Skip to content

Demokrasi Sebuah Dien (Agama) Baru

July 8, 2009

Banyak pihak yang tidak setuju dengan pernyataan bahwa demokrasi adalah sebuah dien, dan orang Islam yang mengajak kepada demokrasi berarti beragama demokrasi. Untuk itu, perlu dijelaskan definsi dan makna dien meski secara sekilas.

Dalam kamus Lisanul Arab dijelaskan tentang makna kata “ad dienu” : Ad Dayyanu adalah salah satu nama Allah Ta’ala, maknanya al hakamu al qadhiyu (Yang Maha Memutuskan perkara dengan adil)…Ad Dayyanu juga bermakna Al Qahharu, merupakan bentuk Fa’aal dari kata kerja Daana An Naasa, maknanya memaksa manusia untuk mentaatinya. Dikatakan Dintuhum fa Daanuu, maknanya saya memaksa mereka sehingga mereka taat.

Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi bersabda kepada Abu Thalib,” Yang saya inginkan adalah (orang-orang mengucapkan) satu kalimat yang bangsa arab tadiinu kepada mereka.” Maknanya adalah mentaati dan tunduk kepada mereka. Dien juga bermakna balasan, yaumu dien artinya hari pembalasan. Dien juga bermakna ketaatan. Dikatakan dintuhu dan dintu lahu, maknanya aku mentaatinya.Dien juga bermakna kebiasaan.

Dalam hadits disebutkan,” Orang cerdik adalah orang yang daana jiwanya dan beramal untuk hari sesudah kematiannya, sedang orang bodoh adalah orang yang menjadikan jiwanya mengikuti hawa nafsu sedang ia mengharap-harap (surga) dari Allah.” Abu Ubaid mengatakan,” Makna daana jiwanya adalah menghinakan dan memperbudaknya. Ada juga yang mengatakan,” Mengawasi dirinya sendiri.”

Dien adalah kepunyaan Allah, maknanya adalah ketaatan dan peribadahan adalah kepada-Nya. Dikatakan Daana Dienan, maknanya menghinakan dan memperbudaknya. Dikatakan Dintuhu fa daana (Saya memperbudaknya maka ia mentaatiku). Dalam Al Qur’an disebutkan (artinya), ”Tidak sepantasnya bagi Yusuf menghukum saudaranya dengan dien (undang-undang) raja kecuali Allah Ta’ala menghendakinya.” ( QS. Yusuf :76).

Imam Qatadah mengatakan,” Dengan ketetapan (qadha’) raja.” Makna dien adalah hal (keadaan). Makna dien adalah apa yang ditaati oleh seseorang. Makna dien adalah as sultanu (kekuasaan). Makna dien adalah wara’. Makna dien adalah al qahru (memaksa). Makna dien adalah ketaatan.

Dalam hadits tentang haji disebutkan,” Adalah Quraisy dan orangorang yang daana dengan dien mereka.” Maknanya mengkuti dan setuju dengan dien mereka.” ( Allah Ta’ala berfirman : “ Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah (kekafiran dan kesyirikan) dan seluruh dien menjadi milik Allah.” (QS. Al Anfal :39).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan; Dien adalah ketaatan. Jika sebagian dien (ketaatan) menjadi milik Allah dan sebagian dien lainnya menjadi milik selain Allah, maka wajiblah diadakan perang (jihad) smpai seluruh dien menjadi milik Allah.

Dien adalah mashdar. Sedangkan mashdar itu disandarkan kepada fa’il (pelaku / subyek) atau maf’ul (obyek/yang dikenai pekerjaan). Dikatakan Daana fulaanun Fulaanan : jika fulan beribadah dan mentaatinya. Sebagaimana dikatakan daanahu jika menghinakannya. Seorang hamba yadiinu Allaha, maknanya beribadah kepada-Nya dan mentaati-Nya. Jika

dien disandarkan kepada hamba, itu karena ialah hamba yang taat, dan bila disandarkan kepada Allah itu karena Allah-lah yang diibadahi dan ditaati.( Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa XXVIII/544 dan XV/158.)

Allah Ta’ala berfirman : “ Apakah mereka mempunyai sekutusekutu selain Allah yang menetapkan untuk mereka dien tanpa seizing Allah ?” [QS. Asy Syura :21]. Imam Ibnu Mandhur, Lisanul ‘Arab, XIII/166, Beirut, Daru Shadir.) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa XXVIII/544 dan XV/158.) “Bagi kalian dien kalian dan bagiku dienku.” [QS. Al Kafirun :6].

Ustadz Abul A’la Al Maududi mengatakan :

Yang dimaksud dengan dien dalam seluruh ayat ini adalah qanun (undang-undang), hudud (peraturan), asy syar’u (perundang-undangan tertinggi), thariqah (jalan) dan nidzam (system) pemikiran dan pebuatan yang dengannya manus ia mengi kat (mengatur) dirinya. Jika sultah (kekuasaan) yang menjadi dasar seseorang dalam mengikuti sebuah qanun atau nidzam adalah sultah Allah Ta’ala : maka tidak diragukan lagi orang tersebut berada dalam dien Allah.

Adapun jika kekuasaan tersebut adalah kekuasaan seorang raja, maka orang tersebut berada dalam dien raja tersebut. Jika kekuasaan adalah kekuasaan para tokoh dan pendeta, maka ia berada dalam dien mereka. Begitu juga jika kekuasaan itu adalah kekuasaan keluarga atau mayoritas, maka ia berada dalam dien keluarga atau mayoritas. Allah berfirman : “ Dan Fir’aun berkata,” Biarkanlah aku membunuh Musa dan supaya ia berdoa kepada rabbnya. Sesungguhnya aku khawatir ia akan merubah dien kalian atau berbuat keruskan di muka bumi.” [QS. Al Mu’min :26].

Dengan mengkaji seluruh rincian kisah Musa dan Fir’aun dalam Al Qur’an, tidak ada keraguan lagi bahwa kata dien dalam ayat-ayat tersebut tidak sekedar bermakna agama dan keyakinan (kpercayaan) semata. Tetapi yang dimaksud dengan dien adalah juga daulah (negara) dan nidzamul madinah (system/undangundang negara). Yang ditakutkan dan diterangkan secara terang-terangan oleh Fir’aun adalah (kekhawatirannya) jika Musa berhasil dalam dakwahnya, negara akan lenyap dan system perundang-undangan yang tegak di atas kekuasaan Fir’aun dan undangundang serta budaya yang telah laku akan di cabut sampai s eakarakarnya.”( Ustadz Abul A’la Al Maududi, Al Musthalahaatu Al Arba’atu Fil Qur’an hal. 125)

Dari penjelasan tentang definisi dan dasar-dasar demokrasi, serta dari penjelasan tentang makna dien di atas, maka dengan yakin bisa dikatakan bahwa demokrasi adalah sebuah dien. Demokrasi merupakan sebuah teori, sebuah system yang mempunyai pandangan khusus tentang kehidupan, tentang perundang-undangan, tentang kenegaraan, tentang kehidupan dan kemanusiaan.

Demokrasi merupakan sebuah system yang jauh berbeda dengan Islam. Demokrasi mempunyai persepsi sendiri dalam memandang alam dan kehidupan. Demokrasi mempunyai persepsi sendiri dalam mengatur kehidupan negara, individu, hak-hak dan kewajiban manusia, hubungan antara manusia, aspek ideology, politik, ekonomi, social, peradilan, pendidikan, dan bahkan sampai urusan ritual peribadahan. Persepsi demokrasi terhadap semua hal bersifat mengikat dan harus dilaksanakan secara konskuen oleh setiap orang yang menerima demokrasi.

Ini semua menunjukkan bahwa demokrasi adalah sebuah dien. Kalau ini semua bukan dien, lantas disebut apa ? Dengan demikian, secara etimologi dan terminologi, demokrasi adalah sebuah dien. Maka, siapa yang menganut demokrasi tidak berbeda dengan orang yang menganut Yahudi, Nasrani, Majusi, Budha, Hindu, Konghucu, dan agama-agama lain. Semuanya sama-sama beribadah kepada makhluk, sekalipun bentuk dan caranya berbeda.

Negara-negara kafir Barat tidak akan memaksa umat Islam untuk masuk Kristen. Itu suatu hal yang sangat sulit. Tetapi mereka akan memaksa umat Islam untuk menerima, menganut dan memperjuangkan dien baru bernama demokrasi ini. Karena itu, siapa dari umat Islam yang menerima demokrasi akan mereka sanjung dan mereka berikan loyalitas. Sebaliknya, umat Islam yang memerangi demokrasi akan mereka musuhi dan perangi. Maha Benar Allah Ta’ala : “Sekali-kali orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kalian sehingga kalian mengikuti milah (dien) mereka. Katakanlah,” Sesungguhnya petunjuk Allah (Islam) itulah petunjuk yang sebenarnya. Maka jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, Allah tidak lagi menjadi pelidnung dan penolongmu.” [QS. Al Baqarah :120].

Bila dien lain (termasuk dien samawi Nasrani dan Yahudi) merupakan dien kafir dan syirik yang bertentangan dengan Islam, maka terlebih lagi dengan dien demokrasi. ( Maktabah Nidaul Jihad )

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: