Skip to content

KEMBALI KEPADA GENERASI SALAFUSSHOLEH, SEBUAH KEHARUSAN..!

July 16, 2009

Bendera al Haq yang dikibarkan Rosulullah SAW – diikuti oleh para sahabatnya dan dilanjutkan generasi-generasi sesudahnya – sudah begitu jelas dan nyata, jalannya pun mudah dan lapang. Namun karena banyaknya fitnah dan ujian maka bendera Al haq semakin samar dan jalannya pun banyak bersimpangan ,sehingga manusia berada dalam kebimbangan . Tak pelak lagi alhaq bercampur dengan batil, sunnah bercampur dengan bid’ah dan yang halal bercampur dengan yang haram. Manusiapun berpecah dalam kelompok-kelompok, dan setiap kelompok menyatakan dirinyalah yang paling benar dan sesuai dengan tuntunan Rosulullah SAW,yang akan selamat dan berada diatas jalan yang lurus.

Disebabkan sedikitnya ulama’ yang mau beramal dijalan Allah dan meninggikan kalimah-kalimah-Nya, sementara makar musuh menyerang dengan gencar kedalam tubuh umat Islam ,baik dari Yahudi , Nasrani ataupun kafirin dan zindiq. Maka terasa sulit bagi kaum muslimin untuk membedakan jalan yang selamat dari jalan yang sesat. Mereka sungguh dihadapkan pada kondisi yang tidak menentu , berbaurnya panji-panji kesesatan dan keselamatan ,Al haq dan batil dan semakin banyak kelompok-kelompok umat ini yang bertikai.

Rosulullah saw telah menyatakan bahwa disuatu masa umat ini akan menjadi rebutan umat yang lain sebagaimana hidangan yang diperebutkan oleh orang-orang yang lapar, ketika Rosul ditanya apakah karena umat Islam saat itu sedikit? Rosulpun menjawab : Bahkan kalian banyak , tetapi kalian seperti buih yang terombang-ambing ditengah lautan .Yang tidak mampu mengatur dirinya sendiri, dia hanya mengikuti arus angin atau air yang membawanya.

Semakin jauhnya umat ini dari Al haq tidak lepas dari peran orang-orang orentalis,dan atau sekuleris yang pada hakekatnya mereka adalah Ahlul kitab (yahudi dan Nasrani),musyrikun ( atheis) dan Munafiqun ( zindiq), Mereka menebarkan racun ditengah -tengah umat ini dengan berbagai cara.

Pertama : Memotong jalur sejarah antara umat saat ini dengan para pendahulunya, sehingga mereka tidak mengenal lagi siapa itu Ibnu Abbas, Abdullah bin umar,Tholhah bin Ubaidillah ,Said bin Musayyib Sufyan bin Uyainah, Ibnu Mubarok, Solahuddin Al Ayubi, Ibnu Taimiyah,dan banyak para sahabat, tabiin, tabiut tabiin dan para ulama’ setelah mereka. Salah seorang cendikiawan Indonesia pernah mengatakan bahwa Salaf (orang-orang terdahulu) menafsirkan Al-Qur’an dengan pemahaman mereka, maka kita menafsirkan sesuai dengan zaman ini, maka dengan mudah ia akan dicekoki dengan ajaran yang bukan ajarannya. Karena sangat banyak nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah yang tidak bisa difahami kecuali harus merujuk kepada generasi pertama Islam , dan bila generasi awal tersebut ditinggalkan maka ibaratnya telah terpenggal kepala ilmu-ilmu Islam, karena dari merekalah kita mampu memahami perintah-perintah Allah SWT.

Kedua : Mereka menghembuskan slogan persaudaraan dunia tanpa batas agama,sehingga tidak ada batas antara orang muslim dengan kafir.Mereka mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara Islam, Yahudi dan Nasrani karena berasal dari satu orang yaitu Rosul Ibrahim ‘alaihissalam.

Maka hilanglah kesadaran umat Islam akan permusuhan abadi yang terjadi antara umatumat tersebut (Al Baqoroh : 120 ) dan akhirnya umat Islam sendirilah yang menjadi korban pembantaian dimana-mana,karena umat tidak lagi memahami sipa yang harus dibela dan siapa yang harus diperangi dan selalu diwaspadai,akibatnya kawan menjadi lawan dan musuh menjadi kepercayaan. Inilah akibat fatal bila umat Islam menerima bulat-bulat slogan persaudaraan dunia tanpa memasang kewaspadaan akan makar musuh yang selalu mengancam.

Ketiga : Mereka mengkotak-kotakkan Islam sesuai dengan wilayah dimana ia tinggal (Paham Nasionalisme),sehingga nasib saudara-saudaranya diwilayah lain tidak lagi ia perhatikan, bahkan ia tidak tahu sama sekali pembantaian di Bosnia, peperangan di Checnya, penjajahan di Palestina, kemudian di Kashmir, Afghanistan, Philipina dan masih banyak penderitaan umat ini yang tidak pernah mendapatkan perhatian yang cukup dari umat Islam dibelahan bumi yang lainnya. Kita ingat ketika seorang muslimah yang tertawan oleh musuh kemudian diketahui oleh sultan Sholahuddin Al Ayuby maka sertamerta ia kirimkan bala tentara untuk membebaskannya, sekarang berapa ribu umat ini yang tertindas, terbantai, terampas kehormatannya, terampas hak untuk hidup dengan tenang, namun tidak ada sedikit pun respon dari umat islam dibelahan bumi yang lain, mereka tutup mata dan telinga dan mengatakan bahwa mereka bukanlah bangsaku. Inilah diantara keberhasilan mereka dalam memecah belah umat ini.

Tiga hal ini yang paling gencar mereka sebarkan ditengah-tengah umat Islam, sehingga tiada jalan bagi umat Islam bila ingin kembali kepada kejayaannya, untuk menjadi sebaik-baik umat yang menjadi kholifah diatas muka bumi ini, menyuruh kepada kebenaran dan kebaikan serta melarang dari kemungkaran, kecuali kembali kepada pemahaman para pendahulunya, ibarat seorang yang akan menaiki loteng ia harus melalui beberapa anak tangga supaya sampai keatas loteng, maka anak tangga itulah generasi-generasi terdahulu yang harus diikuti oleh umat ini, yang harus mereka ikuti bila ingin mendapatkan kejayaan sebagaimana kejayaan yang telah mereka dapatkan. Imam Malik -semoga Allah merahmatinya- berkata : “ Sekali-kali umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan baiknya umat-umat sebelumnya “

Bahkan Rosulullah saw telah menyatakan bila umat Islam telah senang dengan jual beli yang mengandung unsur riba,telah rela dengan pertanian, sibuk dengan peternakannya dan meninggalkan Jihad -yang telah ditetapkan Allah swt sebagai perintah yang dibenci oleh manusia- maka saat itulah Allah swt akan menurunkan kehinaan kahinaan kepada umat ini sampai mereka mau kembali kepada ajaran-ajaran dien mereka.

Inilah kabar dari Rosulullah saw yang harus kita yakini akan kebenarannya, saat ini setelah seribu empat ratus tahun meninggalnya Rosulullah SAW, hal ini benar-benar terjadi ,umat Islam mengalami kehinaan, bila mereka sedikit mereka dikejar-kejar, dimusuhi dan dibantai. Bila banyak mereka dikebiri hakhaknya sebagai seorang manusia yang ingin mengaplikasikan ajaran-ajaran agamanya dengan sempurna, sehingga mereka tidak mampu mengatur lingkungan dan komunitasnya, tidak mampu mengejawantahkan keyakinannya dalam perbuatannya, bahkan untuk mengatur diri mereka sendiripun -hak milik- mereka tidak bisa, karena mereka harus tunduk kepada peraturan-peraturan yang telah dibuat oleh para penguasa, dan bila mereka tidak mau tunduk maka mereka akan diteror dan diintimidasi.

Kehinaan lain yang Allah timpakan karena jauhnya umat ini dari diennya, mereka tidak lagi ditakuti oleh musuh-musuhnya bahkan mereka tidak lagi dihormati, dimanapun bila ada seorang muslim yang baik diennya niscaya ia akan dipinggirkan dan menjadi masyarakat kelas dua. Mereka tidak lagi memiliki izzah dihadapan musuh-musuhnya. Padahal Allah swt berfirman : “ Dan janganlah kalian merasa hina dan sedih karena kalian mulia apabila kalian beriman”. Dan Rosulullah saw bersabda :”Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya”.

Suatu hal yang sangat janggal disaat kemusnahan umat yang telah diambang pintu – sehingga hanya tinggal orang-orang yang terasing- banyak diantara umat ini yang berapologi bahwa kemunduran umat ini disebabkan karena kemiskinan dan kebodohan akan ilmu dunia saja. Sungguh karena fitnah yang sangat besarlah menjadikan mereka tidak lagi bisa memahami hakekat kemunduran dan keterbelakangannya, yang disebabkan jauhnya mereka dari dien mereka. Kalau kita lihat berapa banyak cendikiawan muslim yang ada di bumi Indonesia ini, berapa banyak lulusan-lulusan IAIN dan perguruan tinggi Islam, namun ternyata mereka tidak memberikan kontribusi yang memadai dalam rangka mengha sung umat ini dari keterpurukannya, bahkan pemahaman mereka sangat bertentangan dengan Aqidah Islam. Dan berapa banyak orang Islam yang kaya namun -sekali lagi- mana arah perubahan yang lebih baik. Benarlah kata orang bijak bahwa umat non Islam akan semakin maju bila mereka meninggalkan agamanya, namun umat Islam akan semakin mundur bila mereka meninggalkan agama mereka. Satu-satunya jalan menuju kejayaan umat adalah kembali kepada ajaran-ajaran yang telah dibawa Rosulullah dan dilanjutkan oleh para sahabatnya kemudian para pengikut setiaanya dalam menapaki jalan al haq ini.

Ada satu pertanyaan, kenapa kita mesti kembali kepada pemahaman ulama’ salaf, tidakkah cukup kita memahami sesuai dengan masa kita saat ini saja. Dijadikannya Muhammad saw sebagai seorang Rasul dan para sahabat sebagai pendamping dan pelaksana perintah Rosul adalah sebagai uswah/tauladan yang harus diikuti oleh umat ini, tidaklah kita tahu bentuk kongkrit pelaksanaan syariat Islam kecuali melalui contoh yang telah mereka berikan dan kita tidak akan tahu berita tentang mereka bila tidak ada para ulama’ tsiqoh yang menyampaikan kepada kita, merekalah generasi yang musti kita ikuti, bila kita ingin bangkit seperti mereka, sebuah generasi yang diakui keagungannya oleh kawan ataupun lawan, yang disegani dan diperhitungkan keberadaannya,merekalah generasi salaf as sholih. Allah swt telah berfirman :

“Dan orang-orang yang terdahulu dari orang-orang Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada- Nya ( At Taubah : 100).

Ibnu Qoyyim berkata :” Letak pengambilan dalil terhadap wajibnya mengikuti para sahabat dalam ayat ini, sesungguhnya karena Allah memuji orang-orang yang mengikuti mereka, yang apabila para sahabat berkata maka mereka akan serta merta mengikutinya, walaupun sebelum mengetahui kedudukan riwayatnya. Hal ini tetap dipuji Allah dan berhak mendapatkan ridho dari Nya. ( I’lamul muwaqi’in 4/155).

Ibnu Qoyyim -rohimahullah- berkata :” maka merekalah orang-orang yang berbahagia yang telah Allah tetapkan bagi mereka keridhoan, dan mereka adalah para sahabat Rosulullah saw dan seluruh manusia yang mengikuti mereka dengan baik sampai dihari kiamat.Dan tidak dikhususkan hanya untuk generasi-generasi yang melihat mereka saja ,adapun dikhususkannya nama tabiin bagi yang melihat para sahabat saja adalah untuk membedakan terhadap orangorang setelahnya -kalau secara makna ini, maka tabiin adalah mereka saja-Namun bila diartikan secara umum-adalah setiap yang mengikuti mereka (sahabat dan Rosulullah) maka adalah tabiin (pengikut) dengan baik yang termasuk diridhoi Allah swt. adapun pemaknaan mengikuti dengan mengikuti dengan baik karena hal ini dihasilkan tidak hanya dengan niat dan mengikuti dalam satu perkara namun menyelisihi dalam perkara yang lainnya , akan tetapi mengikuti dalam seluruh kebaikannya. (Bada’i Tafsir 2/372)

Ubay’ bin Kaab berkata : ” Hendaklah kalian selalu berada diatas ‘assabil’-yakni Al qur’andan as sunnah … dan sesungguhnya mencukupkan diri berada diatas assabil dan assunnah lebih baik dari pada berijtihad didalam hal-hal yang bid’ah, maka lihatlah amal perbuatan kalian agar selalu berada pada minhajul’anbiya’ dan sunnah-sunnah mereka. ( Syarkh Ushulul ‘I’tiqod 1/54).

( Maktabah Nida’ul Jihad)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: