Skip to content

AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH (4)

August 13, 2009

I. AQIDAH AHLUSSUNNAH WA L JAMAAH

Aqidah ini disebut dengan Aqidah Ahlus Sunnah karena para penganutnya selalu berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah SAW, dan disebut dengan Aqidah Ahlul Jamaah karena aqidah ini merupakan aqidah penganut Islam yang berkumpul dalam kebenaran dan tidak berpecah-pecah dalam dien. Mereka senantiasa mengikuti manhaj imam-imam yang haq dan tidak keluar darinya dalam setiap urusan-urusan aqidah. Mereka adalah Ahlul Atsar, Ahlul Hadits, At Thaifah Al Manshurah dan Al Firqah An Najiyyah.

Ibnu Taimiyyah menyebutkan: “Inilah aqidah golongan yang selamat lagi tertolong hingga hari kiamat- Ahlus Sunnah wal Jamaah-, yaitu: beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitabkitab- Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari berbangkit setelah mati, dan beriman kepada taqdir Allah yang baik maupun yang buruk. ( Majmu’ Fatawa, hal: III/129 )

Ahlus Sunnah wal Jamaah menyepakati prinsip-prinsip penting (Al Ushul) yang kemudian menjadi ciri dan inti aqidah mereka. Yaitu : (Di ringkas dari : Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah Ma’alim Al Inthilaqatil Kubra, Abdul Hadi Al Mishri)

  1. Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamah tentang sifat-sifat Allah : Itsbat bila takyif (menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menanyakan bagaimananya) dan mensucikan sifat-sifat-Nya tanpa mengingkarinya.
  2. Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan aqidah mereka tentang Al Qur’an, bahwa Al Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluq.
  3. Ahlus Sunnah wa l J ama ah bersepakat bahwa orang-orang mukmin dapat melihat Rabbnya di syurga dengan kedua mata mereka.
  4. Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah tidak bisa dilihat oleh siapapun di alam dunia ini.
  5. Mengimani semua berita keadaan setelah mati yang disampaikan Rasulullah SAW.
  6. Mengimani qadar Allah dengan segala tingkatannya.
  7. Ahlus Sunnah berpendapat bahwa man adalah ucapan, dan perbuatan. Dapat bertambah dan berkurang.
  8. Ahlus Sunnah meyakini bahwa iman mempunyai ashl (pokok) dan furu’ (cabang), iman seseorang tidak terlepas kecuali dengan terlepasnya pokok keimanan.
  9. Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersepakat terhadap kemungkinan berkumpulnya antara siksa dan pahala pada diri seseorang. Namun, mereka tidak mewajibkan siksa atau pahala pada orang tertentu kecuali dengan dalil khusus.
  1. 10.Ahlus Sunnah wal Jama’ah mencintai dan mendukung sahabat Rasulullah, ahlul bait, dan isteriisteri beliau tanpa meyakini adanya kema’shuman terhadap siapapun kecuali Rasulullah.
  2. 11.Ahlus Sunnah wal Jama’ah mempercayai adanya karomah para wali Allah dan kejadian-kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada mereka.
  3. 12.Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersepakat untuk memerangi siapapun yang keluar dari syari’at Islam, sekalipun ia mengucapkan dua kalimat syahadat.
  4. 13.Ahlus Sunnah wal Jama’ah berperang bersama pemimpinpemimpin mereka, baik pemimpin yang baik maupun pemimpin yang maksiat, demi menegakkan syari’at Islam.

II.CIRI-CIRI KHUSUS AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Ahlus Sunnah wal Jamaah mempunyai ciri-ciri khusus yang berbeda dengan firqah-firqah sesat, di antaranya adalah : ( lihat Ma’alim Al Inthilaqatil Kubra dan Al Mausuu’ah Al Muyassarah fil Adyan wal Madzaahib )

  1. Selalu menaruh perhatian terhadap Al Qur’an dengan cara menghafal, membaca, dan menelaah tafsirnya. Begitu juga terhadap Al Hadits dengan cara mengetahui yang shahih dari yang dhaif. Karena keduanya adalah merupakan Masdarut Talaqi.
  2. Masuk ke dalam dienul Islam secara keseluruhan. ( Mempelajari ,memahami dan mengamalkannya di kehidupan sehari-hari )
  3. Berittiba’ ( mengikuti ) kepada Rasulullah SAW dan meninggalkan bid’ah serta selalu berjamaah dan meninggalkan firqah dan segala perselisihan dalam dien.
  4. Meneladani para Imam yang mendapat petunjuk dan adil. Yang selalu diteladani dalam masalah ilmu, amal, dan da’wahnya, yaitu para sahabat dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.
  5. At Tawasuth (pertengahan). Dalam masalah aqidah, mereka berada di pertengahan antara golongan yang bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dan tafrith (menganggap remeh).
  6. Selalu berusaha untuk menyatukan kalimat kaum muslimin dalam kebenaran dan menyatukan shaf mereka dalam barisan tauhid dan ittiba’ serta menjauhkan diri dari sarana yang mengarah kepada perselisihan dan perpecahan di antara ummat.
  7. Melaksanakan dakwah ilallah (mengajak kepada, untuk, karena Allah) dalam segala bidang baik aqidah, ibadah, akhlaq, dan segala permasalahan hidup. Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, berjihad di jalan Allah, menghidupkan sunnah dan menegakkan hukum Allah di muka bumi.
  8. Bersikap inshaf dan adil .
  9. Ahlus Sunnah memikul amanat ganda: pertama adalah amanat ilmu berupa iltizam (memegang teguh ad dien), dakwah, dan jihad; sedang yang kedua adalah amanat untuk memelihara keutuhan jamaah Islam dalam pengertian yang luas.
  1. 10.Loyalitas Ahlus Sunnah hanya dalam kebenaran
  2. 11.Saling memberikan loyalitas kepada sesama mereka dengan loyalitas secara umum dan saling memaafkan.
  3. 12.Dalam memberikan dukungan dan permusuhan adalah berdasarkan prinsip ad dien.
    13.Ahlus Sunnah beramal berdasarkan kesatuan hati dan kesamaan kalimat.

I I I .TOKOH-TOKOH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Mereka adalah para sahabat – yaitu yang beriman terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW, pernah melihat beliau, dan mati dalam keadaan Islam-, para tabi’in, atbaa’ut taabi’in dan juga orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka serta mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.

Di antara tokoh-tokoh sahabat adalah: para Khulafaaur Rasyidin, sepuluh orang yang sudah dijamin masuk jannah, Ahlul Badar, Ahlu Uhud, dan Ahlu Bai’atur Ridwan. Di antara tokoh-tokoh tabi’in: Uwais Al Qarny, Said bin Al Musayyib, Urwah bin Az Zubair, Saalim bin Abdullah bin Umar, Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud, Muhammad bin Al Hanafiyyah, Ali bin Al Hasan Zainal Abidin, Al Qaasim bin Muhammad bin Abi Bakar As Shidiq, Al Hasan Al Bashary, Muhammad bin Sirrin, Umar bin Abdul Aziz, dan Muhammad bin Syihab Az Zuhri. Sedangkan di antara tokoh-tokoh Atbaa-ut Tabi’in adalah: Malik bin Anas, Al Auzaa’iy, Sufyan Ats Tsauri, Sufyan bin Uyainah, dan Allaits bin Sa’id.

Kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, di antara tokoh-tokohnya adalah: Abdullah bin Mubarak, Waki’, As Syafi’i, Abdurrahman bin Mahdiy, dan Yahya bin Sa’id Al Qathan. Kemudian para murid mereka yang mengikuti manhaj mereka, di antara tokoh-tokohnya adalah: Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, dan Ali bin Al Madaniy. Kemudian murid-murid mereka di antaranya adalah: Al Bukhary, Muslim, Abu Hatim, Abu Zur’ah, At Tirmidzi, Abu Daud, dan An Nasa’i.

Kemudian orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka, selanjutnya dari generasi-generasi yang menyusul mereka seperti: Ibnu Jarir At Thabariy, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Qutaibah, Al Khatib Al Baghdadiy, Ibnu Abdil Bar, Abdul Ghanny Al Maqdisy, Ibnu As Shalah, Ibnu Taimiyyah, Al Mizzy, Ibnu Katsir, Ad Dzahabiy, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, dan Ibnu Rajab Al Hanbaliy.

Kemudian orang yang menyusul mereka dan mengikuti jejak langkah mereka dalam berpegang teguh kepada Al Kitab dan As Sunnah dan memahaminya dengan pemahaman para sahabat sampai datangnya hari kiamat. Dan orang yang terakhir dari mereka memerangi Dajjal (Lihat: Al Baa’itsul Hatsits, hal. 173-174, Limaadza ikhtartu Manhajas Salaf, edisi terjemahan, hal. 77-78 ). Mereka itulah yang disebut dengan As Salaf Ahlul Hadits. Wallahu A’lam bis Shawwab.

(Maktabah Nidaul Jihad )

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: