Skip to content

Penyegelan Masjid Al Ihsan Sidotopo Surabaya, Noda Hitam Sejarah Indonesia

July 1, 2009

Kajian rutin di Masjid Al Ihsan Sidotopo yang biasa dibimbing oleh ustad Abu Bakar Ba’asyir batal dilaksanakan malam Ahad ini. Kejadian berawal dari provokasi pada Jum’at malam 19 Juni 2009 (diduga dari pihak kepolisian/ intel berpakaian preman) memprovokasi warga dengan mengatakan jama’ah masjid Al Ihsan mengkafirkan PNS dan anggota kepolisian, penghuni masjid adalah anak buah ABB, ketua ta’mir adalah bapak teroris dan sebagainya.

Pada malam itu ada tuntutan pengajian ustadz Abu tidak boleh menggunakan sound system karena “beberapa warga” merasa “gerah” dengan isi kajian ustadz Abu. Walhasil kajian rutin ustadz Abu malam ini tidak bisa dilaksanakan. Berikut ini kronologis kejadian yang terjadi di masjid Al Ihsan Sidotopo:

Jumat , 19 Juni 2009

Lebih kurang pukul 22.30 sampai dengan 24.30 terjadi penyerbuan dan sweeping ke dalam masjid Al Ihsan Sidotopo yang dilakukan oleh massa tak dikenal berserta warga sekitar masjid yang terprovokasi dan beberapa orang yang diduga adalah oknum anggota kepolisian. Didalam masjid pada saat itu ada tiga orang yang memang tinggal di masjid sebagai pengurus yang bertugas dalam kebersihan dan perawatan masjid. Massa menanyakan Ijin dan kepemilikan masjid, serta keberadaan penghuni masjid.

Pukul 22.30

Salah satu pengurus masjid Al Ihsan mendengar suara massa memasuki masjid dan suara massa mendobrak pintu/pagar masjid, diantara massa ada yang berteriak “keluar…!”. Melihat massa sudah memasuki masjid bagian bawah, ia membangunkan penghuni lainnya. Namun belum sampai keluar pintu kamar ternyata massa sudah naik dan masuk ke dalam kamar pengurus. Massa mencegat pengurus keluar kamar sambil salah seorang diantara mereka memotret wajah-wajah para pengurus, bukan itu saja salah seorang yang mengaku sekretaris RW setempat memaksa pengurus menunjukkan kartu identitas dengan nada yang tinggi dan kasar. Akhirnya ketiga orang pengurus yang tinggal di masjid memberikan KTP kepada orang yang mengaku sekretaris RW tersebut. Kesaksian pengurus masjid sebagian besar massa bukan dari warga sekitar dan tidak pernah mereka lihat sebelumnya di sekitar masjid.

Pukul 22.55

Massa meminta kepada salah satu pengurus untuk memanggil Pak Umar selaku ketua Ta’mir Masjid dengan tetap menahan kartu identitas . Tidak lama kemudian Pak Umar datang menemui massa didalam masjid, Pak Umar meminta massa untuk membubarkan diri dan membicarakannya baik-baik tetapi permintaan tersebut tidak digubris oleh massa. Massa di luar masjid terus menerus melakukan provokasi dengan teriakan dan ejekan. Diantara kata-kata provokasi yang didengar oleh penghuni masjid adalah “rantai saja pak Umar!”, “pak Umar bapak teroris”, “bakar pak Umar”.

Pukul 23.30

Salah seorang putera Pak Umar datang bersama Yulianto (anggota Tim Pembela Muslim Surabaya). Kedatangan Yulianto atas permintaan putera Pak Umar untuk menengahi permasalahan yang terjadi. Namun massa mengusirnya dengan alasan bukan warga RW setempat, saat pengusiran salah seorang mendorong dan memukul Yulianto hingga menyebabkan luka di bagian hidung. Setelah Yulianto keluar dari masjid, massa juga meminta orang-orang yang bukan warga RW setempat untuk keluar termasuk para pengurus. Setelah semuanya keluar dari masjid terjadi dialog antara Pak Umar dengan massa. Konsentrasi massa di luar masjid semakin besar. Provokasi terus menerus terjadi di luar masjid.

Pukul 00.30

Terjadi “kesepakatan” antara Pak Umar dengan massa untuk mengosongkan masjid. Seseorang yang mengaku Wakapolres Surabaya Timur menghubungi pak Umar dan meminta agar beliau hadir pada hari Sabtu jam 10.00 di Polsek Semampir dengan membawa dokumen seperlunya untuk bertemu dengan perwakilan warga sekitar masjid yang terlibat dalam kejadian tersebut.

Sabtu, 20 Juni 2009

Pukul 12.00

Seorang Jama’ah masjid menceritakan , meski masjid sudah dikosongkan penghuninya aktivitas sholat berjama’ah Subuh dan Dhuhur masih tetap dilaksanakan, namun sekitar pukul 12.00 mulai berdatangan massa tak dikenal dengan menggunakan motor. Ketika jama’ah tersebut keluar dari masjid massa yang datang dengan motor meneriakinya dengan kata-kata “kafir..kafir..!”, “Tempat mesum!”, “Teroris…!”. Beberapa saat kemudian Camat, Ta’mir masjid datang dari Polsek Semampir dan memberitahu jama’ah bahwa sudah terjadi keputusan yang ditandatangani Camat dan Ketua Ta’mir masjid yang berisi:

ü      Kepemilikan Tanah dan Bangunan berdasarkan surat-surat dan dokumen yang ditunjukkan pihak Ta’mir Masjid Al Ihsan adalah atas nama pak Umar (selaku ketua Masjid)

ü      Karena Masjid tidak memiliki Ijin Mendirikan Bangunan masjid ditutup dan tidak boleh melakukan aktifitas termasuk sholat lima waktu sampai ijin diurus dan dikeluarkan.

Jama’ah sempat mempertanyakan larangan sholat dan beribadah di masjid, camat menjawab bahwa ini adalah jalan tengah dan Camat bertanggung sampai ke akhirat dalam urusan ini. Semua barang-barang dimasjid diminta untuk dikeluarkan dan masjid disegel dengan cara digembok oleh Camat dan kemudian kunci gembok dibawa oleh Camat. Terhitung sejak sholat Ashar Jama’ah tidak lagi bisa melaksanakan ibadah sholat dan ibadah lainnya di masjid Al Ihsan Sidotopo. (Muslimdaily.net)

Berdasarkan laporan yang diterima oleh redaksi dari masyarakat setempat di kompleks masjid Al-Ihsan, disebutkan bahwa ada keinginan dari pihak kepolisian dan aparat kecamatan Semampir untuk mengambil alih tanah dan bangunan masjid Al-Ihsan. Padahal, tanah masjid tersebut jelas-jelas dimiliki oleh Bp. Umar yang juga ketua Takmir Masjid Al- Ihsan.

Selain itu, pihak kepolisian dan aparat setempat terkesan memaksakan persoalan perijinan IMB untuk menyegel masjid tersebut, padahal—bisa dikatakan—ratusan ribu masjid yang tersebar di seluruh Surabaya tidak terikat dengan perijinan IMB tersebut, apalagi hal itu tidak bertentangan dengan Surat Keputusan Bersama Pendirian Tempat Ibadah No: 9 dan No: 8 tahun 2006.

Satu hal lagi yang sangat aneh adalah munculnya aksi penyerangan masjid (sweeping) oleh orang-orang tak dikenal, yang dianggap sebagai ‘reaksi’ warga atas pengajian di masjid tersebut, sehingga memunculkan ‘keputusan’ Camat Semampir dan kepolisian Surabaya Timur untuk menyegel dan melarang warga shalat di masjid Al-Ihsan. Padahal, selama bertahun-tahun sejak masjid tersebut didirikan, tak satupun warga yang merasa gerah dengan keberadaan masjid dan berbagai aktivitas yang terjadi di dalamnya.

Bahkan, warga yang notabene mayoritas muslim pun senantiasa turut serta dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh masjid tersebut, sehingga sangat naïf jika dikatakan bahwa kegiatan dan keberadaan masjid tersebut disebut-sebut meresahkan warga setempat.

Hal ini kemudian memunculkan berbagai dugaan yang simpangsiur dan tidak jelas. Bahkan, kesan adanya skenario besar dari pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memberangus kegiatan Dakwah Islamiyah di Surabaya. Dengan memanfaatkan isu-isu yang belum jelas kebenarannya, mereka mencoba ‘mengakali’ berbagai pasal yang tercantum dalam SKB Menteri Agama dan Mendagri No: 8 dan No: 9.

Tak pelak, hal ini memunculkan berbagai reaksi di berbagai penjuru Indonesia salah satunya adalah kesiapan sejumlah ormas-ormas Islam baik di Jawa Tengah, Jawa Timur maupun Jawa Barat untuk memberikan dorongan fisik dan mental bagi takmir masjid Al- Ihsan, bahkan sebagian dari mereka telah berangkat untuk membantu pembebasan masjid Al- Ihsan Sidotopo.

SATU HAL YANG PATUT DISESALKAN

Sebenarnya, peristiwa penyegelan dan pelarangan ibadah di masjid Al-Ihsan patut disesali. Betapa tidak, peristiwa tersebut menunjukkan betapa aparatur Negara di Indonesia benar-benar tidak mampu menjalankan amanat konstitusi. Kepolisian Negara Republik Indonesia yang seharusnya melayani dan mengayomi rakyat, justru melakukan aksi teror yang terencana dan dikemas secara apik, baik secara struktural maupun sosial.

Mulai dari menyiapkan orang-orang tak dikenal untuk mengusir takmir masjid, dan memasuki masjid tanpa sopan santun, yang diteruskan dengan melakukan black campaign terhadap kesucian masjid dan puncaknya menyegel masjid Al-Ihsan dan melarang pelaksanaan ibadah di dalamnya.

Hal ini jelas patut disesalkan, kemerdekaan untuk mengkaji agama yang diyakini oleh umat Islam pun akhirnya dilarang secara sepihak oleh aparat keamanan. Tanpa melakukan proses dialog yang cerdas dan saling memahami bahwa setiap orang memiliki kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan untuk mengkaji agamanya di dalam tempat ibadah agama mereka.

Sebagai sebuah Negara yang telah berumur 60 tahun lebih, Indonesia telah sangat kenyang dengan berbagai peristiwa keji dan tumpahnya darah putra-putri Indonesia sendiri karena perbuatan saling mendhalimi. Masih ingatkah kita akan tragedi Tanjung Priok, dimana satu masjid diserbu secara brutal oleh KOPASSUS-ABRI dibawah komando Jendral Leonardus Benny Moerdani, yang mengakibatkan terbunuhnya ratusan kaum muslimin bahkan sampai sekarang makam mereka pun masih ada.

Mestinya, aparatur negara lebih bijak dalam mengelola kehidupan beragama warga negara, sehingga tidak perlu terjadi sikap saling membunuh karakter antar warga negara bahkan yang mengarah pada perilaku anarkis, hanya karena ketidaksepahaman prinsip antara masing-masing pihak.

Oleh : Wendy Febriangga

Redaktur Majalah At-Tauhid

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: