<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Risalah Tauhid</title>
	<atom:link href="http://majalahtauhid.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majalahtauhid.wordpress.com</link>
	<description>Buletin Jum’at ini diterbitkan oleh Sariyah Dakwah wal I’lam Jamaah Ansharut Tauhid</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Mar 2010 09:13:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='majalahtauhid.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/a2cbca177d7062ca665c96defb2fb094?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Risalah Tauhid</title>
		<link>http://majalahtauhid.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://majalahtauhid.wordpress.com/osd.xml" title="Risalah Tauhid" />
	<atom:link rel='hub' href='http://majalahtauhid.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>HATI ( Bab 4 Racun Hati )</title>
		<link>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/02/05/hati-bab-4-racun-hati-2/</link>
		<comments>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/02/05/hati-bab-4-racun-hati-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 04:23:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Husam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtauhid.wordpress.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[2. Banyak makan Sedikit makan dapat melembutkan hati, menguatkan daya pikir, membuka diri, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya. Miqdam bin Ma&#8217;d Yakrib a berkata, &#8221; Aku mendengar Rasulullah bersabda : “ Tidak ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=202&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>2. Banyak makan</strong></p>
<p>Sedikit makan dapat melembutkan hati, menguatkan daya pikir, membuka diri, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya.</p>
<p>Miqdam bin Ma&#8217;d Yakrib a berkata, &#8221; Aku mendengar Rasulullah bersabda : <em>“ Tidak ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggung, jika tidak bisa maka sepertiga dari perutnya hendaknya diisi untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya “. </em>( Hadist Shahih diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad IV/ 132, At Tirmidzi dalam Az Zuhud VII/ 5 dengan sedikit perbedaan redaksi. Al Hakim mengatakan &#8221; Hadist ini isnadnya Shahih. Hanya Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.&#8221; AdzDzahabi sepakat dengan Al Hakim IV/ 331 )</p>
<p><span id="more-202"></span>Berlebihan dalam makan mengakibatkan banyak hal buruk. Ia akan menggerakkan anggota badan untuk melakukan berbagai kemaksiatan serta menjadikannya merasa berat untuk berbuat taat dan beribadah. Dua hal ini pun sudah cukup sebagai suatu keburukan bagi Anda. Berapa banyak kemaksiatan yang bermula dari keadaan kenyang dan berlebihan dalam makan.</p>
<p>Berapa banyak pula ketaatan dalam keadaan sebaliknya. Maka barangsiapa bisa menjaga keburukan perutnya ia telah menjaga diri dari keburukan yang besar. Pun,setan lebih terampil memperdaya manusia ketika perutnya dipenuhi dengan makanan. Sebagian salaf berkata &#8221; <em>Sebagian pemuda bani Israil bertaabbud ( berpuasa sambil berkhalwat ). Bila datang masa berbuka seorang dari mereka, &#8221; Janganlah makan banyakbanyak, sehingga minum kalian pun menjadi banyak, lalu tidur kalian juga banyak, akhirnya kalian banyak merugi.&#8221; </em></p>
<p>Seringkali Rasulullah dan para sahabat berada dalam keadaan lapar, walaupun memang karena tidak adanya makanan. Tetapi bukankah Allah hanya memilihkan keadaan terbaik bagi Rasul-Nya ? Itulah sebabnya Ibnu Umar a berusaha untuk menyerupai Beliau, walaupun mampu untuk makan apa saja. Demikian pula Ayahnya.</p>
<p>Aisyah meriwayatkan : <em>&#8220;Sejak masuk Madinah keluarga Rasulullah, Beliau belum pernah merasa kenyang oleh roti gandum selama tiga hari berturut-turut sampai Beliau Wafat.” </em>( H.R. Bukhari ( Al Ath&#8217;imah IX/ 549 ) dan Muslim ( Az Zuhd VIII/ 105 ).</p>
<p>Ibrahim bin Adhm berkata : <em>&#8221; Barangsiapa memelihara perutnya akan terpeliharalah dirinya. Barangsiapa mampu menguasai rasa laparnya akan memiliki akhlak yang baik. Sesungguhnya kemaksiatan kepada Allah Ta&#8217;ala itu jauh dari seorang yang lapar dan dekat dengan orang yang kenyang&#8221; </em></p>
<p><strong>C. Berlebihan dalam bergaul </strong></p>
<p>Ini penyakit berbahaya yang mengakibatkan banyak keburukan. Ia dapat menghilangkan nikmat dan menebarkan permusuhan. Ia juga menanamkan kedengkian yang dashyat, yang seandainya ditimpakan kepada gunung-gunung yang kokoh sekalipun meletuslah ia. Dus bergaul secara berlebihan membawa kerugian dunia dan akhirat.</p>
<p>Dalam bergaul, hendaknya kita mengklasifikasikan manusia menjadi empat. Ketidakmampuan kita untuk membedakan masing-masingnya akan membawa bencana.</p>
<p>1. Kelompok yang bergaul dengan mereka seperti konsumsi makanan yang bergizi. Ia dibutuhkan siang dan malam. Jika seseorang telah menyelesaikan keperluannya ia ditinggal, dan jika diperlukan lagi ia didatangi. Demikian seterusnya. Mereka adalah para Ulama, ahli ma&#8217;rifatullah , mema h ami perintah-perintah-Nya mengerti tipu daya musuh-musuhnya, dan memiliki ilmu tentang penyakitpenyakit hati serta obatnya. Mereka adalah orang-orang yang setia kepada Allahk, kitab- Nya, Rasul-Nya dan seluruh makhluk. Bergaul dengan mereka adalah keuntungan yang nyata.</p>
<p>2. Kelompok yang bergaul dengan mereka seperti mengkonsumsi obat. Ia dibutuhkan di kala sakit. Selama anda sehat, anda tidak memerlukan pergaulan dengan mereka. Mereka adalah para profesional dalam urusan mu&#8217;amalah, bisnis, dan semisalnya. Anda harus bergaul dengan mereka, jika anda ingin urusan ma&#8217;isyah anda lancar. Jika kebutuhan anda akan ilmu mereka telah terpenuhi maka ketahuilah tentang :</p>
<p>3. Kelompok yang bergaul dengan mereka berarti mengkomsumsi penyakit. Ada penyakit ganas dan memakan waktu yang lama untuk dapat disembuhkan. Mereka adalah orang-orang yang tidak membawa keuntungan, dunia ataupun akhira t . Bahkan sebaliknya ia membawa kerugian dunia dan akhirat, atau salah satunya. Jika anda bergaul dengannya, sesungguhnya ia adalah penyakit yang membawa kematian dan menakutkan. Ada juga penyakit yang lebih ringa, adalah orang yang bicaranya tidak baik, tidak ada manfaatnya bagi anda. Pun dia tidak bisa diam untuk mengambil manfaaat dari anda. Dia tidak tahu siapa dirinya sehingga mampu menempatkan pada tempatnya. Jika ia berbicara, kata-katanya ibarat sembilu yang mengiris hati orang-orang yang mendengarnya. Namun ia tetap bangga dengan ucapannya. Ia melakukan kepada siapa saja yang bergaul dengannya dan menyangka bahwa ia sedang menebar minyak wangi. Dan jika ia diam, maka ia lebih berat daripada sebongkah batu. Tidak ada seorangpun yang mampu mengangkatnya, mengubah keadaannya.</p>
<p>4. Kelompok yang bergaul dengan mereka adalah kebinasaan total. Mereka ibarat racun. Jika seseorang tidak sengaja memakannya itupun sudah suatu kerugian. Kelompok ini banyak sekali ( semoga Allah mempersedikit jumlah mereka ), mereka adalah ahli bid&#8217;ah dan kesesatan, penghilang sunnah Rasulullah n , yang selalu menyeru untuk menyelisihinya. Mereka menjadikan sunnah sebagai bid&#8217;ah dan sebaliknya.</p>
<p><em>bersambung ke edisi 43 &#8230; </em></p>
<p><em>(dari kitab : Tazkiyatun Nufuz wa Tarbiyatuha kama yuqarrirruhu Ulama As Salaf : Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ibnu Rajab Al Hambali, Imam Al Ghazali )</em></p>
<p><em><a title="Buletin Risalah Tauhid" href="http://majalahtauhid.wordpress.com/download/">Download Buletin</a><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahtauhid.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahtauhid.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahtauhid.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahtauhid.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahtauhid.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahtauhid.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahtauhid.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahtauhid.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahtauhid.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahtauhid.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahtauhid.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahtauhid.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahtauhid.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahtauhid.wordpress.com/202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=202&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/02/05/hati-bab-4-racun-hati-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d1b21ddd1cfd9446519395d128dc23b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Husam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HATI ( Bab 4 Racun Hati )</title>
		<link>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/02/05/hati-bab-4-racun-hati/</link>
		<comments>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/02/05/hati-bab-4-racun-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 03:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Husam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtauhid.wordpress.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[1. Banyak bicara Kepada Muadz&#8217; bin Jabal a. Rasulullah n bertanya , “Maukah kamu aku beritahukan kunci dari semua itu ? Aku ( Muadz ) menjawab : Tentu ya Rasulullah , Lalu Rasulullah memegang lidahnya dan berkata : &#8221; Peliharalah ini&#8221;, aku pun bertanya : &#8221; Wahai Nabi Allah, benarkah kita akan disiksa karena pembicaraan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=197&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Banyak bicara </strong></p>
<p>Kepada Muadz&#8217; bin Jabal a. Rasulullah n bertanya , <em>“Maukah kamu aku beritahukan kunci dari semua itu ? </em>Aku ( Muadz ) menjawab : <em>Tentu ya Rasulullah </em>, Lalu Rasulullah memegang lidahnya dan berkata : <em>&#8221; Peliharalah ini&#8221;</em>, aku pun bertanya : &#8221; <em>Wahai Nabi Allah, benarkah kita akan disiksa karena pembicaraan kita &#8221; ? </em>. Rasulullah menjawab : <em>&#8221; Ibumu kehilanganmu ( Kalimat yang biasa digunakan untuk menekankan suatu masalah ), Muadz ! bukankah manusia itu diseret ke neraka pada wajah-wajah mereka atau hidung-hidung mereka disebabkan oleh buah perkataan mereka.? </em>( H.R. At Tirmidzi Al Iman, VII/ 362 dan hakim dalam Al Mustadrak fi At Tafsir VI/ 142,shahih sesuai dengan syarat Bukhari- Muslim ).</p>
<p>Yang dimaksud dengan buah perkataan adalah balasan atas perkataan yang haram dan berbagai akibatnya. Dengan berbicara dan beramal seorang itu telah menanamkan kebaikan atau keburukan. Di Hari kiamat nanti, ia akan menuai buahnya. Barangsiapa menanam kebaikan ia akan menuai karamah. Dan barangsiapa menanam keburukan ia akan menuai penyesalan.</p>
<p><span id="more-197"></span>Abu Hurairah meriwayatkan : <em>“Yang paling banyak menjerumuskan menusia ke neraka adalah dua lubang. Mulut dan kemaluan &#8221; . </em>( H.R. At Tirmidzi dalam Al Birr was Shilah VI/ 142. Beliau berkata &#8221; Hadist ini shahid gharib. &#8221; Juga Al Hakim, dalam Al Mustadrak fi Raqa&#8217;iq IV/ 324. )</p>
<p>Rasulullah bersabda : <em>“Sesungguhnya ada seseorang yang mengucapkan kalimat yang tidak jelas tetapi karenanya ia terjerembab di neraka, lebih jauh dari jarak Timur hingga Barat. &#8221; </em>( H.R. Bukhari ( Raqa&#8217;iq , XI/ 308 ) dan Muslim ( Az Zuhd, XVIII/ 117 ).</p>
<p>Diriwayatkan pula oleh At Tirmidzi dengan lafal <em>“Sesungguhnya ada seseorang yang mengucapkan kalimat yang ia anggap biasa tetapi karenanya ia terjun ke neraka sejauh tujuh puluh tahun. &#8221; </em>( H.R. At Tirmidzi ( Ar Raqa&#8217;iq, VI/ 604 ), Beliau berkata &#8221; Hadist ini Shahih Gharib &#8221; )</p>
<p>Uqbah bin Amir a bertanya kepada : &#8221; <em>Wahai Rasulullah apakah keselamatan itu ?</em>, Rasulullah n menjawab : <em>&#8221; Peliharalah lidahmu ! hendaknya rumahmu membuatmu merasa lapang ! dan menangislah atas kesalahan-kesalahanmu &#8220;. </em>( Hadist Hasan oleh At Tirmidzi dalam Az Zuhd VII/ 87, dengan sedikit perbedaan redaksi. )</p>
<p>Rasulullah bersabda : <em>&#8220;Barangsiapa memberi jaminan untuk menjaga apa yang ada diantara dua jenggotnya ( mulut ) dan dua paha ( kemaluan ) aku jamin baginya surga &#8220;. </em>( H.R. Bukhari ( Ar Raqa&#8217;iq , XI/ 308 dan Al Hudud, XII/ 113 ) dari Sahl bin Sa&#8217;ad.) <em>&#8221; Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam . &#8221; </em>( H.R. Bukhari ( Ar Raqa&#8217;iq XI/ 308 ) dan Muslim ( Al Iman II/ 18 ).</p>
<p>Hadist ini memuat perintah Rasulullah n untuk berbicara yang baik-baik saja dan diam dari selainya. Pembicaraan itu hanya ada dua : Yang setiap hamba diperintahkan untuknya, dan selainnya, yang setiap hamba diperintahkan untuk diam darinya.</p>
<p>Rasulullah bersabda : <em>&#8221; Seluruh pembicaraan anak Adam itu menjadi ancaman baginya selain amar ma&#8217;ruf nahyi mungkar dan dzikrullah &#8220;</em></p>
<p><em> </em>Suatu ketika Umar bin Khattab mengunjungi Abu Bakar Ash Shidiq.  Umar mendapatinya sedang menarik lidah dengan tangannya. Umar bertanya : <em>&#8221; Apa yang anda lakukan ? &#8221; Semoga Allah mengampunimu ! </em>Abu Bakar menjawab. <em>“ Inilah benda yang akan menjerumuskan ke neraka &#8221; </em>. ( Hadist Hasan. Adapun kelengkapannya adalah Rasulullah n bersabda &#8221; <em>Tidak ada satu bagian tubuh pun kecuali ia mengeluhkan kelancangan lidah.&#8221; </em>( H.R. Abu Ya&#8217;la dalam Musnad dan Al Baihaqy dalam Syu&#8217;batul Iman. Lihat Takhrij Ihya Al Iraqiy VII/ 1539 )</p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud berkata : <em>&#8221; Demi Allah yang tidak ada Ilah selain Dia ! Tidak ada sesuatu yang lebih perlu untuk dipenjarakan selain lisanku. &#8221; </em>Dia juga berkata : &#8221; <em>Wahai lisan, ucapkanlah yang baik-baik, niscaya kamu akan beruntung ! berhentilah dari mengucap yang buruk-buruk, niscaya kamu akan selamat sebelum menyesal !&#8221;. </em></p>
<p>Ibnu Abbas berkata : <em>&#8221; Telah sampai kepadaku seseorang yang mengatakan bahwa tidak ada satu bagian dari tubuhnya yang paling dimurkai pada hari kiamat melebihi lisannya &#8211; kecuali yang menggunakannya untuk mengucapkan yang baik-baik atau mengisinya dengan kebaikan &#8221; .</em></p>
<p>Al Hasan Al Bashri berkata <em>&#8221; Orang yang tidak menjaga lisannya, dianggap tidak memahami diennya ( agama ) nya .&#8221; </em></p>
<p>Bencana Lisan yang paling sedikit mudharatnya adalah berbicara tentang yang tidak berfaidah. Untuk menjelaskannya, cukuplah sabda Rasulullah n <em>“Merupakan kebaikan keislaman seseorang jika ia meninggalkan sesuatu yang tidak berfaedah baginya. “ </em>( Hadist Shahih diriwayatkan At Tirmidzi dalam Az Zuhd VI/ 607, Ahmad ( Al Musnad I/ 201 ). Dalam tahqiq Musnad, Syaikh Ahmad Syakir mengatakan isnadnya shahih ).</p>
<p>Al Hasan juga berkata : &#8221; <em>Diantara yang menghalangi berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah ketika ia menganggap kesibukannya dalam urusan yang tidak berfaedah merupakan suatu kehinaan dari Allah.</em>k<em>&#8221; </em></p>
<p>Sahl berkata : &#8221; <em>Barangsiapa berbicara tentang sesuatu yang tidak berguna baginya, ia akan terhalang dari kejujuran &#8220;. </em></p>
<p>Apa yang kita sebut diatas adalah bencana lisan yang terkecil mudharatnya. Lalu bagaimana dengan Ghibah, namimah,  kata-kata yang batil dan keji. Kata-kata yang mengandung dua makna, perdebatan, pengaduan, nyanyian, kedustaan, menyanjungnyanjung, mengolok-olok, penghinaan, kekeliruan dalam pembicaraan dan lainnya. Yang semuanya adalah bencana yang menimpa lisan seorang hamba untuk seterusnya merusak hatinya, dan juga menhilangkan kebahagiaan dan kesenangan yang ia rasakan di dunia dan menghilangkan keberuntungan dan kemenangan akhirat ?</p>
<p>Wallahu Musta&#8217;an <em>bersambung ke edisi 42 &#8230; </em></p>
<p><em>(dari kitab : Tazkiyatun Nufuz wa Tarbiyatuha kama yuqarrirruhu Ulama As Salaf : Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ibnu Rajab Al Hambali, Imam Al Ghazali )</em></p>
<p><em><a title="Buletin Risalah Tauhid" href="http://majalahtauhid.wordpress.com/download/">Download buletin</a><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahtauhid.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahtauhid.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahtauhid.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahtauhid.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahtauhid.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahtauhid.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahtauhid.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahtauhid.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahtauhid.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahtauhid.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahtauhid.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahtauhid.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahtauhid.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahtauhid.wordpress.com/197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=197&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/02/05/hati-bab-4-racun-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d1b21ddd1cfd9446519395d128dc23b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Husam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HATI (2)</title>
		<link>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/01/11/hati-2/</link>
		<comments>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/01/11/hati-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 03:21:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Husam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtauhid.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[INDIKASI SEHATNYA HATI Kerinduannya kepada khidmah seperti kerinduannya seorang yang lapar kepada makanan dan minuman. Yahya bin Muadz berkata : Barangsiapa senang untuk berkhidmah kepada Allah Ta&#8217;ala, segala sesuatu akan senang berkhidmah kepadanya. Barangsiapa tentram dan sejuk hatinya lantaran taat kepada Allah Ta&#8217;ala , sejuk dan tentram hati pulalah semua yang memandangnya. 2. Siempunya hati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=189&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>INDIKASI SEHATNYA HATI</strong></p>
<ol>
<li>Kerinduannya kepada khidmah seperti kerinduannya seorang yang lapar kepada makanan dan minuman. Yahya bin Muadz berkata : Barangsiapa senang untuk berkhidmah kepada Allah Ta&#8217;ala, segala sesuatu akan senang berkhidmah kepadanya. Barangsiapa tentram dan sejuk hatinya lantaran taat kepada Allah Ta&#8217;ala , sejuk dan tentram hati pulalah semua yang memandangnya.</li>
<li><strong><em>2. </em></strong>Siempunya hati yang sehat hanya memiliki satu keinginan : <strong><em>taat kepada Allah Ta&#8217;ala. </em></strong></li>
<li>Sangat bakhil kepada waktu, menyesal jika terbuang sia-sia. Kebakhilannya terhadap waktu melebihi kebakhilan manusia terkikir kepada hartanya.</li>
<li>Jika telah masuk waktu sholat lenyaplah segala harapan dan kesedihannya terhadap dunia. Ia mendapatkan kelapangan, kenikmatan, penyejuk mata dan penyejuk jiwa dalam shalat itu.</li>
<li>Tidak pernah letih untuk berdzikir kepada Allah Ta&#8217;ala tidak pernah bosan untuk berkhidmah kepada Allah Ta&#8217;ala dan tidak bersikap manis kecuali kepada orang yang menunjukkan jalan kebenaan atau mengingatkannya akan Rabb-Nya.</li>
<li>Perhatiannya untuk membenarkan amalan ( membuat suatu amal dilaksanakan secara benar ) melebihi perhatiannya untuk beramal, sehingga ia akan berusaha untuk <em>ikhlas, loyal, ittiba&#8217; dan ihksan </em>di dalamnya.. bersamaan dengan itu ia menyaksikan betapa banyak anugerah yang Allah Ta&#8217;ala berikan kepadanya dan ia tetap menyadari betapa ia telah banyak melalaikan hak-hak-Nya.</li>
</ol>
<p><span id="more-189"></span><br />
<strong>PENYEBAB SAKITNYA HATI </strong></p>
<p>Musibah yang menimpa dan menyebabkan sakitnya hati ada dua, <strong><em>musibah syahwat </em></strong>yang merusak niat dan iradah, dan <strong><em>musibah syubhat </em></strong>yang merusak ilmu dan I&#8217;tiqod ( keyakinan ). Rasulullah SAW bersabda :</p>
<p><em>Musibah ( fitnah ) itu masuk kedalam hati seperti dianyamnya tikar, sehelai demi sehelai. Hati manapun yang menerimanya akan tertitiklah padanya setitik noda hitam. Hati manapun yang menolaknya akan tertitiklah padanya setitik cahaya putih. Akhirnya hati akan terbagi menjadi dua, hati yang hitam legam cekung seperti gayung yang terbalik, tidak mengenal kebaikan tidak pula mengingkari kemungkaran., selain yang dikehendaki oleh hawa nafsunya, dan hati putih bercahaya yang tidak akan tertimpa madharat fitnah, , langit dan bumi masih ada. ( H.R. Muslim Al Iman II/ 170 dengan lafal yang berbeda ) </em></p>
<p>Rasulullah SAW mengelompokkan hati ketika tertimpa musibah fitnah menjadi dua :</p>
<p><em>Pertama </em>, Hati yang selalu menyerapnya seperti bunga karang yang selalu menyerap air. Maka tertitiklah padanya setitik noda hitam. Demikian seterusnya sehingga hati itu menjadi hitam dan terbalik. Inilah maksud tamsil (perumpamaan) Rasulullah SAW, <em>&#8221; seperti gayung terbalik &#8221; </em></p>
<p>Jika telah hitam dan terbalk maka, akan datanglah dua penyakit yang sangat berbahaya yang akan mengantarkan ke jurang kehancuran :</p>
<ol>
<li>Tercampur aduknya kebaikan dengan kemungkaran, sehingga ia tidak lagi mengenalinya. Bahkan ia mungkin dikuasai oleh penyakit ini, sehingga ia menyakini kemungkaran sebagai suatu kebaikan. Kebaikan sebagai kemungkaran, sunnnah sebagai bid&#8217;ah, bid&#8217;ah sebagai sunnah, kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.</li>
<li>Menjadikan hawa nafsu sebagai hakim, pemimpin dan panutan dengan meninggalkan semua yang dibawa oleh Rasulullah SAW.</li>
</ol>
<p><em>Kedua</em>, Hati putih yang bercahaya dengan cahaya iman, jika musibah fitnah datang ia pun mengingkari dan menolaknya, sehingga ia pun semakin bercahaya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>EMPAT RACUN HATI </strong></p>
<p>Ketahuilah, setiap kemaksiatan adalah racun bagi hati, ia menjadi penyebab sakit dan kehancurannya, memalingkan iradahnya dan iradah Allah Ta&#8217;ala, dan menambah parah penyakitnya. Abdullah bin Mubarak berkata :</p>
<p><em>Kulihat dosa-dosa itu mematikan hati </em></p>
<p><em>Membiasakannya mengakibatkan kehinaan </em></p>
<p><em>Meninggalkannya adalah kehidupan bagi hati </em></p>
<p><em>Selalu menjauhinya adalah yang tebaik buat anda </em></p>
<p>Maka barangsiapa menginginkan keselamatan dan kehidupan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun itu. Kemudia menjaganya jangan sampai ada racun lain mengotorinya.</p>
<p>Adapun jika tanpa sengaja ia mengambil salah satunya ia harus segera bersegera untuk membuangnya dan menghapus pengaruhnya dengan cara bertaubat, beristigfar dan mengerjakan amal shalih yang dapat menghapus kesalahan.</p>
<p>Yang dimaksud dengan empat racun hati adalah :</p>
<ol>
<li>Banyak bicara</li>
<li>banyak makan</li>
<li>banyak memandang</li>
<li>banyak bergaul</li>
</ol>
<p>Keempat racun ini adalah yang paling banyak tersebar dan paling berbahaya bagi kehidupan hati.</p>
<p>Insya Allah empat racun hati ini akan kita bahas satu-persatu dalam edisi mendatang</p>
<p><em>(dari kitab : Tazkiyatun Nufuz wa Tarbiyatuha kama yuqarrirruhu Ulama As Salaf : Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ibnu Rajab Al Hambali, Imam Al Ghazali ) </em></p>
<p><em><a title="Buletin Risalah Tauhid" href="http://majalahtauhid.wordpress.com/download/" target="_blank">Download buletin</a><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahtauhid.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahtauhid.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahtauhid.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahtauhid.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahtauhid.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahtauhid.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahtauhid.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahtauhid.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahtauhid.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahtauhid.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahtauhid.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahtauhid.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahtauhid.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahtauhid.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=189&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/01/11/hati-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d1b21ddd1cfd9446519395d128dc23b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Husam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HATI</title>
		<link>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/01/05/hati/</link>
		<comments>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/01/05/hati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 08:03:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Husam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtauhid.wordpress.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban ( Al Isra&#8217; : 36 ) Peran hati bagi seluruh anggota badan ibarat raja bagi para prajuritnya. Semua bekerja berdasar perintahnya. Semua tunduk kepadanya. Karena perintah hatilah, istiqamah dan penyelewengan itu ada. Begitu pula semangat untuk bekerja. Rasulullah SAW bersabda : Ketahuilah, didalam tubuh itu ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=183&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban </em>( Al Isra&#8217; : 36 )</p>
<p>Peran hati bagi seluruh anggota badan ibarat raja bagi para prajuritnya. Semua bekerja berdasar perintahnya. Semua tunduk kepadanya. Karena perintah hatilah, istiqamah dan penyelewengan itu ada. Begitu pula semangat untuk bekerja. Rasulullah SAW bersabda :</p>
<p>Ketahuilah, didalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati. <em>( H.R. Bukhari ( Al Iman 1/126 ) dan Muslim ( Al Musaqat XI/26 ) Keduanya merupakan riwayat dari Nu&#8217;man bin Basyir. ) </em></p>
<p>Hati adalah raja. Seluruh tubuh adalah pelaksana titah-titahnya, siap menerima hadiah apa saja. Aktifitas tidak dinilai benar jika tidak diniatkan dan dimaksudkan oleh sang hati. Di kemudian hari, hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.</p>
<p><span id="more-183"></span>Maka pembenaran dan penelusuran hati merupakan perkara yang paling utama untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan Allah Ta&#8217;ala. Demikian pula mengkaji penyakitpenyakit hati dan metode mengobatinya merupakan bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah.</p>
<p><strong>Macam-macam hati </strong></p>
<p>Hati itu bisa hidup dan bisa mati. Sehubungan dengan itu, hati dapat dikelompok menjadi:</p>
<ol>
<li>Hati yang sehat</li>
<li>Hati yang mati</li>
<li>Hati yang sakit</li>
</ol>
<p>Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Barangsiapa pada hari kiamat nanti menghadap Allah tanpa membawa hati yang sehat, akan celaka.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman : <em>Adalah hari, yang mana harta dan anakanak tidak bermanfaat kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat ( sehat ) . Asy Syura : 88-89 . </em></p>
<p>Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah dan dari setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran, hati yang tidak pernah beribadah kepada Allah dan berhukum kepada selain Rasulullah. &#8216;<em>Ubudiyah</em>nya murni kepada Allah. <em>Iradah, mahabbah, inabah, ikhbat, khassyah, raja&#8217; </em>dan <em>amal</em>nya semuanya lillah, semata karena Allah.</p>
<p>Jika ia mencintai, membenci, memberi, dan menahan diri, semuanya dilakukan karena Allah. Ini saja tidak dirasa cukup sampai ia benar-benar terbebas dari sikap tunduk dan berhukum kepada selain Rasulullah. Hatinya telah terikat kepadanya dengan ikatan yang kuat untuk menjadikannya sebagai satusatunya panutan, dalam perkataan dan perbuatan. Ia tidak akan berani bersikap lancing, mendahuluinya dalam hal aqidah, perkataan maupun perbuatan.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman : <em>Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bersikap lancing ( mendahului ) Allah dan Rasul-Nya, dan bertaqwalah kepada Allah!. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui. ( Al Hujurat : 1 ) </em></p>
<p>Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Rabbnya. Ia tidak pernah beribadah kepada-Nya, enggan menjalankan perintah-Nya a t au menghadirkan sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya. Hati seperti ini selalu berjalan bersama hawa nafsu dan kenikmatan duniawi, walaupun itu dibenci dan dimurkai Allah Ta&#8217;ala. Ia tidak peduli kepada keridhaan Allah atau kemurkaan Allah Ta&#8217;ala. Baginya yang penting adalah memenuhi keinginan hawa nafsu. Ia menghamba kepada selain Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p>Jika ia mencintai, membenci, memberi dan menahan diri, semuanya karena hawa nafsu. Hawa nafsu telah menguasainya dan lebih ia cintai daripada keridhaan Allah. Hawa nafsu telah menjadi pemimpin dan pengendali baginya. Kebodohan adalah supirnya, dan kelalaian adalah kendaraan baginya. Seluruh pikirannya dicurahkan untuk menggapai target-targer duniawi.</p>
<p>Ia diseru kepada Allah dan negeri akhirat, tetapi ia berada ditempat yang jauh, sehingga ia tidak menyambutnya. Bahkan ia setia mengikuti setan yang sesat. Hawa nafsu telah menjadikannya tuli dan buta terhadap kebenaran. <em>( disebutkan dalam sebuah hadist , &#8221; Cintamu kepada sesuatu akan membutakan dan menulikanmu. &#8221; diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Al Adab XIV/38 secara marfu&#8217; dan oleh Imam Ahmad dalam Musnad V/194 secara marfu&#8217;, juga VI/450 secara mauquf. Semuanya dari Abu Darda&#8217;. Abu Dawud tidak mengomentari hadist ini. Namun sebagian ulama menghasankannya, dan sebagian yang lain mendhaifkannya.)</em>.</p>
<p>Bergaul dengan orang yang hatinya mati adalah penyakit, berteman dengannya adalah racun, dan bermajlis dengan mereka adalah bencana.</p>
<p>Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Ia akan mengikuti unsur yang kuat. Kadangkadang cenderung kepada &#8221; <em>kehidupan </em>&#8221; dan kadang-kadang ia cenderung kepada <em>“penyakit”. </em>Padanya terdapat kecintaan, keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada Allah yang me rupakan sumber kehidupannya. Padanya pula ada kecintaan dan ketamakan kepada syahwat, hasad ( hasad atau dengki adalah sikap tidak suka melihat orang lain mendapat nikmat dan mengharapkan nikmat itu lenyap darinya), <em>kibr </em>( Kibr atau sombong adalah menganggap remeh orang lain. Rasulullah SAW bersabda : &#8221; <em>Kibr adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain &#8221; H.R. Muslim II/89 )</em>, dan sifat ujub, yang merupakan sumber bencana dan kehancurannya.</p>
<p>Ia ada diantara dua penyeru, penyeru kepada Allah, Rasul dan hari akhir, dan penyeru kepada kehidupan duniawi. Seruan yang akan disambut adalah seruan yang paling dekat dan paling akrab.</p>
<p>Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang <em>hidup, khusyu&#8217;, tawadhu&#8217; lembut dan selalu terjaga</em>. Hati yang kedua adalah hati yang <em>gersang dan mati</em>. Hati yang ketiga adalah hati yang sakit. Kadang-kadang dekat kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan.</p>
<p><strong>Indikasi Sakit dan Sehatnya hati. </strong></p>
<p>Hati seseorang itu bisa sakit, sakitnya hati bisa semakin parah dan ia tidak menyadarinya. Bahkan bisa jadi hati telah mati tanpa disadari pemiliknya. Pertanda hati itu sakit atau telah mati adalah : <em>ia tidak lagi dapat merasakan sakitnya bermaksiat dan betapa menderitanya berada dalam kebodohan tentang kebenaran serta memiliki aqidah yang sesat</em>. Sebab, hati yang hidup pasti merasa tersiksa bila melakukan perbuatan buruk. Begitu pula jika ia bodoh tentang kebenaran.Terkadang seorang yang memiliki hati yang sakit dapat merasakan penyakitnya. Namun ia tidak tahan mengecap pahitnya obat penawar. Dan ia memilih menderita penyakit selamanya.</p>
<p>Diantara tanda sakitnya hati, adalah keengganan mengkonsumsi &#8221; <em>makanan </em>&#8221; yang bermanfaat, justru cenderung kepada yang mendatangkan mudharat. Juga enggan terhadap obat yang berguna dan cenderung kepada penyakit yang berbahaya. Hati yang sehat selalu mengutamakan &#8221; makanan &#8221; yang bermanfaat daripada racun yang mematikan. Makanan terbaik adalah keimanan. Obat terbaik adalah Al Qur&#8217;an.</p>
<p>Adapun tanda sehatnya hati adalah &#8220;kepergiannya&#8221; dari dunia menuju ke negeri akhirat. Di sana ia tinggal, dan seakan-akan menjadi penghuninya. Kehadirannya di dunia ini ibarat orang asing yang mengambil kebutuhannya, lalu ia kembali ke negerinya Kepada Abullah bin Umar Rasulullah berpesan : <em>Di dunia ini hendaknya kamu berlaku seperti orang asing, atau orang yang lewat. ( H.R. Bukhari, Ar Raqa&#8217;iq I/233 ). </em></p>
<p>Tanda sehatnya hati adalah : selalu mengingatkan si empunya, sehingga ia mau kembali ke jalan Allah Ta&#8217;ala. Tunduk dan bergantung kepada-Nya seperti bergantungnya seorang yang mencinta kepada yang dicintanya. Ia hanya butuh cinta- Nya. Ia selalu berdzikir dan berkhidmat kepada-Nya.</p>
<p>Tanda sehatnya hati adalah : jika siempunya hati ketinggalan atau tidak sempat melaksanakan wirid ( bacaan rutin berupa dzikir atau Al Qur&#8217;an ) atau suatu ibadah, ia akan merasa sakit dan tersiksa melebihi orang kaya yang kehilangan harta. <em>(dari kitab : Tazkiyatun Nufuz wa Tarbiyatuha kama yuqarrirruhu Ulama As Salaf : Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ibnu Rajab Al Hambali, Imam Al Ghazali )</em></p>
<p><em>Download Buletin <a title="Buletin Risalah Tauhid" href="http://majalahtauhid.wordpress.com/download/">disini</a><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahtauhid.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahtauhid.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahtauhid.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahtauhid.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahtauhid.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahtauhid.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahtauhid.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahtauhid.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahtauhid.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahtauhid.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahtauhid.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahtauhid.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahtauhid.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahtauhid.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=183&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/01/05/hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d1b21ddd1cfd9446519395d128dc23b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Husam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IKHLAS(4)</title>
		<link>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/01/05/ikhlas4/</link>
		<comments>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/01/05/ikhlas4/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 07:47:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Husam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtauhid.wordpress.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[F. RIYA DAN JENIS-JENISNYA ( Kitab Al Ikhlas Hal. 63-67 ) Di antara jenis riya&#8217; ialah sebagi berikut. 1. Riya Yang Berkaitan Dengan Badan Misalnya dengan menampakkan kekurusan dan wajah pucat, agar penampakan ini, orang-orang yang melihatnya menilainya memiliki kesungguhan dan dominannya rasa takut terhadap akhirat. Dan yang mendekati penampilan seperti ini ialah dengan merendahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=180&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>F. RIYA DAN JENIS-JENISNYA </strong>( Kitab Al Ikhlas Hal. 63-67 )</p>
<p>Di antara jenis riya&#8217; ialah sebagi berikut.</p>
<p>1. Riya Yang Berkaitan Dengan Badan Misalnya dengan menampakkan kekurusan dan wajah pucat, agar penampakan ini, orang-orang yang melihatnya menilainya memiliki kesungguhan dan dominannya rasa takut terhadap akhirat. Dan yang mendekati penampilan seperti ini ialah dengan merendahkan suara, menjadikan dua matanya menjadi cekung, menampakkan keloyoan badan, untuk menampakkan bahwa ia rajin berpuasa.</p>
<p>2. Riya Dari Sisi Pakaian Misalnya, sengaja membuat bekas sujud pada wajah, mengenakan pakaian jenis tertentu yang biasa dikenakan oleh sekelompok orang yang masyarakat menilai mereka sebagai ulama, maka dia mengenakan pakaian itu agar dikatakan sebagai orang alim.</p>
<p><span id="more-180"></span>3. Riya Dengan Perkataan Umumnya, riya&#8217; seperti ini dilakukan oleh orang-orang yang menjalankan agama. Yaitu dengan memberi nasihat, memberi peringatan, menghafalkan hadits-hadits dan riwayat-riwayat, dengan tujuan untuk berdiskusi dan melakukan perdebatan, menampakkan kelebihan ilmu, berdzikir dengan menggerakkan dua bibir di hadapan orang banyak, menampakkan kemarahan terhadap kemungkaran di hadapan manusia, membaca Al-Qur&#8217;an dengan merendahkan dan melembutkan suara. Semua itu untuk menunjukkan rasa takut, sedih, dan khusyu&#8217; (kepada Allah, pent).</p>
<p>4. Riya&#8217; Dengan Perbuatan Seperti riya&#8217;nya seseorang yang shalat dengan berdiri sedemikian lama, memanjangkan ruku, sujud dan menampakkan kekhusyu&#8217;an, riya&#8217; dengan memperlihatkan puasa, perang (jihad), haji, shadaqah dan semacamnya.</p>
<p>5. Riya&#8217; Dengan Kawan-Kawan Dan Tamu-Tamu. Seperti orang yang memberatkan dirinya meminta kunjungan seorang alim (ahli ilmu) atau &#8216;abid (ahli ibadah ), agar dikatakan “sesungguhnya si Fulan telah mengunjungi si Fulan”. Atau juga  mengundang orang banyak untuk mengunjunginya, agar dikatakan “sesungguhnya orang-orang baragama sering mendatanginya”.</p>
<p><strong>G. BEBERAPA PERKARA YANG TIDAK TERMASUK RIYA’ </strong></p>
<p>Ada beberapa perkara yang disangka oleh sebagian orang sebagai perbuatan riya&#8217;, namun sesungguhnya bukanlah demikian. Perkara tersebut diantaranya :</p>
<p>1. <strong>Pujian manusia atas seorang hamba atas amal baik yang ia lakukan tetapi bukan tujuannya untuk dipuji</strong>. Apabila seseorang mengamalkan suatu perbuatan dengan ikhlas dan sampai selesai amal itu pun dilakukan dengan ikhlas, kemudian ada yang mengetahui amal itu lalu memujinya, namun ia tidak menghendaki yang demikian itu, maka hal itu tidak termasuk riya&#8217;. Seperti dalam hadits Abu Dzar -Rodliallohu anhu- . Dari Abu Dzar ia berkata,<em>” Ya Rosululloh, bagaimana pendapat engkau tentang seseorang yang mengerjakan satu amal kebaikan, lalu orang memujinya? Beliau menjawab,&#8217; itu merupakan kabar gembira bagi orang mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia.”</em>(H.R. Muslim 2642, Ibnu Majah dan Ahmad). Namun ia tidak berlaku ujub dan tidak pula sengaja agar orang tahu kebaikannya.</p>
<p>2. <strong>Giatnya seorang hamba dalam berbuat kebaikan ketika ada orang yang melihatnya dan ketika menemani orang-orang yang ikhlas dan orang shalih. </strong>(Ibnu Qodamah menjelaskan dalam kitabnya Mukhtashor Minhajul Qoshidin hal 288,) Adakalnya seseorang berada di tengah orang-orang yang tekun beibadah. Ia melakukan sholat hampir sebagian besar malam karena kebiasaan mereka adalah bangun malam. Dia pun mengikuti mereka melaksanakan sholat dan puasa. Andai kata mereka tidak melaksanakan sholat malam, maka ia pun tidak tergugah untuk melakukan kegiatan itu. Mungkin orang ada yang menganggap bahwa kegiatan orang itu termasuk riya&#8217;, padahal tidak demikian sebenarnya, bahkan hal itu perlu dirinci. Setiap orang mukmin tentunya ingin banyak beribadah kepada Allah, namun terkadang ada satu dua hal yang menghambat atau yang melalaikannya. Maka boleh jadi dengan melihat orang lain yang aktif dalam melakukan kegiatan ibadah membuatnya mampu menyingkirkan hambatan dan kelalaian itu. Bila seseorang berada dirumahnya, lebih mudah baginya untuk tidur diatas kasur yang empuk. tetapi bila ia berada di tempat yang jauh, ia tidak disibukkan dengan hal-hal itu. Kemudian ada beberapa factor pendorong yang membangkitkannya untuk berbuat kebaikan diantaranya keberadaannya di tengah orang lain yang beribadah atau disaksikan oleh mereka. Boleh jadi seseorang merasa berat untuk berpuasa di rumah, karena didalamnya banyak makanan. Dalam keadaan seperti ini syetan terus menggodanya untuk menghalanginya dari ketaatan sambil berkata,” Jika engkau berbuat di luar kebiasannmu, berarti engkau adalah orang yang berbuat riya&#8217;.” maka dia tidak boleh memperdulikan bisikan syaithon ini. Dia harus melihat pada tujuan batinnya dan jangan sekali-kali ia menuruti bisikan syetan.</p>
<p>3. <strong>Membaguskan dan Memperindah pakaian, sandal dan semacamnya </strong>Di dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas&#8217;ud Radhiyallahu &#8216;anhu, dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau bersabda : “<em>Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi”. Seorang laki-laki bertanya : “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan ?”</em>. Beliau menjawab : <em>“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan dan kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” </em>(H.R. Muslim no. 2749 )</p>
<p>4. <strong>Tidak menceritakan dosa-dosanya dan menyembunyikan </strong>Ini merupakan kewajiban menurut syari&#8217;at atas setiap muslim, tidak boleh menceritakan kemaksiatankemaksiatan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. <em>“Semua umatku akan diampuni (atau : tidak boleh dighibah) kecuali orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan, yaitu seseorang yang melakukan perbuatan (kemaksiatan) pada waktu malam dan Allah telah menutupinya (yakni, tidak ada orang yang mengetahuinya, Pent), lalu ketika pagi dia mengatakan : “Hai Fulan, kemarin aku melakukan ini dan itu”, padahal pada waktu malam Allah telah menutupinya, namun ketika masuk waktu pagi dia membuka tirai Allah terhadapnya” </em>(H.R. Al-Bukhari, no. 6069, Muslim no. 2990 ) Menceritakan dosa-dosa memiliki banyak kerusakan, di antaranya, mendorong seseorang untuk berbuat maksiat di tengah-tengah hamba dan menyepelekan perintah-perintah Allah Ta&#8217;ala. Barangsiapa menyangka bahwa menyembunyikan dosa-dosa merupakan riya&#8217; dan menceritakan dosa-dosa merupakan keikhlasan, maka orang itu telah dirancukan oleh setan. Kita berlindung kepada Allah darinya.</p>
<p>5. <strong>Menampakkan Syi&#8217;ar-syi&#8217;ar agama Islam. </strong>Didalam Islam ada beberapa ibadah yang tidak mungkin disembunyikan dalam pelaksanaanya, seperti haji, umroh, sholat jumat, sholat jama&#8217;ah yang lima waktu dan lainnya. Seorang muslim tidak dikatakan berbuat riya&#8217; bila ia menampakkan amal-amal ini. Karena termasuk hal amal-amal yang wajib yaitu ditampakkan dan dimasyurkan serta melakukannya adalah termasuk syiar-syiar agama Islam. Orang yang meninggalkannya akan terkena celaan dan kutukan. Jika amal sunnah hendaknya disembunyikan karena tidak tercela bagi seseorang untuk meninggalkannya. namun jika ia menampakkan amal itu dengan tujuan supaya orang lain mengikuti sunnah tersebut, maka hal ini adalah baik. Sesungguhnya riya&#8217; itu apabila tujuannya menampakkan amal tersebut supaya dilihat, dipuji dan disanjung manusia.</p>
<p>6. <strong>Seorang Hamba Yang Meraih Ketenaran Dengan Tanpa Mencarinya </strong>Al-Maqdisi berkata : <em>“ Yang tercela, ialah seseorang mencari ketenaran. Adapun adanya ketenaran dari sisi Allah Ta&#8217;ala tanpa usaha menusia untuk mencarinya, maka demikian itu tidak tercela. Namun adanya ketenaran itu merupakan cobaan bagi orang-orang yang lemah (imannya). ( </em>Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal : 218)</p>
<p>Download Buletin <a title="Buletin Risalah Tauhid" href="http://majalahtauhid.wordpress.com/download/">disini</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahtauhid.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahtauhid.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahtauhid.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahtauhid.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahtauhid.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahtauhid.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahtauhid.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahtauhid.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahtauhid.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahtauhid.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahtauhid.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahtauhid.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahtauhid.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahtauhid.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=180&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtauhid.wordpress.com/2010/01/05/ikhlas4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d1b21ddd1cfd9446519395d128dc23b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Husam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IKHLAS (3)</title>
		<link>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/12/23/ikhlas-3/</link>
		<comments>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/12/23/ikhlas-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 08:57:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Husam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtauhid.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[D. Riya itu Samar Sungguh benar sabda Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasallam bahwasanya riya itu samarsehingga terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah melakukan yang sebaik-baiknya. Dikisahkan bahwasanya ada seseorang yang selalu sholat berjama&#8217;ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga sholat di saf yang kedua, ia pun merasa malu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=172&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>D. Riya itu Samar</strong></p>
<p>Sungguh benar sabda Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bahwasanya riya itu samarsehingga terkadang menimpa seseorang padahal ia menyangka bahwa ia telah melakukan yang sebaik-baiknya.</p>
<p>Dikisahkan bahwasanya ada seseorang yang selalu sholat berjama&#8217;ah di shaf yang pertama, namun pada suatu hari ia terlambat sehingga sholat di saf yang kedua, ia pun merasa malu kepada jama&#8217;ah yang lain yang melihatnya sholat di shaf yang kedua. Maka tatkala itu ia sadar bahwasanya selama ini senangnya hatinya, tenangnya hatinya tatkala sholat di shaf yang pertama adalah karena pandangan manusia. <em>(Tazkiyatun Nufus hal 15)</em>.</p>
<p><span id="more-172"></span>Berkata Abu &#8216;Abdillah Al-Anthoki, “ Fudhail bin &#8216;Iyadh bertemu dengan Sufyan Ats- Tsauri lalu mereka berdua saling mengingat (Allah) maka luluhlah hati Sufyan atau ia menangis. Kemudian Sufyan berkata kepada Fudhail, “<em>Wahai Abu &#8216;Ali sesungguhnya aku sangat berharap majelis (pertemuan) kita ini rahmat dan berkah bagi kita”</em>, lalu Fudhail berkata kepadanya, <em>“Namun aku, wahai Abu Abdillah, takut jangan sampai majelis kita ini adalah suatu mejelis yang mencelakakan kita “, </em>Sufyan berkata, <em>“Kenapa wahai Abu Ali?”</em>, Fudhail berkata, <em>“Bukankah engkau telah memilih perkataanmu yang terbaik lalu engkau menyampaikannya kepadaku, dan akupun telah memilih perkataanku yang terbaik lalu aku sampaikan kepadamu, berarti engkau telah berhias untuk aku dan aku pun telah berhias untukmu”, lalu Sufyan pun menangis dengan lebih keras daripada tangisannya yang pertama dan berkata, “Engkau telah menghidupkan aku semoga Allah menghidupkanmu”. (Tarikh Ad- Dimasyq 48/404).</em></p>
<p><em> </em>Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beruntung yang memperhatikan gerakgerik hatinya, yang selalu memperhatikan niatnya. Terlalu banyak orang yang lalai dari hal ini kecuali yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Orang-orang yang lalai akan memandang kebaikan-kebaikan mereka pada hari kiamat menjadi kejelekan-kejelekan, dan mereka itulah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya.</p>
<p><em>“Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolokolokkannya.” (QS. Az Zumar: 48). “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfy: 104).</em></p>
<p><strong>E. Bahaya Riya&#8217;</strong></p>
<p>Didalam Al Qur&#8217;an dan As Sunnah banyak sekali ancaman tentang bahaya riya&#8217;. Riya&#8217; termasuk kedurhakaan hati yang sangat berbahaya terhadap diri, amal, masyarakat dan umat dan juga termasuk dosa besar yang merusak. diantara bahaya riya&#8217; adalah :</p>
<ol>
<li>Riya&#8217; lebih berbahaya bagi kaum muslimin daripada fitnah Masih Al Dajjal. Rosululloh <em>Sholallahu Alaihi Wassalam </em>bersabda,<em>” Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang tersembunyi disisiku atas kalian daripada Masih Ad Dajjal yaitu syirkul khafi, yaitu seseorang sholat, lalu ia menghiasi (memperindah) sholatnya, karena ada orang-orang memperhatikan sholatnya.” (HR Ibnu Majah 4204, dari hadits Abu Sa&#8217;id Al Khudri, hadits ini hasan -Shahih At Targhib wat Tarhib no 27). </em></li>
<li>Riya&#8217; lebih sangat merusak daripada srigala menyergap domba, Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda” Tidaklah dua ekor srigala yang lapar dan dilepaskan di tengah sekumpulan domba lebih merusak daripada ketamakan seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya.” <em>(HSR Ahmad 3/456, Tirmidzi, darimi 2/304 dari Ka&#8217;ab bin Malik). </em>Rosululloh SholallahuAlaihi Wassalam memberikan permisalan rusaknya agama seorang muslim karena tamaknya kepada harta, kemuliaan, pangkat dan kedudukan. Semua ini menggerakkan riya&#8217; didalam diri seseorang.</li>
<li>Amal Shalih akan hilang pengaruh baiknya dan tujuannya yang besar bila disertai Riya&#8217;, Alloh Azza wa Jalla berfirman, : <em>” Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang berbuat riya&#8217; dan mencegah (menolong dengan) barang yang berguna.” </em>(QS Al Maidah 4-7). Orang-orang yang berbuat riya&#8217; dan tidak mau menolong orang lain adalah karena sholat mereka tidak mempunyai pengaruh dalam hati mereka, sehingga mereka mencegah kebaikan dari hambahamba Allah. Mereka hanyalah menunaikan gerakan-gerakan sholat dan memperindahnya karena semua mata memandang, padahal hati mereka tidak memahami, tidak tahu hakekatnya dan tidak mengagungkan Allah. Karena itu sholat mereka tidak berpengaruh terhadap hati dan amal. Riya&#8217; menjadikan amal kosong tak bernilai.</li>
<li>Riya&#8217; akan menghapus amal shalih, Alloh Azza wa Jalla berfirman, : <em>” Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya&#8217; kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. maka perumpamaan orang-orang seperti itu seperti batu licin yang diatasnya da tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS Al baqoroh 264). </em>Hati yang tertutup riya&#8217; seperti batu licin yang tertutup tanah. Orang yang berbuat riya&#8217; tidak akan membuahkan kebaikan, bahkan ia telah berbuat dosa besar yang akan dia peroleh akibatnya pada hari kiamat kelak. Riya&#8217; menghapuskan amalan shalih dan seseorang tidak mendapatkan apa-apa karenanya diakherat nanti dari amal-amal yang pernah ia lakukan di dunia. Sebagaimana sabda Rosululloh <em>Sholallahu Alaihi Wassalam </em>,: <em>”Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya&#8217;. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari kiamat tatkala memberikan balasan amal manusia,&#8217;Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya&#8217; kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapatkan balasan dari sisi mereka?.”(HR Ahmad 5/428-429, dan Al baghawi dalam Syarhus Sunnah). </em>Pelaku riya&#8217; yang memamerkan amalnya dipuji, disanjung dan mendapatkan kedudukan di hati manusia tidak akan mendapat ganjaran kebaikan dari Allah dan tidak pula dari orang-orang yang memujinya, karena yang berhak memberi balasan hanya Allah saja. Alloh <em>Azza wa Jalla </em>berfirman, : <em>” Aku adalah sekutu yang Maha Cukup, sangat menolak perbuatan syirik. barangsiapa mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik kepadaKu, maka Aku tinggalkan dia dan (Aku tidak terima) amal kesyirikannya.”(H.R. Muslim). </em></li>
<li>Riya&#8217; adalah syirik <em>khafi </em>(tersembunyi), Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, : <em>”Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih tersembunyi disisiku terhadap kalian daripada almasih Ad Dajjal? yaitu syirik khafi, seseorang sholat, lalu ia memperindah sholatnya karena ada orang yang memperhatikannya.” (H.R. Ibnu Majah). </em></li>
<li>Riya&#8217; mewariskan kehinaan dan kerendahan, Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, : <em>”Barangsiapa beramal dan memperdengarkannya kepada orng lain (agar orang tahu amalnya),maka Allah akan menyiarkan aibnya di telinga-telinga hambaNya, Allah rendahkan dia dan menginakannya.” (H.R. Thabrani dan Al Baihaqi). </em></li>
<li>Para pelaku Riya&#8217; tidak akan mendapatkan balasan pahala di akherat, dari Ubaid bin Ka&#8217;ab <em>- Rodliallohu anhu</em>- Rosululloh <em>Sholallahu Alaihi Wassalam </em>bersabda, : ” <em>Sampaikanlah kabar gembira ini kepada umat ini dengan keluhuran, kedudukan yang tinggi, agama, derajat yang mulia dan kekuasaan di muka bumi. barangsiapa diantara mereka melakukan amal akherat untuk dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat.”(H.R. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al Hakim). </em></li>
<li>Riya&#8217; akan menambah kesesatan seseorang pelakunya. Alloh Azza wa Jalla berfirman,: <em>” Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri sedangkan mereka tidak sadar. dalam hati mereka ada penyakit lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta.”(QS Al Baqoroh 9-10). </em></li>
<li>Riya&#8217; menyebabkan kekalahan umat. Rosululloh <em>Sholallahu Alaihi Wassalam</em>, : <em>” Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan orang-orang yang lemah, doa, sholat, dan keikhlasan mereka.” </em>(H.R. An Nasai 6/45). Ikhlas karena Allah adalah sebab ditolongnya umat ini dari musuh-musuh mereka. Allah melarang kita sombong dan riya&#8217; karena hal ini akan membawa kekalahan. Alloh Azza wa Jalla berfirman,: <em>”Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa sombong/angkuh dan dengan maksud riya&#8217; kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (Al Anfal 47).</em></li>
</ol>
<p>Download Buletin <a title="Buletin Risalah Tauhid" href="http://majalahtauhid.wordpress.com/download/" target="_blank">di sini</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahtauhid.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahtauhid.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahtauhid.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahtauhid.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahtauhid.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahtauhid.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahtauhid.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahtauhid.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahtauhid.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahtauhid.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahtauhid.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahtauhid.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahtauhid.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahtauhid.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=172&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/12/23/ikhlas-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d1b21ddd1cfd9446519395d128dc23b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Husam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IKHLAS (2)</title>
		<link>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/12/10/ikhlas-2/</link>
		<comments>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/12/10/ikhlas-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 03:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Husam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtauhid.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[VI. URGENSI DAN HAKEKAT IKHLAS Seorang hamba tidak akan benar-benar beribadah kepada Allah (iyya kana&#8217;budu) kecuali dengan dua pokok: Mengikuti Rasul SAW Ikhlas hanya kepada Allah Pembagian manusia ditinjau dari dua pokok ini terdiri dari empat bagian: Ahli Ikhlas kepada Allah dan mengikuti rasulullah. Mereka adalah ahlu iyyaka naa&#8217;budu secara sebenarnya. Mereka yang tidak ikhlas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=165&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>VI. URGENSI DAN HAKEKAT IKHLAS</p>
<p>Seorang hamba tidak akan benar-benar beribadah kepada Allah (iyya kana&#8217;budu) kecuali dengan dua pokok:</p>
<ol>
<li>Mengikuti Rasul SAW</li>
<li>Ikhlas hanya kepada Allah</li>
</ol>
<p>Pembagian manusia ditinjau dari dua pokok ini terdiri dari empat bagian:</p>
<ol>
<li>Ahli Ikhlas kepada Allah dan mengikuti rasulullah. Mereka adalah <em>ahlu iyyaka naa&#8217;budu </em>secara sebenarnya.</li>
<li>Mereka yang tidak ikhlas dan tidak mengikuti</li>
<li>Mereka yang ikhlas dalam amalnya, tetapi tidak mengikuti ajaran</li>
<li><em>4. </em>Mereka yang amalannya mengikuti ajaran tetapi tidak ikhlas kepada Allah. <em>(Madarijus salikin hal : 1/9 5)<br />
</em></li>
</ol>
<p><span id="more-165"></span></p>
<p>VII. PEMBAGIAN MANUSIA DALAM KAITANNYA DENGAN IKHLAS</p>
<p>Senantiasa memperbaharui hati itu lebih diutamakan daripada amalan anggota badan (jawarih). Karena hanya amalan hati itulah yang membenarkan amalan jawarih. <em>(Nuzhatul muttaqin hal:1/24-25 ) </em></p>
<p>Dari Ibnu Abbas RA berkata, Dari Nabi SAW bersabda</p>
<p><em>“ Sesungguhnya Allah mencatat setiap kebaikan dan keburukan kemudian menerangkannya. Barang siapa yang punya niat untuk melaksanakan kebaikan,tetapi ia belum melakukannya, maka Allah akan mencatat baginya disisi-Nya satu kebaikan sempurna. Jika dia berniat untuk melaksanakan kebaikan kemudian melaksanakannya,maka Allah akan mencatatnya sepuluh kebaikan disisi-Nya sampai tujuhratus kali dan sampai berlipat ganda. Barang siapa yang berniat untuk melaksanakan kejahatan kemudian ia tidak melaksanakannya, maka Allah mencatat sebagai kabaikan yang sempurna tetapi jia ia berniat untuk melakukan kejahatan kemudian ia melakukannya maka Allah mencatatnya satu kejahatan baginya” </em>(HR Muttafaq Alaih)</p>
<p>Hadits ini dapat diambil pelajaran : ” Bahwasanya orang yang berkeinginan untuk melaksanakan kebaikan maka akan dicatat baginya suatu kebaikan meskipun belum dilaksanakan. Karena keinginan untuk melaksanakan kebaikan adalah sebab untuk dilaksanakannya. Dan Semua sebab yang menuju kepada kebaikan adalah kebaikan tersendiri. Yang kedua bahwasanya orang yang punya keinginan untuk melaksanakan kejelekan kemudiaan ia tobat karena Allah semata dan bukan untuk yang lainya, maka dicatat baginya suatu kebaikan. Karena taubat ia dari keinginan jelek adalah merupakan kebaikan.maka diberi pahala dalam menjauhinya dengan kebaikan. <em>( Nuzhatul muttaqqqin hal:1/28 ) </em></p>
<p>VIII. BAHAYA RIYA&#8217; DALAM BERAMAL</p>
<p><strong>A. Pengertian riya&#8217; </strong></p>
<p><em>Riya&#8217; </em>adalah mengharapkan kedudukan dan pangkat dengan amalan-amalan ibadat. Ketahuilah bahwa riya&#8217; adalah perbuatan yang haram. Sedangkan orang yang berbuat riya&#8217; disisi Allah adalah orang yang sangat tercela. Beberapa ayat dan hadits telah membuktikan akan hal itu. <em>(Tahdzib mauidlotul mu&#8217;minin hal:427) </em></p>
<p><strong>B. Dalil tentang tercelanya riya&#8217; </strong></p>
<p><strong>1. Al Qur&#8217;an </strong></p>
<p>Sebagaimana firman Allah dalam surat : QS. Al Ma’un :</p>
<p><em>“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya ,orang-orang yang berbuat riya.” </em>(QS. Al Ma’un: 4-6)</p>
<p><em>“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan- Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.</em>”(QS. Al Fatir :10)</p>
<p>Mujahid berkata : <em>” Mereka adalah ahlu riya&#8217;Amal tanpa niat adalah sia-sia dan niat tanpa didasari dengan ikhlas adalah riya&#8217; dan ikhlas tanpa adanya tahqiq (ilmu) adalah bagaikan debu beterbangan</em>.</p>
<p>firman Allah: <em>“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”</em>(QS.Al Furqon:23)</p>
<p>Bagaimana akan benar niatnya kalau tidak didasari dengan pengetahuan pengetahuan hakekat ikhlas.</p>
<p><strong>2. Al Hadits </strong></p>
<p>Adapun dari hadits adalah:</p>
<p><em>”Aku adalah yang paling cukup dari persekutuan, barang siapa mengamalkan amalan dengan menserikatkan Aku dengan yang lain, maka Aku akan meningalkannya dan sekutunya </em>(HR Muslim)</p>
<p>Rasulullah SAW berkata: ”Allah Azza wa Jalla berfirman : <em>”Barang siapa yang melakukan amalan karena aku dan mensyerikatkanKu dengan yang lain, maka saya meninggalkannya dan meninggalkan serikatnya”</em>. Dan dalam satu riwayat yang lain, <em>“Maka Aku (Allah) berlepas diri dari apa yang dilakukannya” (Tahdzib mauidlotul mu&#8217;minin hal:427 ). </em></p>
<p>Hadits ini memberikan pelajaran bahwa di balasnya amalan dengan pahala itu tergantung dari ikhlas dan benarnya niat. <em>(Nuzhatul muttaqin hal:1/24-25) </em>Bagaimana akan benar niatnya kalau tidak didasari dengan pengetahuan hakekat ikhlas.</p>
<p>Dari Abu Kabsyahal Anshory berkata: rasulullah SAW bersabda :</p>
<p><em>”Perumpamaan umat ini adalah seperti empat orang, yaitu satu orang yag diberi oleh Allah harta dan ilmu kemudian ia mempergunakan (menginfakkannya) sesuai dengan haknya. Dan seorang yang diberi Allah ilmu dan tidak diberi harta kemudian ia berkata:” Seandainya aku memiliki harta seperti hartanya niscaya aku akan berbuat seperti ia berbuat. Maka Rasulullah SAW berkata:”Maka kedua dari orang ini sama dalam pahalanya. Dan seseorang yang diberi Allah harta tetapi tidak diberi ilmu sehingga ia menghambur-hamburkannya, menginfakkannya tidak sesuai dengan hak harta tersebut. Dan seseorang yang tidak di beri harta dan ilmu oleh Allah SWT kemudian ia berkata:” seandainya aku memiliki harta seperti apa yang dia miliki, niscaya aku akan melakukannya seperti apa yang ia lakukan.. </em>Maka rasulullah bersabda<em>:” Maka kedua dari orang ini sama dalam hukumannya”. (HR Ahmad Musnad imam Ahmad 4/230, Ibnu Majah,nomor hadits : 4228 ) </em></p>
<p><strong>3. Perkataan Salaf </strong></p>
<p>Adapun dari sebuah atsar yang telah terjadi pada diri Umar RA. bahwa ia pernah melihat seorang laaki-laki yang merundukkan kepalanya kemudian ia berkata: <em>”Wahai pemilik leher! Angkat lehermu, khusu&#8217; bukanlah di leher tetapi khusu&#8217; itu ada dihati”</em>. <em>(Tahdzib mauidlotul mu&#8217;minin hal:426-427 ) </em>Basyar Al hafi berkata: ” <em>Mencari dunia dengan seruling itu lebih aku sukai dari pada aku mencari dunia dengan dien. (minhajul qosidin hal : 203 ) </em></p>
<p><strong>C. Hakekat dan derajat riya&#8217; </strong></p>
<p>Barang siapa yang memahami arti ikhlas terbatas hanya memurnikan taqorrub hanya kepada Allah semata, dari berbagai syawaib, maka jika tujuan taqorrub ini tercampur dengan riyaa&#8217; atau yang lain dari keinginankeinginan nafsu, maka ia telah keluar dari lingkaran ikhlas. Contohnya adalah :</p>
<p><em>Seperti melakukan shoum untuk digunakan sebagai usaha diet yang dapat dihasilkan dari shoum itu dengan disertai tujuan taqorrub kepada Allah atau melaksanakan hajji untuk menjadi sehat tempratur tubuhnya dengan perjalanannya itu atau untuk menghindari dari musuh atau melaksanakan sholat malam dalam rangka untuk mencari maksud duniawi atau belajar hanya dalam rangka untuk ilmu ansih atau menjenguk orang sakit dalam rangka biar dikunjungai ketika ia sakit, atau ikut dalam mengantar jenazah dengan tujuan agar mereka mengantar jenazah apabila keluarganya meninggal atau melaksanakan segala bentuk kebaikan dalam rangka untuk dikenang kebaikannya atau untuk diperingati.( Tahdzib mauidlotul mu&#8217;minin hal:427 ). Meskipun yang mendorong untuk melaksanakan hal ini adalah dalam rangka taqorrub kepada Allah, tetapi karena di gabung dengan maksud-maksud yang demikian ini </em>maka sungguh telah keluar amalannya dari batasan-batasan ikhlas dan ia telah keluar dari dari kategori orang yang mukhlis kepada Allah semata dan terkena kesyirikan yang telah hinggap padanya. <em>(Tahdzib mauidlotul mu&#8217;minin hal:427 ) </em></p>
<p><strong>Adapun derajat-derajat riya&#8217; adalah sebagai berikut : </strong></p>
<ol>
<li>Yang      paling besar dan paling berat. Yaitu tidak ada keinginan akan mendapatkan      pahala dari ibadah yang dilakukan. seperti melaksanakan sholat apabila      disekitar manusia, jika ia sendirian niscaya ia tidak akan      melaksanakannya.</li>
<li>Punya      tujuan mencari pahala dengan disertai riya&#8217; Jika ia sendirian ia tidak      melaksanakannya. Ini hampir sama dengan yang pertama dimana sangat dibenci      oleh Allah SWT.</li>
<li>Punya      tujuan riya&#8217; dan mencari pahala yang sama-sama derajatnya. Jika salah satu      dari kedua tujuan ini tidak ada,maka ia tidak terdorong untuk      melaksanakannya. Maka yang demikian ia telah membuat kerusakan sebagaimana      ia telah membuat kebaikan dan ia tidak terlepas dari dosa.</li>
<li>Pandangan      manusia menjadikannya semangat dalam beramal dan jika tidak ada yang      melihat ia masih tetap melaksanakan ibadah. Maka yang demikian ia diberi      pahala sesuai dengan niatnya yang benar dan diberi hukuman sesuai dengan      niatnya yang rusak. Mungkin lebih dekatnya adalah bahwa riya&#8217; ini masih      berhubungan dengan cabang (sifat) ibadah dan bukan berhubungan dengan      pokok ibadah. Sebagaiman orang yang sholat sedang keinginannya adalah      meringankan ruku&#8217; atau sujud, tidak memanjangkan qiro&#8217;ah, jika dilihat oleh      manusia ia senantiasa memperbaiki sholatnya. Maka yang demikian itu      termasuk dari riya&#8217; yang dilarang dikarenakan ada unsur mengagungkan      manusia tetapi hal ini tidak masuk dalam riya&#8217; yang menyangkut dalam      urusan pokok agama.</li>
</ol>
<p><em>(Tahdzib mauidlotul mu&#8217;minin hal : 206 )</em></p>
<p><em><a title="Buletin Risalah Tauhid" href="http://majalahtauhid.wordpress.com/download/" target="_blank">Download Buletin</a><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahtauhid.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahtauhid.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahtauhid.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahtauhid.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahtauhid.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahtauhid.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahtauhid.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahtauhid.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahtauhid.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahtauhid.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahtauhid.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahtauhid.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahtauhid.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahtauhid.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=165&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/12/10/ikhlas-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d1b21ddd1cfd9446519395d128dc23b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Husam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I K H L A S</title>
		<link>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/12/03/i-k-h-l-a-s/</link>
		<comments>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/12/03/i-k-h-l-a-s/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 01:29:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Husam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtauhid.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[I. MUQODDIMAH Segala puji bagi Allah , Dzat yang telah menyinari hati setiap kaum beriman. Sholawat serta  alam semoga senantiasa terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW. para  ahabat, tabi&#8217;in dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jalannya. Seluruh manusia akan celaka kecuali mereka yang beramal. Semua orang yang beramal akan celaka kecuali mereka yang muhlisun (yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=157&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>I. MUQODDIMAH</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah , Dzat yang telah menyinari hati setiap kaum beriman. Sholawat serta  alam semoga senantiasa terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW. para  ahabat, tabi&#8217;in dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jalannya.</p>
<p>Seluruh manusia akan celaka kecuali mereka yang beramal. Semua orang yang beramal akan celaka kecuali mereka yang muhlisun (yang ikhlas). Dan orang-orang yang ikhlas di atas pangkat yang agung. <em>( Minhajul Qosidin hal : 348 ) </em></p>
<p>Permasalahan niat adalah permasalahan yang sangat urgen dan penting sekali, berapa banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW yang menerangkan dan menggambarkan akan pentingnya niat itu. Disatu sisi Allah memuji orang-orang yang benar niatnya dan disatu sisi Allah mencela orang yang salah niatnya.</p>
<p><span id="more-157"></span></p>
<p>Allah SWT berfirman: Artinya: <em>” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al Furqon :23) </em></p>
<p>Imam Syafi&#8217;I, Imam Ahmad bin hambal, Ibnu Mahdi, Ibnu Madini, Imam Abu Dawud, dan Imam Daruquthni, dalam hal niat telah bersepakat bahwa niat adalah <em>sepertiga dari ilmu</em>. Bahkan sebagian yang lain, mengatakan seperempat dari ilmu. Imam Baihaqi memberikan suatu alasan kenapa niat termasuk sepertiga dari ilmu. Perbuatan manusia itu senantiasa berhubungan dengan tiga unsur:</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Hati </strong></li>
<li><strong>2. </strong><strong>Lisan </strong></li>
<li><strong>3. </strong><strong>Angota tubuh </strong></li>
</ol>
<p>Diantara tiga hal yang ada ini, niat adalah satu yang terpenting, bahkan terkadang niat merupakan ibadah yang tersendiri (<em>Mustaqillah</em>) dan ibadah yang lain mengikut padanya. Maka dapat dikatakan bahwa niat seorang mu&#8217;min itu lebih baik dari amalnya <em>( Syarh matan arbain Nawawy hal : 23) </em><em> </em></p>
<p>Dalam atsar salaf disebutkan bahwa mereka senantiasa menjaga dan memelihara keihlasan dalam ibadah. Dari Bakar bin Maiz berkata : “Rabi&#8217; tidak pernah menampakkan sholat tatowwu&#8217; di masjid kaumnya sedikitpun kecuali hanya sekali saja”. <em>( Aina nahnu min akhlaqi salaf hal : 9 ) </em><em> </em></p>
<p>Ayyub berkata:”<em>Mengikhlaskan niat itu lebih berat dari pada perbuatan</em>” <em>( Tazkiyatunnafs hal : 17 )</em><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em><strong>II. PENGERTIAN </strong></p>
<p><strong>A. Bahasa : </strong></p>
<p>Al Ikhlas adalah masdar dari : Akhlasho yang berarti memurnikan. <em>( Nuzhatul muttaqin ) </em>Kebalikan ikhlas adalah syirik maka orang yang tidak mukhlis adalah musyrik, meskipun syirik ada beberapa derajat. <em>(Tahdzib mauidlotul mu&#8217;minin hal : 427) </em><em></em></p>
<p><strong>B. Istilah: </strong></p>
<ol>
<li>Memurnikan tujuan hanya kepada Allah dari setiap bentuk ketaatan <em>(Tazkiyatunnafs hal : 13) </em><em></em></li>
<li>Amalan hati yang diperuntukkan hanya kepada wajah Allah semata bukan untuk yang lain. ( <em>Nuzhatul nuttaqin hal:1/19 ) </em><em></em></li>
<li>Melepaskan diri dari pandangan manusia (mahluk) dan senantiasa memandang Allah SWT. <em>( Tazkiyatunnafs hal : 13 ) </em><em></em></li>
<li>Ikhlas adalah memurnikan maksud dan tujuan taqorrub kepada Allah dari segala bentuk syawaib. <em>( Mauidlotul mu&#8217;minin hal : 427 ) </em><em></em></li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<p><strong>III. DALIL-DALIL TENTANG IKHLAS </strong></p>
<p><strong>A. Al Qur&#8217;an </strong></p>
<p>Artinya : <em>”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah:5) </em>Sungguhnya Allah telah memuji orang-orang yang senantiasa berbuat ikhlas kepada Allah yaitu orang-orang yang menafyikan segala bentuk keinginan dan tujuan kepada selain kepada Allah. Riya&#8217; adalah sebaliknya. Allah SWT berfirman : Artinya : <em>” Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku : &#8220;Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa&#8221;. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.&#8221; </em>(QS. Al kahfi:110)</p>
<p><strong>B. Hadits </strong></p>
<p>Rasulullah SAW, bersabda : Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu &#8216;anhu, ia berkata : <em>“Aku mendengar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda </em>: <em>“Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul- Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”</em>.(Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)</p>
<p><strong>IV. POTRET SALAFUS SHOLIH DALAM KEIKHLASAN </strong></p>
<p>Dari Abu bakar bin Maiz : “Tidak pernah Robi&#8217; terlihat mengerjakan sholat sunah di masjid kaumnya kecuali hanya sekali.” (<em>Shifatu As-Shofwah : 3/61 ) </em><em></em></p>
<p>Dari mundir dari Robi&#8217; bin khutsaim berkata : <em>“Segala sesuatu yang dikerjakan bukan untuk mengharap ridho Allah Swt adlalah rusak .” ( Shifatu As-Shofwah : 3/61 ) </em><em></em></p>
<p>Dari Abi Hamzah Ats-Tsumali berkata : Adalah Ali bin Husain memanggul karung yang berisi roti pada malam hari dan bersedekah dengannya , ia berkata <em>“Sesungguhnya sodaqoh secara sembunyi-sembunyi bisa memadamkan murka Allah Azza wajalla.</em>” <em>(Shifatu As-Sofwah : 2/96 ) </em><em></em></p>
<p>Dari Amru bin Tsabit berkata : ketika Ali bin Husain wafat mereka memandikannya. pandangan mereka tertuju pada bakar hitam yang ada diatas punggung Ali, dan berkata : <em>Apa ini ? maka dijawab : ini adalah bekas beliau memanggul karung yang berisi roti pada malam hari dan memberikannya kepada para fuqoro&#8217; penduduk madinah. (Shifatu As- Shofwah:2/96) </em><em></em></p>
<p>Dari Abi Ja&#8217;far Al-Hadz-dza, ia berkata : Saya mendengar Ibnu Uyainah berkata : <em>&#8221; Apabila yang tersembunyi sesuai dengan yang nampak maka itu adalah keadilan, sedang apabila yang tersembunyi itu lebih baik dari pada yang nampak maka itu adalah keutamaan, sedang apabila yang Nampak lebih baik dari yang tersembunyi maka itu adalah kedurhakaan &#8220;</em>.<em>( Shifatu As-Shofwah : 2/234 ) </em><em></em></p>
<p>Dari Abdillah bin Mubarok, ia berkata : <em>“Dikatakan kepada Hamdun bin Ahmad, apa yang menyebabkan pekataan salaf lebih bermanfaat dari pada perkataan kita ? beliau menjawab : karena mereka berbicara untuk kemulyaan islam dan keselamatan jiwa serta keridhoan Alla Azza wajalla, sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan nafsu dan mencari dunia serta keridhoan manusia. ( Shifatu As- Shofwah : 4/122 ) </em><em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>V. IKHLAS MERUPAKAN SYARAT DITERIMANYA AMAL</p>
<p>Ikhlas adalah syarat diterimanya amal. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali hanya ikhlas kepada- Nya. <em>( Nuzhatul muttaqin hal:1/19 ) </em><em></em></p>
<p>Barangsiapa yang ikhlas niatnya dalam suatu kebenaran meskipun itu atas dirinya sediri maka Allah akan mencukupkan antara dia dan manusia.</p>
<p>Dan barangsiapa yang membaguskan amalnya (riya&#8217;) Maka Allah akan menampakkan keburukannya.” Kedua kalimat ini adalah merupakan gudangnya ilmu dan termasuk infak yang paling bagus, darinya orang lain mengambil manfaat yang sangat banyak. Adapun kalimat pertama adalah sumber dan asal dari segala kebaikan sedangkan yang kedua adalah merupakan sumber dari segala keburukan dan kejahatan. <em>( I&#8217;lamu muwaqqi&#8217;in hal : 182 ) </em><em></em></p>
<p>Telah jelas bahwa amal yang tidak karena Allah adalah mardud (tidak diterima) sedangkan yang diperuntukkan kepada Allah adalah diterima. Kemudian bagaimana dengan bagian yang ketiga yaitu amal itu dikerjakan karena Allah dan karena yang lain, Tidak hanya kepada Allah juga tidak hanya untuk manusia. Bagaimana hukum terhadap yang demikian ini ? Apakah semua amal menjadi batal atau sebagian yang karena Allah diterima sedangkan yang karena selain Allah akan tertolak?</p>
<p>Dalam permasalahan ini ada tiga bentuk:</p>
<ol>
<li>Semula dorongan pertama adalah ikhlas,kemudian timbul riya&#8217; atau menginginkan untuk selain Allah pada pertengahan amal. Maka Perubahannya hanya terdapat dalam niat pertama. Selama belum ada keinginan yang kuat untuk ditujukan kepada selain Allah. Maka dalam hal ini hukumnya adalah terputusnya niat pada pertengahan ibadah dan batalnya niat.</li>
<li>Sebaliknya, Dorongan pertama adalah bukan karena Allah. Kemudian pada pertengahannya timbul niat ikhlas kepada Allah. Maka yang demikian amalnya yang telah berlalu tidak dihitung sedangkan amal setelah ada perubahan dalam hatinya dihitung. Kemudian jika ibadah itu yang akhirnya tidak sah kecuali jika yang pertama sah seperti sholat, maka wajib baginya untuk mengulang. Jika tidak demikian seperti ketika melakukan ihrom niatnya kepada selain Allah kemudian ketika wukuf atau thowaf hatinya kembali ikhlas kepada Allah, maka yang demikian ini tidak wajib untuk diulangi</li>
<li>Jika permulaaanya memang diperuntukkan untuk Allah dan manusia. Ia menginginkan dalam ibadahnya itu untuk membebaskan beban kewajibannya, mencari balasan (jaza&#8217;) dan terima kasih dari manusia, hal demikian seperti orang yang sholat karena upah (jika ia tidak mengambil ujroh ia tetap melaksanakan sholat) melaksanakan sholat karena Allah dan upah. Atau seperti orang yang melaksanakn haji dalam rangka membebaskan diri dari beban kewajiban haji dan untuk dikatakan fulan adalah seorang haji atau memberikan zakat dalam rangka seperti ini maka amal yang demikian tidak diterima. <em>( I’lamul Muwaqi’in hal : 182 )</em></li>
</ol>
<p><a title="Download Buletin Risalah Tauhid" href="http://majalahtauhid.wordpress.com/download/">Download Buletin</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahtauhid.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahtauhid.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahtauhid.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahtauhid.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahtauhid.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahtauhid.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahtauhid.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahtauhid.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahtauhid.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahtauhid.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahtauhid.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahtauhid.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahtauhid.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahtauhid.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=157&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/12/03/i-k-h-l-a-s/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d1b21ddd1cfd9446519395d128dc23b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Husam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SYAFAAT RASULULLAH SAW</title>
		<link>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/11/30/syafaat-rasulullah-saw/</link>
		<comments>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/11/30/syafaat-rasulullah-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 04:16:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Husam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[syafaat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtauhid.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[“Dari Abu Hurairah r.a beliau menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi was sallam bersabda, “Setiap Nabi alaihis salam memiliki doa yang mustajab, maka setiap nabi telah menggunakan doa tersebut. Dan aku menyimpannya sebagai syafa&#8217;at bagi ummatku, kelak di hari kiamat. Maka, syafa&#8217;at tersebut Insya Allah akan didapati oleh setiap orang dari umatku yang wafat dalam keadaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=152&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Dari Abu Hurairah r.a beliau menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi was sallam bersabda, “Setiap Nabi alaihis salam memiliki doa yang mustajab, maka setiap nabi telah menggunakan doa tersebut. Dan aku menyimpannya sebagai syafa&#8217;at bagi ummatku, kelak di hari kiamat. Maka, syafa&#8217;at tersebut Insya Allah akan didapati oleh setiap orang dari umatku yang wafat dalam keadaan tidak menyekutukan Allah ta&#8217;ala dengan suatu apapun.” </em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Syafaat berasal dari kata <em>asy-syafa&#8217; </em>(ganda) yang merupakan lawan kata dari <em>Al-witru </em>(tunggal), yaitu menjadikan sesuatu yang tunggal menjadi ganda, seperti membagi satu menjadi dua, tiga menjadi empat, dan sebagainya. Ini pengertian secara bahasa.</p>
<p>Sedangkan secara istilah, syafaat berarti menjadi penengah bagi orang lain dengan memberikan manfaat kepadanya atau menolak mudharat, yakni pemberi syafaat itu memberikan manfaat kepada orang itu atau menolak mudharatnya.</p>
<p><span id="more-152"></span></p>
<p><strong>Syafaat terdiri dari dua macam : </strong></p>
<p><strong><em>Pertama </em></strong>, Syafaat yang didasarkan pada dalil yang kuat dan shahih, yaitu yang ditegaskan Allah Swt dalam Kitab-Nya , atau dijelaskan Rasulullah. Syafaat tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang bertauhid dan ikhlas; karena Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, <em>&#8220;Wahai Rasulullah, siapa yang paling bahagia mendapatkan syafaatmu?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Orang yang mengatakan,&#8217;Laa ilaaha illallah&#8217; dengan ikhlas dalam hatinya.&#8221; </em>Diriwayatkan oleh Al-Bukhori, kitab Al-Ilm, bab &#8220;Al-Hirsh &#8216;ala Al-Hadits.&#8221;</p>
<p>Syafaat mempunyai tiga syarat:</p>
<ol>
<li>Allah meridhai orang yang memberi syafaat.</li>
<li>Allah meridhai orang yang diberi syafaat.</li>
<li>Allah mengizinkan pemberi syafaat untuk memberi syafaat.</li>
</ol>
<p>Syarat-syarat di atas secara global dijelaskan Allah dalam firman-Nya, <em>&#8220;Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya)</em>.&#8221; (An- Najm:26)</p>
<p>Kemudian firman Allah Ta’ala , : <em>&#8220;Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.&#8221; </em>(Al- Baqarah:255)</p>
<p>Lalu firman Allah Ta’ala , : <em>&#8220;Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.&#8221; </em>(Thahaa: 109)</p>
<p>Kemudian firman Allah Ta’ala , : <em>&#8220;Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada- Nya.&#8221; </em>(Al-Anbiya: 28)</p>
<p>Agar syafaat seseorang diterima, maka harus memenuhi ketiga syarat di atas. Menurut penjelasan para ulama, syafaat yang diterima, dibagi menjadi dua macam:</p>
<p>1. Syafaat umum. Makna umum, Allah mengizinkan kepada salah seorang dari hamba-hamba-Nya yang shalih untuk memberikan syafaat kepada orang-orang yang diperkenankan untuk diberi syafaat. Syaaat ini diberikan kepada Nabi Muhammad saw, nabi-nabi lainnya, orang-orang jujur, para syuhada, dan orangorang shalih. Mereka memberikan syafaat kepada penghuni neraka dari kalangan orang-orang beriman yang berbuat maksiat agar mereka keluar dari neraka.</p>
<p>2. Syafaat khusus, yaitu syafaat yang khusus diberikan kepada Nabi Muhammad saw dan merupakan syafaat terbesar yang terjadi pada hari Kiamat. Tatkala manusia dirundung kesedihan dan bencana yang tidak kuat mereka tahan, mereka meminta kepada orangorang tertentu yang diberi wewenang oleh Allah untuk memberi syafaat. Mereka pergi kepada Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Tetapi mereka semua tidak bisa memberikan syafaat hingga mereka datang kepada Nabi saw, lalu beliau berdiri dan memintakan syafaat kepada Allah, agar menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari adzab yang besar ini. Allah pun memenuhi permohonan itu dan menerima syafaatnya. Ini termasuk kedudukan terpuji yang dijanjikan Allah di dalam firman-Nya : <em>&#8220;Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.&#8221; </em>(Al-Israa&#8217;:79)</p>
<p>Di antara syafaat khusus yang diberikan kepada Rasulullah Saw ada l ah syafaatnya kepada penghuni syurga agar mereka segera masuk surga, karena penghuni surga ketika melewati jembatan, mereka diberhentikan di tengah jembatan yang ada di antara surga dan neraka. Hati sebagian mereka bertanya-tanya kepada sebagian lain, hingga akhirnya mereka bersih dari dosa. Kemudian mereka baru diizinkan masuk surga. Pintu surga itu bisa terbuka karena syafaat Nabi saw.</p>
<p><strong><em>Kedua, </em></strong>Syafaat batil yang tidak berguna bagi pemiliknya, yaitu anggapan orang-orang musyrik bahwa tuhan-tuhan mereka dapat memintakan syafaat kepada Allah.</p>
<p>Syafaat semacam ini tidak bermanfaat bagi mereka seperti yang difirmankan-Nya, <em>&#8220;Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat.&#8221; </em>(Al-Mudatstsir : 48)</p>
<p>Demikian itu karena Allah tidak rela kepada kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu dan tidak mungkin Allah memberi izin kepada para pemberi syafaat itu, untuk memberikan syafaat kepada mereka; karena tidak ada syafaat kecuali bagi orang yang diridhai Allah. Allah tidak meridhai hamba-hamba-Nya yang kafir dan Allah tidak senang kepada kerusakan.</p>
<p>Ketergantungan orang-orang musyrik kepada tuhan-tuhan mereka dengan menyembahnya dan mengatakan, <em>&#8220;Mereka adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah&#8221;</em>, (Yunus: 18), adalah ketergantungan batil yang tidak bermanfaat. Bahkan demikian itu tidak menambah mereka kecuali semakin jauh, karena orang-orang musyrik itu meminta syafaat kepada berhala-berhala itu dengan cara yang batil, yaitu menyembahnya. Itulah kebodohan mereka yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah, tetapi sebenarnya tidak lain hanya menjadikan mereka semakin jauh.</p>
<p><em>Sumber : Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahtauhid.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahtauhid.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahtauhid.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahtauhid.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahtauhid.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahtauhid.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahtauhid.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahtauhid.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahtauhid.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahtauhid.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahtauhid.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahtauhid.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahtauhid.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahtauhid.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=152&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/11/30/syafaat-rasulullah-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d1b21ddd1cfd9446519395d128dc23b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Husam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al Qur’an Kalam Allah ( Perkataan Allah ) bukan MakhLuk</title>
		<link>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/11/26/al-qur%e2%80%99an-kalam-allah-perkataan-allah-bukan-makhluk/</link>
		<comments>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/11/26/al-qur%e2%80%99an-kalam-allah-perkataan-allah-bukan-makhluk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 05:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Husam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[bukan Makhluk]]></category>
		<category><![CDATA[Kalam Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majalahtauhid.wordpress.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan dalam kitab al &#8216;Aqidah al Wasithiyah: Termasuk beriman kepada Allah dan kepada kitab-kitab Allah ialah, beriman bahwa alQur&#8217;an Kalam Allah yang diturunkan dan bukan makhluk. Dari Allah al Qur&#8217;an bermula dan kepada-Nya ia akan kembali. Dan sesungguhnya, Allah berbicara dengan al Qur&#8217;an ini secara hakiki. Sesungguhnya al Qur&#8217;an yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=149&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan dalam kitab al &#8216;Aqidah al Wasithiyah:</p>
<p>Termasuk beriman kepada Allah dan kepada kitab-kitab Allah ialah, beriman bahwa alQur&#8217;an Kalam Allah yang diturunkan dan bukan makhluk. Dari Allah al Qur&#8217;an bermula dan kepada-Nya ia akan kembali. Dan sesungguhnya, Allah berbicara dengan al Qur&#8217;an ini secara hakiki.</p>
<p>Sesungguhnya al Qur&#8217;an yang telah Allah turunkan kepada Muhammad Shalallahu &#8216;Alaihi Wassalam ini adalah perkataan Allah yang sebenarnya, bukan perkataan selain-Nya. Tidak boleh melepaskan kata-kata bahwa al Qur&#8217;an adalah hikayat dari kalam Allah atau ungkapan tentang kalam Allah. Bahkan apabila manusia membacanya atau menuliskannya dalam mushaf-mushaf, dengan itu al Qur&#8217;an tetap tidak keluar dari keadaannya sebagai kalam Allah yang sebenarnya. Sesungguhnya suatu perkataan hanya akan disandarkan secara hakiki kepada yang pertama kali mengatakannya, dan tidak disandarkan kepada orang yang mengatakannya sebagai penyampai. Al Qur&#8217;an adalah kalam Allah; baik huruf-hurufnya maupun makna-maknanya. Kalam Allah bukan hanya huruf-huruf saja tanpa makna, dan bukan pula makna-makna saja tanpa huruf. (Lihat Syarh al &#8216;Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan).</p>
<p><span id="more-149"></span></p>
<p>Senada dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, yaitu perkataan Imam Thahawi rahimahullah. Beliau berkata:</p>
<p>“ Sesungguhnya al Qur&#8217;an adalah kalam Allah, dari-Nya ia muncul sebagai perkataan, tanpa boleh dipertanyakan kaifiyah (bentuk)nya. Allah telah turunkannya kepada Rasul-Nya sebagai wahyu. Kaum Mukminin mempercayai al Qur&#8217;an benar-benar demikian keadaannya, dan mereka meyakini bahwa al Qur&#8217;an kalam Allah yang sebenarnya; ia bukan makhluk seperti perkataan manusia. Maka barangsiapa yang mendengar al Qur&#8217;an, lalu ia beranggapan bahwa al Qur&#8217;an adalah perkataan manusia, maka ia kafir; Allah mencelanya , mencacatnya dan mengancamnya dengan Neraka Saqar, karena Allah Ta&#8217;ala berfirman : <em>(Orang kafir itu berkata):”Al Qur&#8217;an ini tidak lain hanyalah perkataan manusia”. (QS. al Muddatstsir:25) </em></p>
<p>Kita memahami dan kita meyakini bahwa, al Qur&#8217;an itu adalah perkataan Pencipta manusia, tidak serupa dengan perkataan manusia. (Lihat Syarh al &#8216;Aqidah ath Thahawiyah, Imam Ibnu Abi al Izz al Hanafi;Tahqiq wa Muraja&#8217;ah: Jama&#8217;ah minal Ulama; Takhrij:Syaikh al Albani).</p>
<p>Pensyarah kitab al &#8216;Aqidah ath Thahawiyah, yaitu Imam Ibnu Abi al Izz al Hanafi rahimahullah, terhadap apa yang dikatakan Imam Thahawi rahimahullah, ia mengatakan : <em>“Ini merupakan kaidah dan pokok yang mulia dan agung di antara pokokpokok agama. Banyak kelompok manusia yang tersesat dalam masalah ini. Apa yang dikatakan oleh Imam Thahawi ini merupakan kebenaran yang telah dibuktikan oleh dalildalil al Qur&#8217;an dan as Sunnah bagi siapa saja yang merenungkannya. Juga telah disaksikan oleh fitrah-fitrah sehat, fitrah yang belum mengalami perubahan akibat syubhatsyubhat, keragu-raguan dan pendapatpendapat batil.” </em>(Lihat Syarh al &#8216;Aqidah ath Thahawiyah, Imam Ibnu Abi al Izz al Hanafi;Tahqiq wa Muraja&#8217;ah: Jama&#8217;ah minal Ulama; Takhrij:Syaikh al Albani). Demikianlah madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah.</p>
<p><strong>Pandangan Kelompok Ahli Bid&#8217;ah Tentang Al Qur&#8217;an dan Kalam Allah </strong></p>
<p>Di bawah ini pemaparan Syaikh Shalih al Fauzan hafidhahullah secara garis besar (diterjemahkan secara rinngkas dan bebas, Pen) tentang beberapa perkataan kelompok ahli bid&#8217;ah mengenai al Qur&#8217;an dan kalam Allah. Beliau menyebutkan sebagai berikut. (Lihat Syarh al &#8216;Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan, hlm 136-139).</p>
<p><strong><em>Pertama : </em></strong>Perkataan Jahmiyah</p>
<p>Mereka mengatakan, bahwa Allah tidak berbicara, tetapi Allah menciptakan perkataan pada diri selain-Nya dan menjadikan yang selain-Nya itu menjadi pengungkap perkataan Allah. Disebutkan suatu perkataan sebagai perkataan Allah menurut mereka-adalah majaz (kiasan), bukan hakiki, sebab Allah lah yang telah menciptakan perkataan itu, sehingga Dia disebut sebagai Yang berkata, karena Dialah pencipta perkataan itu pada diri selain-Nya.</p>
<p>Perkataan Jahmiyah ini batil, bertentangan dengan dalil-dalil sam&#8217;i (al Qur&#8217;an dan as Sunnah) maupun dalil-dalil akal. Juga bertentangan dengan perkataan para salaf dan imam-imam kaum Muslimin. Karena sesungguhnya tidaklah masuk akal seseorang disebut sebagai orang yang berkata, kecuali jika perkataan itu benar-benar ada pada dirinya. Bagaimana mungkin Allah disebut telah berkata, padahal yang berkata adalah selain Allah? Bagaimana mungkin disebut perkataan Allah, padahal ia adalah perkataan selain-Nya?</p>
<p>Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di atas, bahwa “dari Allah al Qur&#8217;an bermula dan kepada-Nya ia kembali. Dan sesungguhnya Allah berbicara dengan al Qur&#8217;an ini secara hakiki. Sesungguhnya al Qur&#8217;an yang telah Allah turunkan kepada Muhammad Shalallahu &#8216;Alaihi Wassalam ini adalah perkataan Allah yang sebenarnya, bukan perkataan selain-Nya”.</p>
<p>Maksud Syaikhul Islam dengan perkataan ini adalah, untuk membantah orangorang Jahmiyah yang mengatakan bahwa al Qur&#8217;an bermula dari selain Allah, dan bahwa Allah tidak berbicara dengan al Qur&#8217;an itu secara hakiki, tetapi majaz. Al Qur&#8217;an (menurut mereka) adalah perkataan selain Allah yang disandarkan sebagai perkataan Allah karena Dialah Penciptanya.</p>
<p><strong><em>Kedua : </em></strong>Perkataan Kullabiyah, para pengikut &#8216;Abdullah bin Sa&#8217;id bin Kullab</p>
<p>Mereka beranggapan bahwa al Qur&#8217;an merupakan hikayat dari kalam Allah. Karena kalam Allah menurut mereka adalah ma&#8217;na yang ada pada Dzat Allah yang senantiasa tetap pada-Nya, sebagaimana tetapnya sifat hidup dan sifat ilmu pada Dzat Allah. Tidak berkaitan dengan kehendak dan iradah Allah. Makna yang ada pada Dzat Allah ini bukan makhluk. Tetapi lafadz-lafadz yang keluar yang terdiri dari huruf dan suara adalah makhluk. Lafadz-lafadz ini merupakan hikayat dari kalam Allah, dan bukan kalam Allah itu sendiri.</p>
<p><strong><em>Ketiga : </em></strong>Perkataan kaum Asy&#8217;ariyah, orangorang yang mengaku pengikut Imam Abu al Hasan al Asy&#8217;ari rahimahullah</p>
<p>Mereka mengatakan bahwa al Qur&#8217;an adalah ungkapan tentang kalam Allah. Sebab kalam Allah menurut mereka adalah: Ma&#8217;na yang ada pada dzat Allah. Ma&#8217;na ini bukan makhluk. Adapun lafadz-lafadz yang dibaca, merupakan ungkapan tentang makna yang ada pada Dzat Allah.</p>
<p>Lafadz-lafadz ini adalah makhluk. Ia merupakan ungkapan dari kalam Allah dan tidak dikatakan hikayat dari kalam Allah.</p>
<p>Sebagian ulama menga t akan, perselisihan pendapat antara Asy&#8217;ariyah dengan Kullabiyah hanyalah perselisihan secara redaksional saja. Sebenarnya tidak ada perselisihan di dalamnya. Sebab, baik Asy&#8217;ariyah maupun Kullabiyah sama-sama mengatakan bahwa al Qur&#8217;an terdiri dari dua macam. Yaitu, terdiri dari lafadz dan makna. Lafadznya adalah makhluk, yakni lafadzlafadz yang ada dan dibaca ini.</p>
<p>Sedangkan maknanya bersifat qadim (sejak dahulu) ; ia ada pada Dzat Allah. Ia merupakan makna yang satu, tidak dapat terbagi-bagi dan tidak dapat berbilang. Ini bukan makhluk. Inti perkataan Asy&#8217;ariyah dan perkataan Kullabiyah, andaikata tidak dapat dikatakan sama, maka paling tidak saling berdekatan.</p>
<p>Kedua pendapat ini sama-sama batil. Sebab al Qur&#8217;an tidak dapat dikatakan hikayat dari kalam Allah seperti perkataan Kullabiyah, dan tidak dapat pula dikatakan ungkapan dari kalam Allah seperti perkataan Asy&#8217;ariyah. Bahkan al Qur&#8217;an adalah kalam Allah itu sendiri, baik lafadz maupun maknanya, dimanapun didapatkan, baik di hafal dalam dada-dada manusia maupun ditulis dalam mushaf-mushaf. Al Qur&#8217;an tetap merupakan kalam Allah yang sebenarnya, bukan makhluk.</p>
<p><strong><em>Keempat : </em></strong>Perkataan Mu&#8217;tazilah</p>
<p>Mereka mengatakan bahwa, kalam Allah hanyalah huruf tanpa makna. Menurut mereka, apa yang disebut perkataan atau kalam, ketika dinyatakan secara mutlak hanyalah nama bagi suatu lafadz saja.</p>
<p>Sedangkan makna bukan merupakan bagian dari apa yang disebut kalam. Makna hanyalah sesuatu yang ditunjukkan oleh apa yang disebut kalam.</p>
<p>Pendapat Mu&#8217;tazilah ini merupakan kebalikan dari pendapat Asy&#8217;ariyah dan Kullabiyah yang mengatakan, bahwa kalam Allah adalah makna saja tanpa huruf. Demikian secara ringkas pemaparan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.</p>
<p>KESIMPULAN</p>
<p>Semua pernyataan kelompok di atas adalah batil. Yang benar ialah pernyataan Ahlus Sunnah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Imam Thahawi di atas. Salah satu dalilnya, ialah seperti yang dikemukakan oleh Syaikh Shalih al Fauzan, yaitu firman Allah:</p>
<p>“Dan jika seseorang dari orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah.” (QS. at Taubah:6)</p>
<p>Maksud mendengar pada ayat ini, yaitu mendengar melalui bacaan Rasulullah Shalallahu &#8216;Alaihi Wassalam yang kedudukannya sebagai penyampai. Sedangkan bacaan al Qur&#8217;an dari Rasulullah Shalallahu &#8216;Alaihi Wassalam yang didengar itu tetap disebut kalam Allah. Maka hal ini membuktikan bahwa perkataan hanyalah dinisbatkan kepada yang mengucapkannya pertama kali sejak semula mengatakannya. Bukan dinisbatkan kepada penyampainya. (Lihat Syarh al&#8217;Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan, hlm 138).</p>
<p>Imam Syafi&#8217;i rahimahullah juga mengatakan bahwa al Qur&#8217;an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Dan barangsiapa yang mengatakan al Qur&#8217;an makhluk, maka ia kafir. Imam Ahmad bin Hanbal pun mengatakan hal sama dalam Ushulus Sunnah. (Lihat catatan kaki dari kitab Ushulus Sunnah, Imam Ahmad dari riwayat &#8216;Abdus bin Malik al Aththar, Syarh dan Ta&#8217;liq: al Walid bin Muhammad Nabih bin Saif an Nashr. Taqdim dan Ta&#8217;liq:Syaikh Muhammad bin &#8216;Id al Abbasi). Demikianlah madzhab Ahlus Sunnah tentang al Qur&#8217;an dan tentang kalam Allah. Wallahu Waliyyut Taufiq</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/majalahtauhid.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/majalahtauhid.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/majalahtauhid.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/majalahtauhid.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/majalahtauhid.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/majalahtauhid.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/majalahtauhid.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/majalahtauhid.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/majalahtauhid.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/majalahtauhid.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/majalahtauhid.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/majalahtauhid.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/majalahtauhid.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/majalahtauhid.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=majalahtauhid.wordpress.com&amp;blog=7560420&amp;post=149&amp;subd=majalahtauhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majalahtauhid.wordpress.com/2009/11/26/al-qur%e2%80%99an-kalam-allah-perkataan-allah-bukan-makhluk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d1b21ddd1cfd9446519395d128dc23b2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Husam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
