Skip to content

ABU DUJANAH ASY SYARQI ( FAHD AL QOHTONY )

May 26, 2009

Dalam memulai pembicaraan kisah seorang mujahid yang telah syahid (di Bosnia) insya Allah, terlebih dahulu kami sampaikan hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam :

“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian ada yang beramal dengan amalan penghuni neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka itu tinggal satu hasta, kemudian ia beramal dengan amalan penghuni Jannah, lalu Al Kitab ( catatan taqdir ) telah menetapkannya, kemudian ia mati lalu ia masuk ke dalam Jannah “.

Ikhwan kita Abu Dujanah adalah seorang sopir Truk di daerah timur, sementara di daerah timur inilah kejahiliyahannya begitu besar.

Pada awal tahun 1414 H,dia sedang pergi ke Bahroin untuk mengantar paket, dia seperti orang gila (sedang mabuk),hingga akhirnya Truk yang dikendarainya oleng dan terpelanting di atas jembatan Bahroin. Akan tetapi Allah menyelamatkan dia, mobilnya tersangkut di jembatan, dia pingsan . Pada saat itu ada dua orang yang hendak pergi ke Bosnia melalui jalan Bahroin. Ketika sedang melalui Jembatan keduanya melihat Truk yang bagi mereka sudah tidak asing lagi, lalu mereka berhenti dan turun menuju Truk tersebut, keduanya mendapatkan seorang di dalam Truk tersebut (Abu Dujanah), ditolonglah Abu Dujanah kemudian mereka melanjutkan perjalanan bersama.

Setelah mandi dan sholat, keduanya memberi nasehat kepada Abu Dujanah “ Jikalau engkau mati pada saat kecelakaan itu sungguh kamu mati dalam ma’siyat bahkan lebih besar lagi, oleh karena itu pujilah Allah yang telah menyelamatkan kamu dari kematian itu, karena Allah tidak mengakhiri hidupmu dalam kemaksiyatan “. Tersentaklah hati Abu Dujanah serasa tertusuk sebilah belati, Kemudian berpisahlah mereka. Setelah peristiwa itu Abu Dujanah berniat untuk meninggalkan kawankawannya yang rusak.

Ketika ada teman yang melihatnya di sebuah terminal Truk, mereka pergi menemuinya dan didapati dia sedang sendirian dengan memegang Mushaf dan sedang membacanya. Teman-temannya tidak percaya melihat pemandangan tersebut dan mereka mengira bahwa dia hanya pura-pura karena takut dari ditangkap pemerintah karena perilakunya yang buruk dulu.

Beberapa bulan kemudian Abu Dujanah mendatangi sahabatnya yang dulu menolong dan menasehatinya. sahabatnya tidak mengenalinya lagi, karena jenggotnya telah tumbuh lebat, pakaiannya diatas mata kaki dan terpancarlah cahaya dari mukanya, kemudian ia mengenalkan dirinya bahwa dia adalah Abu Dujanah. Betapa gembiranya sahabat Abu Dujanah melihat kondisi Abu Dujanah sekarang, kemudian dia dipersilahkan masuk. Abu Dujanah kemudian bertanya tentang persoalan jihad, kondisi Bosnia dan keutamaan Syahid, para mujahidin, ribath dan sebagainya…..

Setelah mendengar jawaban yang ditanyakan lalu ia berkata : “ Kalau begitu jalan yang paling dekat menuju Jannah adalah Jihad fie sabilillah. Sekarang umurku sudah 36 tahun dan dipenuhi dosa dan ma’siyat. Aku meminta kepadamu demi Allah akan menemanimu berjihad !

Sahabatnya berkata kepadanya : “ Sekarang Bosnia sedang dikepung dari segala penjuru dan tidak mudah untuk masuk kesana, padahal saudara-saudara kita disana sedang menanti ada orang yang bisa membuka jalan masuk.

Abu Dujanah berkata : “ Aku akan pergi walaupun aku harus menunggu selama satu tahun “. Dan dia berusaha memuaskan saudaranya itu.

Setalah 6 bulan lamanya mereka mencari jalan masuk ke Bosnia, akhirnya mereka mendapat kabar gembira dibukanya jalan menuju Bosnia. Lalu pergilah ia ke Bosnia dan masuk ke sana, tempat yang selama ini ia impikan dan nantikan untuk bisa bergabung dengan para mujahidin. Lalu bergabunglah ia dengan sebuah pasukan mujahidin di daerah Zintisia disana ia dilatih dan menyusun kekuatan.

Di sana ada ma’rokah (medan perang) yang dekat dengan daerah Syirisya, lalu beliau masuk ke daerah itu dan itulah medan perang pertama yang ia ikuti dalam perjalanan jihadnya, dan Allah memenangkan mujahidin dalam amaliah – oprasi – tersebut. Dan para mujahidin membuat khondaq (parit) di front tersebut dan mendapatkan kemulian ribat (berjaga) fie sabilillah.

Setelah berlalu dua bulan dari pertempuran tersebut terjadilah pertempuran yang lebih kuat dan besar dari sebelumnya, yaitu pertempuran Visico Qolava yang masih di satu kawasan tersebut. Beliau ikut serta dalam amaliah tersebut dan pertempuran tersebut merupakan kebahagiaan tersendiri bagi beliau yang tidak dapat beliau gambarkan.

Setelah pertempuran tersebut tepatnya pada tahun 1414 H. beliau pergi bergabung dengan Jam’iyah Ihya’ut Turots Al Islami Al Kuwaity dan bekerja bersama mereka di kota Turovinik ( di Bosnia ) dan tinggal disana selama beberapa saat, disana beliau menikah dengan orang asli Dagestan.

Abu Dujanah sangat keras dalam menindak kemungkaran di kota tersebut hingga ia ditakuti oleh orang-orang fasiq di daerah itu. Bahkan sampai ke kawasan Karwat di daerah Fitiza. Dan tidak ada seorangpun dari orang-orang fasiq yang berani melewati daerah yang ditempati Abu Dujanah

Di kota itu ia ikut melayani dan membantu masyarakat, hingga penduduk kota tersebut sangat mencintainya. Dia sangat fasih berbahasa Bosnia, sehingga ia dapat bergabung dengan para mujahidin di Turovinika untuk bersama-sama menggapai ridho Allah Ta’ala.

Pada suatu hari, teman-temannya menyampaikan kabar kepadanya, bahwa dalam waktu dekat ini mau ada pertempuran, maka ia pun bersiap-siap.

Ia keluar menuju pertempuran Falasyij yang kedua di waktu malam Arofah pada tahun 1415 H. Ia berangkat besama seorang teman dengan berjalan kaki menuju musuh dan pada saat ini ia tidak seperti biasanya ! Ia kelihatan tenang dan banyak menoleh kesana-kesini seakan-akan beliau melihat sesuatu.

Penyerangan dimulai pada jam 12 malam, maka terjadilah pertempuran hebat, ia maju dengan membawa senjata RPG dan menghadang pasukan Serbia. Ia bersama seorang teman yang bernama Musthofa Al Busnawy (orang Bosnia) maju hingga mendekat ke parit + sejarak 10 meter dari pasukan Serbia, dan beliau bersiap-siap menyerang pasukan itu, akan tetapi timah panas telah menembus leher beliau terlebih dahulu hingga beliau jatuh sebagai syuhada. Dan keluarlah dari mulut beliau seperti cahaya.

Akh Musthofa memeriksa tempat terbunuhnya Abu Dujanah – untuk menyembunyikan jenazahnya – lalu ia pergi dan meninggalkan Abu Dujanah dikarenakan dahsyatnya serangan musuh, dan para mujahidin pun withdrawl (mundur). Akh Mustofa hampir-hampir tak mampu berjalan karena menangisi saudaranya “ Abu Dujanah “.

Ketika para mujahidin lainnya mendengar kejadian tersebut, maka komandan pasukan memerintahkan untuk meyakinkan keberadaan tempat terbunuhnya Abu Dujanah. Lalu komandan mengutus dua orang singa Allah untuk mengambil mayat Abu Dujanah. Ternyata benar Abu Dujanah telah terbunuh, akan tetapi pasukan serbia telah membawa jenazahnya.

Selang 2,5 bulan kemudian Palang Merah menghubungi tentara Bosnia yang menghabarkan akan permintaan Serbia untuk menukar mayat. Dan ternyata diantara mayat-mayat itu ada mayat seorang arab. Lalu tentara Bosnia menghabarkan kepada mujahidin – bahwa diantara mayat tersebut adalah seorang arab -, lalu pergilah komandan dan diikuti oleh beberapa mujahidin.

Komandan tersebut berkata : “ Kami pergi ke tampat penyimpanan mayat dan kami dapatkan mayat-mayat yang baru saja terbunuh kurang lebih baru satu hari. Bau mayat-mayat tersebut sangat busuk. Lalu aku masuk dan berjalan diantara mayat-mayat hingga aku dapatkan peti mayat yang tertutup. Lalu peti itu aku angkat dengan seorang teman dan kami keluarkan mayat tersebut. Ternyata mayat tersebut dibungkus dengan jahitan nilon. Tentara memberi tahu kami bahwasanya mayat-mayat ini diantaranya ada mayat seorang arab yang tidak disimpan di dalam Almari Es untuk mayat, akan tetapi dicampakkan di tanah lapang. Lalu kami dekati saudara kami itu – jenazah Abu Dujanah -. Lalu aku buka sendiri penutup itu dari arah kepala. Perasaan khawatir menggelayut di kepalaku dan kepala temanku, bagaimana keadaan mayat tersebut setelah dua bulan lebih ?, apakah telah dimakan ulat ? atau telah berubah kondisinya ? atau …… atau ….. atau ….. ? lalu aku mulai membuka tutup itu, tangan dan tubuhku tiba-tiba gemetar, karena ternyata wajahnya seperti bulan dan jenggotnya berwibawa yang memancarkan putih dan tubuhnya ….ternyata dia ….. dia…. Dan tidak ada perubahan sama sekali. Aromanya seperti aroma pohon Inai. Allah menyaksikan kejadian tersebut kemudian para ikhwah dan semua yang hadir pun menyaksikan hal tersebut.

Jenazahnya telah berlalu dua bulan setengah tapi tidak berubah sama sekali hingga aromanya pun tidak berubah.

Allah telah mengasihi singa itu dan memberikan kepadanya seorang putri ( bernama Nauroh ), dan memberinya kebaikan dan hidayah. Sekarang ia berumur enam tahun dan tinggal bersama ibunya di Bosnia di kota Tuzela.

Selamat berbahagia wahai Abu Dujanah. Engkau telah menyaksikan kebenaran janji Allah, Semoga Allah memperbanyak bilangan orang-orang sholih dan mujahidin sepertimu.(Maktabah Nidaul Jihad )

2 Comments leave one →
  1. June 14, 2009 1:18 pm

    Rekaman Khotbah Osama Bin Laden

    Rekaman Khotbah Osama Bin Laden, dalam membangkitkan semangat para mujahidin
    untuk berjihad di Palestina, Iraq dan Afghanistan dalam berjuang melawan bangsa
    kafir. Rekaman yang berasal dari stasiun TV Al-Jazeera ini dapat di download
    secara gratis di http://www.ziddu.com/download/5155755/Rekaman_Khotbah_Osama_Bin_Laden.zip.html

  2. December 26, 2009 1:07 pm

    Allohuakbar……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: