Skip to content

IKHLAS (2)

December 10, 2009
tags:

VI. URGENSI DAN HAKEKAT IKHLAS

Seorang hamba tidak akan benar-benar beribadah kepada Allah (iyya kana’budu) kecuali dengan dua pokok:

  1. Mengikuti Rasul SAW
  2. Ikhlas hanya kepada Allah

Pembagian manusia ditinjau dari dua pokok ini terdiri dari empat bagian:

  1. Ahli Ikhlas kepada Allah dan mengikuti rasulullah. Mereka adalah ahlu iyyaka naa’budu secara sebenarnya.
  2. Mereka yang tidak ikhlas dan tidak mengikuti
  3. Mereka yang ikhlas dalam amalnya, tetapi tidak mengikuti ajaran
  4. 4. Mereka yang amalannya mengikuti ajaran tetapi tidak ikhlas kepada Allah. (Madarijus salikin hal : 1/9 5)

VII. PEMBAGIAN MANUSIA DALAM KAITANNYA DENGAN IKHLAS

Senantiasa memperbaharui hati itu lebih diutamakan daripada amalan anggota badan (jawarih). Karena hanya amalan hati itulah yang membenarkan amalan jawarih. (Nuzhatul muttaqin hal:1/24-25 )

Dari Ibnu Abbas RA berkata, Dari Nabi SAW bersabda

“ Sesungguhnya Allah mencatat setiap kebaikan dan keburukan kemudian menerangkannya. Barang siapa yang punya niat untuk melaksanakan kebaikan,tetapi ia belum melakukannya, maka Allah akan mencatat baginya disisi-Nya satu kebaikan sempurna. Jika dia berniat untuk melaksanakan kebaikan kemudian melaksanakannya,maka Allah akan mencatatnya sepuluh kebaikan disisi-Nya sampai tujuhratus kali dan sampai berlipat ganda. Barang siapa yang berniat untuk melaksanakan kejahatan kemudian ia tidak melaksanakannya, maka Allah mencatat sebagai kabaikan yang sempurna tetapi jia ia berniat untuk melakukan kejahatan kemudian ia melakukannya maka Allah mencatatnya satu kejahatan baginya” (HR Muttafaq Alaih)

Hadits ini dapat diambil pelajaran : ” Bahwasanya orang yang berkeinginan untuk melaksanakan kebaikan maka akan dicatat baginya suatu kebaikan meskipun belum dilaksanakan. Karena keinginan untuk melaksanakan kebaikan adalah sebab untuk dilaksanakannya. Dan Semua sebab yang menuju kepada kebaikan adalah kebaikan tersendiri. Yang kedua bahwasanya orang yang punya keinginan untuk melaksanakan kejelekan kemudiaan ia tobat karena Allah semata dan bukan untuk yang lainya, maka dicatat baginya suatu kebaikan. Karena taubat ia dari keinginan jelek adalah merupakan kebaikan.maka diberi pahala dalam menjauhinya dengan kebaikan. ( Nuzhatul muttaqqqin hal:1/28 )

VIII. BAHAYA RIYA’ DALAM BERAMAL

A. Pengertian riya’

Riya’ adalah mengharapkan kedudukan dan pangkat dengan amalan-amalan ibadat. Ketahuilah bahwa riya’ adalah perbuatan yang haram. Sedangkan orang yang berbuat riya’ disisi Allah adalah orang yang sangat tercela. Beberapa ayat dan hadits telah membuktikan akan hal itu. (Tahdzib mauidlotul mu’minin hal:427)

B. Dalil tentang tercelanya riya’

1. Al Qur’an

Sebagaimana firman Allah dalam surat : QS. Al Ma’un :

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya ,orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al Ma’un: 4-6)

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan- Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.”(QS. Al Fatir :10)

Mujahid berkata : ” Mereka adalah ahlu riya’Amal tanpa niat adalah sia-sia dan niat tanpa didasari dengan ikhlas adalah riya’ dan ikhlas tanpa adanya tahqiq (ilmu) adalah bagaikan debu beterbangan.

firman Allah: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”(QS.Al Furqon:23)

Bagaimana akan benar niatnya kalau tidak didasari dengan pengetahuan pengetahuan hakekat ikhlas.

2. Al Hadits

Adapun dari hadits adalah:

”Aku adalah yang paling cukup dari persekutuan, barang siapa mengamalkan amalan dengan menserikatkan Aku dengan yang lain, maka Aku akan meningalkannya dan sekutunya (HR Muslim)

Rasulullah SAW berkata: ”Allah Azza wa Jalla berfirman : ”Barang siapa yang melakukan amalan karena aku dan mensyerikatkanKu dengan yang lain, maka saya meninggalkannya dan meninggalkan serikatnya”. Dan dalam satu riwayat yang lain, “Maka Aku (Allah) berlepas diri dari apa yang dilakukannya” (Tahdzib mauidlotul mu’minin hal:427 ).

Hadits ini memberikan pelajaran bahwa di balasnya amalan dengan pahala itu tergantung dari ikhlas dan benarnya niat. (Nuzhatul muttaqin hal:1/24-25) Bagaimana akan benar niatnya kalau tidak didasari dengan pengetahuan hakekat ikhlas.

Dari Abu Kabsyahal Anshory berkata: rasulullah SAW bersabda :

”Perumpamaan umat ini adalah seperti empat orang, yaitu satu orang yag diberi oleh Allah harta dan ilmu kemudian ia mempergunakan (menginfakkannya) sesuai dengan haknya. Dan seorang yang diberi Allah ilmu dan tidak diberi harta kemudian ia berkata:” Seandainya aku memiliki harta seperti hartanya niscaya aku akan berbuat seperti ia berbuat. Maka Rasulullah SAW berkata:”Maka kedua dari orang ini sama dalam pahalanya. Dan seseorang yang diberi Allah harta tetapi tidak diberi ilmu sehingga ia menghambur-hamburkannya, menginfakkannya tidak sesuai dengan hak harta tersebut. Dan seseorang yang tidak di beri harta dan ilmu oleh Allah SWT kemudian ia berkata:” seandainya aku memiliki harta seperti apa yang dia miliki, niscaya aku akan melakukannya seperti apa yang ia lakukan.. Maka rasulullah bersabda:” Maka kedua dari orang ini sama dalam hukumannya”. (HR Ahmad Musnad imam Ahmad 4/230, Ibnu Majah,nomor hadits : 4228 )

3. Perkataan Salaf

Adapun dari sebuah atsar yang telah terjadi pada diri Umar RA. bahwa ia pernah melihat seorang laaki-laki yang merundukkan kepalanya kemudian ia berkata: ”Wahai pemilik leher! Angkat lehermu, khusu’ bukanlah di leher tetapi khusu’ itu ada dihati”. (Tahdzib mauidlotul mu’minin hal:426-427 ) Basyar Al hafi berkata: ” Mencari dunia dengan seruling itu lebih aku sukai dari pada aku mencari dunia dengan dien. (minhajul qosidin hal : 203 )

C. Hakekat dan derajat riya’

Barang siapa yang memahami arti ikhlas terbatas hanya memurnikan taqorrub hanya kepada Allah semata, dari berbagai syawaib, maka jika tujuan taqorrub ini tercampur dengan riyaa’ atau yang lain dari keinginankeinginan nafsu, maka ia telah keluar dari lingkaran ikhlas. Contohnya adalah :

Seperti melakukan shoum untuk digunakan sebagai usaha diet yang dapat dihasilkan dari shoum itu dengan disertai tujuan taqorrub kepada Allah atau melaksanakan hajji untuk menjadi sehat tempratur tubuhnya dengan perjalanannya itu atau untuk menghindari dari musuh atau melaksanakan sholat malam dalam rangka untuk mencari maksud duniawi atau belajar hanya dalam rangka untuk ilmu ansih atau menjenguk orang sakit dalam rangka biar dikunjungai ketika ia sakit, atau ikut dalam mengantar jenazah dengan tujuan agar mereka mengantar jenazah apabila keluarganya meninggal atau melaksanakan segala bentuk kebaikan dalam rangka untuk dikenang kebaikannya atau untuk diperingati.( Tahdzib mauidlotul mu’minin hal:427 ). Meskipun yang mendorong untuk melaksanakan hal ini adalah dalam rangka taqorrub kepada Allah, tetapi karena di gabung dengan maksud-maksud yang demikian ini maka sungguh telah keluar amalannya dari batasan-batasan ikhlas dan ia telah keluar dari dari kategori orang yang mukhlis kepada Allah semata dan terkena kesyirikan yang telah hinggap padanya. (Tahdzib mauidlotul mu’minin hal:427 )

Adapun derajat-derajat riya’ adalah sebagai berikut :

  1. Yang paling besar dan paling berat. Yaitu tidak ada keinginan akan mendapatkan pahala dari ibadah yang dilakukan. seperti melaksanakan sholat apabila disekitar manusia, jika ia sendirian niscaya ia tidak akan melaksanakannya.
  2. Punya tujuan mencari pahala dengan disertai riya’ Jika ia sendirian ia tidak melaksanakannya. Ini hampir sama dengan yang pertama dimana sangat dibenci oleh Allah SWT.
  3. Punya tujuan riya’ dan mencari pahala yang sama-sama derajatnya. Jika salah satu dari kedua tujuan ini tidak ada,maka ia tidak terdorong untuk melaksanakannya. Maka yang demikian ia telah membuat kerusakan sebagaimana ia telah membuat kebaikan dan ia tidak terlepas dari dosa.
  4. Pandangan manusia menjadikannya semangat dalam beramal dan jika tidak ada yang melihat ia masih tetap melaksanakan ibadah. Maka yang demikian ia diberi pahala sesuai dengan niatnya yang benar dan diberi hukuman sesuai dengan niatnya yang rusak. Mungkin lebih dekatnya adalah bahwa riya’ ini masih berhubungan dengan cabang (sifat) ibadah dan bukan berhubungan dengan pokok ibadah. Sebagaiman orang yang sholat sedang keinginannya adalah meringankan ruku’ atau sujud, tidak memanjangkan qiro’ah, jika dilihat oleh manusia ia senantiasa memperbaiki sholatnya. Maka yang demikian itu termasuk dari riya’ yang dilarang dikarenakan ada unsur mengagungkan manusia tetapi hal ini tidak masuk dalam riya’ yang menyangkut dalam urusan pokok agama.

(Tahdzib mauidlotul mu’minin hal : 206 )

Download Buletin

About these ads
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: