalah thariq yaitu jalan yang ditempuh oleh para pendahulu yang akhirnya ditempuh oleh orang lain sesudahnya.”

Pengarang kamus Mukhtarush Shihah berkata,” As Sunnah secara bahasa berarti sejarah dan jalan yang ditempuh baik itu jalan yang terpuji maupun yang tercela.”

Ath Tanawy dalam Kasyfu Isthilahat wal Funun berkata,” As Sunnah secara bahasa adalah jalan, baik jalan itu terpuji [baik] maupun buruk.” (Dirasat fi al Hadits an Nabawy wa Tarikhu Tadwinihi, I/I)

Ibnu Faris berkata dalam Mu’jam Maqayisi Lughah, ”Sunnah artinya perjalanan hidup. Sunnah Rasulullah artinya perjalanan hidup beliau. Sunnah juga berarti jalan/metode baik terpuji maupun tercela. Kata ini diambil dari kata sunan yang bermakna jalan seperti disebutkan dalam hadits:

“Barang siapa mengawali jalan yang baik maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikit pun pahala mereka. Barangsiapa mengawali jalan yang buruk dalam Islam maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.”[ Muslim no. 1017, juga no. 6800,6801].

Ibnu Atsir dalam Nihayah 2/223 berkata,“Dalam hadits berulang kali disebutkan kata As Sunnah dan pecahan katanya. Asal maknanya adalah sejarah hidup dan jalan yang ditempuh.” Makna ini juga disebut dalam hadits:

“Kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai kalau mereka masuk lubang biawak pun kalian akan ikut.” Para sahabat bertanya,” Apakah mereka orang Yahudi dan Nashrani wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Siapa lagi kalau bukan mereka.” [Bukhari 3456, Fathul Bari VI/495, Muslim 2669/6781].

Begitu juga bila dikatakan,” Shalat witir itu Sunnah maka maknanya adalah jalan/ hal yang diperintahkan dan dilaksanakan para sahabat dan Rasulullah.” (Mauqifu Ibni Taimiyah Minal Asya’irah, I/23)

Dalam penggunaannya, apabila disebut kata Sunnah maka maknanya adalah jalan kebaikan saja. “Ia Ahlus Sunnah”, maka maknanya : ia adalah orang yang menempuh jalan yang lurus dan terpuji.

b. Secara Syar’i

Makna Sunnah berbeda-beda tergantung dari disiplin ilmu apa kita memandangnya. Berikut ini beberapa definisi Sunnah menurut masing-masing disiplin ilmu : ( Lihat: As-Sunnah Qablat Tadwin, 18-20, Dirasat fi l Hadits an Nabawy wa Tarikhu Tadwinihi:I/1, Mauqifu Ibni Taimiyah Minal Asya’irah: I/24-26,Majmu Fatawa:IV/155, Minhajus Sunnah: 2/163 )

  1. Ulama Hadits: Ibnu Hajar mendefinisikannya sebagai apa yang datang dari Rasulullah baik perkataan, perbuatan, takrir/penetapan/pendiaman maupun apa yang ingin beliau kerjakan. Ulama Hadits lain mendefinisikannya sebagai apa yang diterima dari Nabi baik perkataan, perbuatan, takrir, maupun sifat beliau, baik sifat fisik maupun akhlak atau dengan kata lain perjalanan hidup beliau baik sebelum menjadi Nabi maupun sesudah menjadi Nabi. Dengan artian ini, As Sunnah menjadi sinonim kata hadits, sumber hukum kedua dalam Islam.
  2. Ulama Ushul Fiqih : Setiap yang datang dari Nabi [perintah] baik perkataan, perbuatan, maupun takrir beliau selama bukan Al Qur’an dan bisa menjadi dalil bagi sebuah hukum syar’i.
  3. Ulama Fiqih : Sesuatu yang jelas /tegas dari Nabi namun tidak berhukum wajib. Sunnah dalam artian ini sinonim bagi kata mandub, mustahab. Dengan istilah Ulama Fikih lain, Sunnah adalah sesuatu yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa.
  4. Kata Sunnah juga dipakai untuk sesuatu yang berdasar pada dalil syar’i, baik dari dalil Al Qur’an, hadits Nabi maupun ijtihad sahabat. Ijtihad sahabat termasuk Sunnah berdasar hadits Nabi, “Ikutilah Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk sesudahku.” Di antara Sunnah sahabat adalah mengumpulkan Al Qur’an yang berserakan ke dalam satu mushaf serta memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat dan orang-orang murtad. Sahabat Ali berkata, “Nabi menjilid (mencambuk) orang yang mabuk 40 kali demikian pula Abu Bakar. Umar menjilid orang yang minum minuman keras sebanyak 80 kali. Baik yang 40 maupun 80 kali itu sama-sama termasuk Sunnah.” [Muslim no. 1707, Ahmad I/82].
  5. Kata Sunnah juga sering dipakai untuk anonim dari kata bid’ah. Suatu amalan disebut Sunnah bila ia sesuai dengan tuntunan wahyu/Rasulullah. Contohnya : kita katakan dzikir secara berjama’ah dengan suara keras sesudah shalat berjama’ah itu bid’ah (karena tidak dicontohkan oleh Nabi). Kata Sunnah juga sering dipakai untuk anonim dari kata Rafidzah/ Syi’ah. Bila disebut kata Ahlus Sunnah/sunni misalnya, maka maknanya lawan dari kata syi’i/rafidzi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam [Minhajus Sunnah 2/163] berkata, ”Lafal Ahlus Sunnah kadang dipakai bagi setiap orang yang mengakui kekhilafahan tiga khalifah [Abu Bakar, Umar, dan Utsman]. Dengan demikian semua kelompok termasuk di dalamnya kecuali Rafidzah.” Artian ini merupakan makna luas dari lafal Ahlus Sunnah bila disebutkan secara bebas tanpa ada pembatas/qarinah.
  6. Pembahasan kita kali ini adalah bidang aqidah karena itu definisi yang akan kita pakai juga definisi Sunnah menurut para Ulama Aqidah. Ibnu Rajab dalam Kasyfu Kurbah menerangkan bahwa Sunnah adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabat beliau. Jalan mereka selamat dari syahwat dan syubhat [keraguan]. Karenanya Imam Sufyan Ats Tsauri berkata, “Berwasiatlah kepada Ahlus Sunnah dengan kebaikan karena mereka itu orang-orang yang asing (sangat sedikit).”

Imam Fudhail bin Iyadh juga mengatakan,” Ahlus Sunnah adalah orang yang mengetahui bahwa segala yang masuk ke perutnya hanya yang halal saja.” Sebab, menjaga agar makanan yang dikonsumsi hanyalah makanan yang halal, merupakan salah satu sifat dan jalan yang selalu dijaga oleh Rasulullah dan para sahabat. Dalam perkembangannya, istilah Sunnah dipakai untuk aqidah yang benar dan bersih dari segala syubhat, seperti dalam masalah asma’ wa shifat, masalah taqdir, masalah keutamaan sahabat, dan lain-lain. Untuk menerangkan aqidah yang benar ini para ulama mengarang buku-buku yang mereka namakan buku As Sunnah, seperti karangan Imam Ahmad dan al Khalal. Sunnah yang sempurna adalah jalan yang bebas dari segala syubhat dan syahwat.

Secara ringkas bisa dikatakan bahwa Sunnah adalah petunjuk yang Rasulullah dan para sahabat berada di atasnya baik berupa i’tiqad, ilmu, perkataan, maupun perbuatan. Itulah Sunnah yang wajib diikuti, pengikutnya terpuji dan orang yang menyelisihinya dicela. (As-Sunnah wa Makanatuha fit Tasyri’il Islamy hal.59 )

Dr. Al Buraikan menerangkan dengan baik sekali pengertian Sunnah ini dengan perkataan beliau, ”Makna Sunnah berarti mengikuti aqidah shahihah yang tsabitah {berdasar}pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah.” Beliau juga mengatakan, ”Sunnah merupakan ungkapan untuk sikap ittiba’ (mengikuti) manhaj Al Kitab dan As-Sunnah An Nabawiyah dalam persoalan ushul ( Aqidah) dan furu'( Sunnah ).” (Al Madkhal lidirasatil aqidah Al Islamiyyah, hal. 12)

Berdasarkan penjelasan singkat di atas bisa kita pahami bahwa Ahlus Sunnah adalah orang yang mengikuti Sunnah dan berpegang teguh dengannya, yaitu para sahabat dan setiap muslim yang mengikuti jalan mereka sampai hari kiamat.

Ibnu Hazm berkata, ”Ahlus Sunnah adalah pengikut kebenaran. Selain mereka adalah ahlul bid’ah. Ahlus Sunnah adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dari kalangan tabi’in, lalu para Ulama Hadits, lalu para Ulama Fikih dari satu generasi ke generasi selanjutnya sampai hari ini dan juga masyarakat secara umum yang mengikuti mereka baik di belahan bumi barat maupun timur.”

Dari sini jelas bahwa Ahlus Sunnah adalah setiap muslim yang mengikuti jejak para sahabat. Ahlus Sunnah bukan monopoli golongan tertentu. Tidak benar bila sebagian kelompok umat Islam menganggap dirinya sebagai satu-satunya Ahlus Sunnah sedangkan kelompok lainnya bukan Ahlus Sunnah. Ahlus Sunnah juga bukan sekedar nama, namun lebih dari itu, ia merupakan manhaj, jalan hidup para sahabat. Janganlah kita terjebak dalam pengakuan/ dakwaan, karena ukurannya bukan nama, namun sesuai atau tidaknya jalan hidupnya dengan petunjuk Rasulullah dan para sahabat.

(Maktabah Nida’ul Jihad)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: