Skip to content

AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH (3)

August 5, 2009

I. DEFINISI AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Seperti telah dijelaskan, Sunnah merupakan ungkapan kesetiaan mengikuti manhaj Al Qur’an dan Sunnah dalam segala dimensinya, baik yang prinsipil maupun yang bukan prinsipil (furu’).

Sedang kata Jama’ah berarti orang-orang yang berkumpul. Tapi yang dimaksud dengan jama’ah dalam terminologi syari’at Islam adalah Rasulullah SAW, para sahabatnya, para tabi’in, dan semua generasi yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Rasulullah SAW telah ditanya tentang siapakah yang termasuk ‘golongan yang selamat’. Maka beliau terkadang menjawab: “Yang mengikuti aku dan para sahabatku”, tapi di lain waktu beliau menjawab: “Al Jama’ah.”

Dengan demikian maka yang dimaksud “Ahlus Sunnah wal Jama’ah’ sebagai kata majemuk adalah orang-orang yang mengikuti aqidah Islam yang benar, komitmen dengan manhaj Rasulullah SAW bersama para sahabat, tabi’in, dan semua generasi yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah kamu berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang lurus sesudahku, gigitlah ia dengan gigi gerahammu.” (H.R. Imam Ahmad, Musnad Imam Ahmad, vol. IV, hal. 126-127.).

II. SEBAB PENAMAAN AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Menurut Ibnu Taimiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah madzhab yang sudah ada sejak dulu. Ia sudah dikenal sebelum Allah menciptakan Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Ahlus Sunnah adalah madzhab sahabat yang diterima dari Nabi mereka yaitu Muhammad SAW. Barang siapa menentang itu, menurut pandangan Ahlus Sunnah berarti ia pembuat bid’ah.(Minhajus Sunnah , II/482)

Ahlus Sunnah wal Jamaah merupakan kelanjutan dari jalan hidup Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Kalaupun bangkit seorang imam- pada zaman fitnah dan keterasingan Ahlus Sunnah- yang menyeru manusia kepada aqidah yang benar dan memerangi pendapat yang menentangnya, maka ia tidaklah membawa sesuatu yang baru. Ia hanya memperbaruhi madzhab Ahlus Sunnah yang sudah usang dan menghidupkan ajaran yang sudah terkubur. Sebab aqidah dan sistemnya (manhaj) walau bagaimanapun tak akan pernah berubah.

Dan jika pada suatu masa atau disuatu tempat terjadi penisbatan madzhab Ahlus Sunnah terhadap seorang Ulama’ atau mujaddid (pembaharu), maka hal itu bukan karena ulama tersebut telah menciptakan sesuatu yang baru atau mengada-ada. Pertimbangannya semata-mata karena ia selalu menyerukan manusia agar kembali kepada As Sunnah.

Adapun mengenai awal penamaan Ahlus Sunnah wal Jamaah atau Ahlul Hadits ialah ketika terjadinya perpecahan dengan munculnya berbagai golongan sesat serta banyaknya bid’ah dan penyimpangan. Pada saat itulah Ahlus Sunnah menampakkan identitasnya yang berbeda dengan yang lain, baik dalam aqidah maupun manhaj mereka. Namun pada hakekatnya, mereka itu hanya merupakan proses kelanjutan dari apa yang dijalankan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Al Isfirayaini menyebutkan bahwa dinamakan Ahlus Sunnah karena mengikuti jalan/petunjuk/Sunnah Rasulullah. Nama tersebut sebagai pembeda dari firqah-firqah sesat yang menyimpang dari apa yang telah dituntunkan oleh Rasulullah SAW dan sudah tersebar luas ketika itu.

III. NAMA-NAMA LAIN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

  1. AHLUL HADITS

Hadits adalah ucapan Rasulullah SAW . Ahlul Hadits adalah orang-orang yang dinisbatkan kepada orang yang menjadikan hadits Rasulullah SAW sebagai salah satu sumber penerimaan Aqidah Islam yang benar. Dalam hal ini sama saja apakah mereka itu Ulama Hadits atau Ulama Fikih atau Ulama Ushul Fikih atau orang-orang yang zuhud atau lainnya.

Penamaan mereka sebagai Ahlul Hadits dimaksudkan untuk membedakannya dengan Ahlul Kalam yang menganggap bahwa kalam mereka harus didahulukan atas hadits Rasulullah SAW dalam bidang aqidah. Alasannya hadits itu hanya memberikan indikasi yang bersifat hipotesis (zhanni)’ sedang akal mereka memberi indikasi yang bersifat yakini (mutlak), dan yang dituntut dalam masalah aqidah adalah yang bersifat yakini (mutlak). Dengan demikian hadits-hadits Rasulullah SAW dalam bidang aqidah sama sekali tidak berguna.

Ahlul Hadits semakna dengan Ahlus Sunnah, artinya mereka ini kelompok umat Islam yang paling berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah dan Jama’ah. Karenanya Imam Ahmad mengatakan: “Kalau mereka (Jama’ah) itu bukan Ahlul Hadits, saya tidak tahu lagi siapa mereka itu.” Imam Abu Ismail Ash Shabuni dalam kitab beliau yang berjudul Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits, menyatakan: “…Mereka itu mengikuti Nabi SAW dan para sahabat beliau yang mereka itu laksana bintang. Mereka mengikuti salafus shalih dari kalangan imam-imam dalam dien ini dan ulama kaum muslimin dan berpegang teguh dengan apa yang para ulama berpegang teguh padanya, yaitu dien yang kuat dan kebenaran yang nyata dan membenci ahlul bid’ah yang membuat bid’ah dalam dien, tidak mencintai mereka dan tidak pula bersahabat dengan mereka.” (Ahlus Sunnah Wal Jamaah Ma’alim Al Inthilaqatil kubra, hal: 54)

  1. AHLUL ATSAR

Secara bahasa Kata Atsar maknanya bekas, sisi, atau pengaruh. Secara Syar’i

Ada dua pendapat dalam hal ini :

-            Mayoritas ulama mengatakan bahwa hadits, sunnah, dan atsar itu maknanya sama.

-            Ulama Khurasan menyebutkan bahwa atsar khusus untuk perkataan dan perbuatan sahabat dan tabi’in. Sedang untuk Nabi, mereka menyebutnya dengan hadits atau sunnah.

Namun demikian pendapat mayoritas ulama lebih kuat, dikatakan: ‘Atsartu hadiitsan’, artinya: aku meriwayatkan sebuah hadits (Tadribur Rawi jilid VI/109).

Pendapat ini juga dikuatkan oleh Al Iraqi dan Ibu Hajar.

Maka dalam hal ini, Ahlus Sunnah sering juga disebut dengan Ahul Atsar. Ahlus Sunnah disebut dengan Ahlul Atsar karena mereka mengikuti atsar-atsar yang diriwayatkan dari Rasulullah dan para sahabat.

  1. SALAF

Secara Bahasa

Ibnu mandur berkata : “Salaf merupakan jamak dari kata salif. Salif artinya orang yang terdahulu sesuai urutan waktu (pendahulu, nenek moyang). Salaf artinya jama’ah (kelompok pendahulu). Salaf juga bermakna para pendahulu dari bapak-bapakmu dan kerabatmu yang secara umur dan kemuliaannya lebih tinggi darimu.

Secara Syar’i

Para ulama menyatakan bahwa makna salaf tidak jauh dari makna sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dari kalangan para ulama, dan imam terpercaya yang telah diakui keilmuan dan ittiba’nya terhadap Al Qur’an dan As Sunnah. Yaitu para ulama yang tidak terkena tuduhan bid’ah baik bid’ah mufassiqah ataupun mukaffirah (Al Madkhal Lidirasatil Aqidah Al Islamiyyah, hal: 14 )

Abdul Hadi Al Mishri berkata : « Salaf berarti istilah yang dipakai untuk para imam terdahulu dari tiga generasi pertama yang diberkahi dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in yang disebutkan dalam hadits Rasulullah : « Sebaik-baik generasi adalah… » Setiap orang yang beriltizam dengan aqidah, fikih, dan ushul (pokok-pokok pegangan) para ulama tadi maka ia dinisbahkan kepada salaf juga, sekalipun antara ia dengan mereka ada perbedaan ruang dan waktu. Sebaliknya setiap yang menyelisihi mereka tidak disebut sebagai salaf sekalipun ia hidup di tengah-tengah mereka dan dikumpulkan oleh ruang dan waktu yang sama. »

  1. FIRQAH NAJIYAH (Golongan yang Selamat)

Selain Ahlus Sunnah, Ahlul Hadits, Ahlul Atsar, dan salaf; Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga sering disebut dengan Firqah Najiyah, didasarkan pada hadits-hadits yang menerangkan akan pecahnya umat Islam menjadi 73 golongan, di mana 72 golongan akan tersesat dan yang selamat (najiyah) hanya satu saja yaitu ‘ma ana ‘alaihi wa ash-habi’ (apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya – jama’ah dengan artian ilmu (mengikuti kebenaran), Ahlus Sunnah – dan dalam lafal lain disebutkan ‘Jama’ah’

(Ma’alim Al Inthilaqatil Kubra, hal :58-62 )

  1. THAIFAH MANSHURAH (Kelompok yang Menang, Ditolong Allah)

Nama lain dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah adalah Thaifah Manshurah. Banyak hadits-hadits yang menyebutkan hal ini.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah yang diriwayatkan oleh sahabat Mughirah dari Nabi bahwa beliau bersabda: “Akan senantiasa ada manusia dari umatku yang menang (berada di atas kebenaran – pent) sampai datang kepada mereka urusan (keputusan) Allah sedang mereka dalam keadaan dhahirin (menang).” 3

Golongan yang mendapat pertolongan sebagaimana yang disebut dalam hadits-hadits Rasulullah SAW adalah golongan pejuang dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang memang layak untuk memperoleh pertolongan Allah, baik secara moral maupun material. Pertolongan Allah itu misalnya: ilmu yang shahih, perilaku yang lurus terhadap sunnah-sunnah Allah di alam semesta, serta melaksanakan hal-hal yang dijadikan Allah sebagai wasilah untuk mencapai hasil yang diharapkan. Jika tidak, atau jika hanya sekedar iman dan mengikuti aqidah Ahlus Sunnah tanpa menjalankan hal-hal yang bisa mendatangkan kemenangan serta tanpa menjalankan sunnah-sunnah Allah di alam semesta – dengan tidak melebihkan seseorang atas selainnya – maka Allah tidak akan menjamin pertolongan, kemenangan, dan kekuasaan di muka bumi, sebagaimana telah dijanjikan-Nya buat hamba-hamba-Nya yang shaleh dan ikhlash.

Maka jelaslah bahwa golongan yang mendapat pertolongan itu adalah golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Golongan ini selalu melaksanakan fikih yang shahih yang mengacu pada Salaf dan para Imam. Golongan ini senantiasa menjalankan hal-hal yang bisa mendatangkan kemenangan sehingga sudah selayaknya Allah memberi mereka pertolongan. Mereka juga sama sekali tidak mempedulikan orang-orang yang menentang, meremehkan, atau merendahkan mereka.

(Maktabah Nidaul Jihad)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: